Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM– Menghadapi kenyataan itu, Paus Clement XII pun segera melarang umat Katolik menjadi anggota Freemason dengan mengancam menjatuhkan sanksi ekskomunikasi, mengeluarkan mereka dari agama Katolik.
Soalnya, ada ketakutan yang berkembang luas bahwa seperti para Knight Templars, umat Katolik pun mungkin membentuk negara di dalam negara.
Dua tahun sebelum pemberontak Young Pretender meledak, Chevalier Ramsay meninggal dunia. Ini sangat menguntungkan baginya, karena banyak pengikut Jacobit menemui ajal mereka dalam petualangan yang gagal itu.
Bagaimanapun, warisan pemikirannya dilimpahkan kepada Karl Gotthelf, Baron von Hundt yang kembali menghidupkan Orde Kuno Temple di Jerman. Namun, semua harapan Stewart padam setelah orde ini kalah di Culloden akibat penggarongan yang dilancarkan kaum Highlands.
Catatan harian Hundt mengungkapkan bahwa pada 1742, dia dibait menjadi anggota Orde Templar di Paris, di hadapan Lord Kilmarnock. Namun beberapa saat kemudian dia hendak dieksekusi mati Inggeris karena pengkhanatannya.
Dia pun mengatakan bahwa dia kemudian menemui Pangeran Charles Edward Stewart, sang Young Pretender. Von Hundt sebetulnya penganut Protestan serta anggota Mason. Namun, dia menghidupkan kembali ordo tua itu, yang ditandatanganinya atas nama dua belas pangeran Jerman, di bawah pimpinan Duke of Brunswick, agar bergabung dalam lembaga yang baru saja kembali muncul itu.
Kebangkitan kembali ini ditentang oleh ordo penentang dari Swedia, yang juga menjalankan Ritus Skotlandia Kuno Young Pretender seperti diajarkan kepada Raja Gustaf III dari Swedia.
Jejaring kaum Jacobit terpelihara baik di bagian timur Eropa terlepas dari bagaimanapun benarnya skisma terjadi. Karya awal Nikolas de Bonneville selama Revolusi Perancis membuktikan pentingnya Ritus Skotlandia Kuno.
Baginya, “rahasia para anggota Freemason dijelaskan oleh sejarah para Knight Templars.”
Dia pun mengisahkan upacara rahasia, termasuk pertukaran darah lewat ujung pedang untuk pembaitan, kemudian digunakan di tempat-tempat pembinaan Ritus Swedia kuno.
Anggota baru Mason menerima celemek dan sarung tangan putih, warna yang mirip dengan milik para biarawan Cistercian serta para anggota Templar.
Tiga pilar Masonry adalah Jachin, Boaz dan Mac-Bens membentuk inisial JBM atau Jacq. Burg. Molay, yaitu nama Grand Master terakhir orde tersebut yang dijadikan syuhada.
Mac-Benac juga merupakan nama samara dari Aumont, pemimpin Templar para ksatria yang berhasil melarikan diri ke Skotlandia.
De Bonneville juga mengakui bahwa para anggota Templars menyembah Allah atau Pencipta Ilahi dan Mahatahu yang esa seperti juga kaum Muslim. Kenyataan ini menyebabkan kecaman mereka benar-benar salah, karena menyangkal keilahian Yesus yang dipaku di Salib.
Dia bahkan juga berbicara tentang tradisi rahasia di antara para Templar bahwa sebelum menaklukan Yerusalem, Saladin yang agung diterima menjadi anggota para ksatria oleh Ksatria Hugo dari Tiberias.
Teriakan “Yah-Allah” merupakan pengakuan terhadap affinitasnya dengan Islam, sementara penyembahan kepala manusia mungkin muncul dari ritus Orphite Gnostik kuno yang melibatkan ular-ular naga penjaga surga Yunani, Taman Hesperides.
Di atas semuanya itu, upacara penyembahan patung kerangka dalam peti mati kaum Masonik diambilalih dari para Templar. Sedangkan kepala tengkorak yang dipisahkan merepresentasikan St. Johanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya.
Bagaimanapun, bagi kaum radikal masa itu, penerapan paling penting dari prinsip kaum Templar adalah melalui Frederikus Agung, yang kala itu menjadi Putra Mahkota Prusia.
Berkat Voltaire, dia tertarik menghidupkan kembali ordo Knight Templar sebagai sarana melakukan tindakan subversi terhadap persekutuan Perancis–Austria yang melawan kerajaannya.
Pada 1761, dia diakui sebagai pemimpin Eropa atas Ritus Kuno Skotlandia. Pada gelar ketigapuluh kebangkitan kembali Ordo Templar, Ksatria Kadosch, para ksatria memanggul salib Teutonic sementara tahta dilingkupi elang berkepala dua Prusia.
Pada puncak gelar ketigapuluh tiga, Panglima Agung Berdaulat Penuh, Frederick mengenakan permata burung pemangsa berkepala dua, seperi juga dikenakan letnannya, duc d’ Orleans, Guru Agung dari Kawasan Timur Agung dan pencipta intrik dalam Revolusi yang bakal meledak.
Bagi Chevalier de Ramsey, pencerahan pikiran menuju kebenaran universal sangat penting untuk membangkitkan kembali Templars.
“Semua Guru Agung di Jerman, Inggeris, Italia dan di manapun memuji semua orang terpelajar dan semua seniman Persaudaraan untuk bersatu padu menyiapkan bahan bagi sebuah Kamus Umum semua seni liberal dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, kecuali teologi dan politik.”
Dua pengecualiannya ini diabaikan oleh para pengarang Ensiklopedia, dan menjadi inspirasi Revolusi Prancis. Para Freemason selalu merinci organisasi tempat pembinaan mereka dan Ensiklopedia sebagai benih kejatuhan dinasti Bourbon. Pada Kongres Grand Orient pada 1904, anggota Freemason, Bonnet mengatakan,
Kemerdekan, persamaan hak dan persaudaraan. Bibit Revolusioner menular cepat antarpara anggota elit Freemason kenamaan ini. D’Alembert, Diderot, Helvetius, d’Holbach, Voltaire, Condercet menyempurnakan evolusi pemikiran guna mempersiapkan era baru.
Ketika Penjara Bastille jatuh, Freemansory mendapat kehormatan tertinggi, karena memberikan kepada manusia piagam (Pernyataan Hak-Hak Asasi Manusia), yang dijabarkan dengan sungguh-sungguh. (Bersambung)

















