Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Milyuner Kehilangan Rp1.000 T Setelah Trump Umumkan Tarif Baru

badge-check


					Kebijakan tarif Donald Trump guncang dunia Perbesar

Kebijakan tarif Donald Trump guncang dunia

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Kebijakan baru Donald Trump berdampak pada Bursa Wall Street jeblok dan mencatat kinerja terburuk sejak krisis pandemi Covid-19 pada 2020.

Kebijakan baru itu juga berdampak pada berbagai pengusaha di Amerika Serikat (AS) yang kehilangan kekayaannya secara akumulatif mencapai Rp 1.000 triliun usai pengumuman tarif baru AS.

Melansir Forbes, per Jumat (4/4/2025), harta Elon Musk pemilik Tesla dan SpaceX terjun hingga US$ 8,7 miliar setara Rp 132,4 triliun (asumsi kurs Rp 16.560 per US$).

Ditambah, harta Jeff Bezos pemilik Amazon yang menurun hingga US$ 16 miliar setara Rp 264,9 triliun. Ada pula harta Mark Zuckerberg menurun hingga US$ 17,9 miliar setara Rp 296,4 triliun.

Diikuti oleh penurunan harta Larry Ellison sebesar US$ 9,9 miliar setara Rp 163,9 triliun, juga Warren Buffet yang hartanya terjun hingga US$ 2,5 miliar setara Rp 41,4 triliun.

Belum lagi, Bernard Arnault & Family, Larry Page, dan Sergey Brin yang juga menurun jumlah hartanya usai diberlakukannya kebijakan baru AS.

Bursa saham AS Jeblok

Penurunan harta kekayaan konglomerat dunia tersebut seiring dengan bursa saham dunia ambruk setelah Presiden Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan baru tarif ke 180 negara. Tarif ini dikhawatirkan meningkatkan risiko perang dagang global yang dapat menjatuhkan ekonomi ke dalam jurang resesi.

Dari bursa AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Indeks S&P jeblok 274,45 poin atau 4,84% dan ditutup di 5.396,52. Penutupan kemarin menjadi hari terburuk sejak Juni 2020 atau awal pandemi Covid-19.

Dow Jones Industrial Average anjlok 1.679,39 poin, atau 3,98%, ke 40.545,93. Pergerakan ini juga menandai sesi terburuknya sejak Juni 2020.

Nasdaq Composite merosot 5,97% dan berakhir di 16.550,61, mencatat penurunan terbesar sejak Maret 2020.

Penurunan di seluruh ekuitas terjadi di hamper semua saham dan sektor, dengan lebih dari 400 konstituen S&P 500 mengalami kerugian.

Kinerja S&P 500 kemarin juga menjadi level terendah sejak sebelum kemenangan pemilu Trump pada 5 November 2024. Indeks acuan ini sudah jeblok 12% dari rekor penutupannya yang dicapai pada Februari.

Bursa Wall Street jeblok sejalan dengan ambruknya saham perusahaan multinasional.

Nike dan Apple masing-masing turun 14% dan 9%. Catatan ini menjadi sinyal jika perusahaan besar yang menjual barang impor mengalami pukulan paling keras.

Five Below jatuh hampir 28%, Dollar Tree anjlok 13%, dan Gap merosot 20%. Saham teknologi juga turun dalam suasana pasar yang menghindari risiko, dengan Nvidia turun hampir 8% dan Tesla lebih dari 5%.

Trump pada Kamis kemarin mengumumkan jika AS akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua negara mulai 5 April. Tarif yang lebih besar akan diberlakukan kepada negara-negara yang memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap AS akan dikenakan dalam beberapa hari mendatang.

Pada Kamis,Trump mengatakan dan membandingkan kejatuhan pasar serta, penerapan tarif dengan “sebuah operasi, seperti ketika seorang pasien dioperasi.”

“Pasar akan melonjak. Saham akan melonjak. Negara akan melonjak. Dan seluruh dunia ingin melihat apakah ada cara mereka bisa membuat kesepakatan,” kata Trump dikutip dari CNBC International.

Sejumlah analis mengingatkan tarif Trump masih akan berdampak ke depan.

“Ini adalah skenario terburuk untuk tarif dan [hal ini] belum diperhitungkan pelaku pasar, itulah mengapa kita melihat reaksi penghindaran risiko yang begitu besar,” kata Mary Ann Bartels, Kepala Strategi Investasi di Sanctuary Wealth, kepada CNBC International.

“Pertanyaan besar adalah apakah S&P 500 bisa bertahan di level 5.500. Jika tidak bisa bertahan, kita mungkin melihat penurunan lain sebesar 5-10%, yang bisa mengarah ke level terendah 5.200-5.400.” imbuhnya.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Bill Gates Peringatkan, AI Dapat Membuat Bencana Ekonomi

28 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Ratu Suthida Bikin Sejarah, Jalani Latihan Solo dengan Jet Tempur JAS 39 Gripen

27 Agustus 2026 - 19:08 WIB

Era Baru Robotika: Ketika Kecepatan Lari Robot Salip Rekor Usain Bolt

23 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Ilmuwan Tiongkok Menciptakan Berlian yang Tak Bisa Dihancurkan

19 Agustus 2026 - 21:42 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Kereta Cepat Tiongkok Pecahkan Rekor Akselerasi dari 0 hingga 800 km/jam dalam 5 detik

16 Agustus 2026 - 18:47 WIB

PM Australia Minta Maaf karena Mengatakan Akan ‘Berhubungan Seks’ dengan Kylie Minogue

7 Juli 2026 - 19:22 WIB

Dr Lee Woo Guan: Robot dan Kecanggihan Teknologi Hanya Membantu, Peran Dokter Tetap Nomor Satu

28 Juni 2026 - 12:29 WIB

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Trending di Internasional