Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Warganet Sambat, Siang Malam Kini Terasa Panas, Ini Kata BMKG

badge-check


					Suhu panas segera berakhir Perbesar

Suhu panas segera berakhir

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Sejumlah warganet di media sosial X (Twitter) mengeluhkan (sambat) suhu panas dan cuaca terik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Mereka menyebut, udara terasa gerah sepanjang hari, bahkan pada pagi dan malam hari yang biasanya lebih sejuk.

Pengguna akun X @tany****** misalnya, pada Senin (13/10/2025) menulis, “GUYS KALIAN MERASA GK, HARI INI PANAS BGT, JAM 6 KELUAR MOTORAN KAGET BGT KYK UDAH JAM 9??! SAMPE SILAU KARENA BERHADAPAN DGN MATAHARI. Ini buminya berputar kecepetan atau jam sender yg terlambat ya”.

“Bener banget, ini kemarin di Bekasi jam 10-an udah secerah ini. Panasnya edannnnn, berasa ada 10 matahari,” tulis akun X @Ziol*****, yang mengeluhkan hal serupa.

Sementara akun @matcha******** menuturkan, udara panas bahkan terasa sejak dini hari.

“Asliii, tadi subuh jogging berharap dapet udara seger ternyata enggak???? soalnya subuh-subuh udah panas banget,” tulisnya.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan suhu udara yang terasa panas dalam beberapa waktu terakhir, bahkan pada pagi dan malam hari, disebabkan oleh masa peralihan musim atau pancaroba.

“Beberapa wilayah Indonesia belakangan ini mengalami suhu udara yang terasa lebih terik, bahkan di pagi dan malam hari. Fenomena ini erat kaitannya dengan masa peralihan musim atau pancaroba, dari kemarau menuju musim hujan,” ujarnya saat dimintai informasi Kompas.com, Senin.

Ia menuturkan, pemanasan permukaan Bumi yang kuat turut memperparah kondisi udara panas tersebut.

Pada pagi hingga siang hari, sinar Matahari memanaskan permukaan Bumi secara intens.

Karena langit cenderung cerah berawan, kata Guswanto, radiasi Matahari tidak terhalang oleh awan tebal. Akibatnya, suhu udara meningkat secara signifikan.

“Pemanasan ini memicu pembentukan awan konvektif, terutama awan cumulonimbus (Cb), yang kemudian dapat menyebabkan hujan lokal dengan intensitas sedang hingga lebat pada sore hingga malam hari,” jelasnya.

Lebih lanjut, Guswanto menjelaskan, berdasarkan prediksi BMKG, bulan Oktober merupakan masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.

Periode pancaroba atau masa transisi ini diperikirakan berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia hingga 16 Oktober 2025.

“Pola cuaca menjadi tidak menentu, siang hari terasa panas ekstrem, sore hari turun hujan deras, dan malam hari masih terasa hangat karena kelembapan udara yang tinggi,” ujarnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS Catat Harga Cabai di Jatim Turun Tajam, Rawit Merah Kini Rp45 Ribu per Kg

30 Oktober 2026 - 19:22 WIB

BMKG Ungkap Musim Hujan di Jawa Timur akan Berlangsung Selama Empat Bulan Saja

30 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Gubernur Khofifah Buka 4.807 Lowongan Kerja di Job Fair Inklusif 2026

29 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Menkomdigi: Jika Internet Dipotong, 80 Persen Konektivitas Singapura Lumpuh

28 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Rupiah Rp18.183/US$ Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Kata BI

28 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Meriahkan Operasi Patuh Semeru 2026 Satlantas Polres Gresik Bagikan Cokelat

28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Pemkab Gresik Lakukan Seleksi Sertifikasi BNSP Pelaku Kuliner

28 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Catat, Daftar Rute dan Kota Tujuan Mudik Gratis Nataru

27 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Mendadak Menlu Singapura Vivian Balakrishnan, Kunjungi Jakarta

27 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Trending di Nasional