Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

BMKG Ungkap Musim Hujan di Jawa Timur akan Berlangsung Selama Empat Bulan Saja

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor; Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim penghujan di wilayah Jawa Timur akan berlangsung lebih singkat, yakni hanya empat bulan saja, terhitung sejak Desember 2026 hingga Maret 2027 mendatang.

Pendeknya durasi musim hujan tersebut karena terpotong oleh periode musim kemarau yang berlangsung lebih panjang atau mundur dua bulan dari perhitungan normal.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan menyebut meski musim hujan berlangsung relatif singkat, wilayah Jatim diprediksi tetap dilanda hujan berintensitas tinggi yang berpotensi memicu bencana di sejumlah daerah yang tergolong rawan.

Guna memitigasi dampak bencana hidrometeorologi, ia mengimbau pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan terkait harus melalukan persiapan dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi sejak dini, terutama di daerah-daerah yang memiliki kerentanan terhadap bencana.

“Karena curah hujannya sangat pendek. Ibaratnya, yang tadinya satu liter dengan takaran satu liter, sekarang takarannya menjadi kecil atau empat bulan,” beber Taufiq, Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan sejumlah daerah yang perlu melakukan mitigasi kebencanaan sejak dini antara lain adalah Malang, Bojonegoro, Jombang, dataran tinggi Nganjuk, hingga Banyuwangi. Taufiq mengatakan puncak musim hujan diprakirakan pihaknya terjadi pada Februari 2027.

“Puncak musim hujan dominan pada bulan Februari 2027,” tambah dia.

Taufiq mengatakan segenap langkah kesiapsiagaan bencana perlu disusun lebih awal melalui rapat koordinasi agar penanganan bencana dapat teratur dan berlangsung dengan baik untuk meminimalisir timbulnya korban maupun kerugian lainnya.

Melalui rapat koordinasi itu, setiap sektor diharapkan memiliki rekomendasi dan langkah kerja yang jelas dalam menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi memantik bencana hidrometeorologi.

Taufiq mencontohkan di sektor pertanian misalnya, strategi sesuai kondisi cuaca perlu untuk dipersiapkan. Sementara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi maupun kabupaten/kota dan relawan perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang dirisaukan terjadi.

Dengan persiapan lebih awal serta matang, pemerintah daerah diharapkan dapat merespons potensi bencana secara lebih terarah saat cuaca ekstrem mulai melanda Jawa Timur.

“Harus ada antisipasi, jangan sampai nanti kalau sudah kejadian, baru kita tersadar dan mencari pengarahan masing-masing,” kata dia.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PIHPS Catat Harga Cabai di Jatim Turun Tajam, Rawit Merah Kini Rp45 Ribu per Kg

30 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Gubernur Khofifah Buka 4.807 Lowongan Kerja di Job Fair Inklusif 2026

29 Oktober 2026 - 19:25 WIB

Menkomdigi: Jika Internet Dipotong, 80 Persen Konektivitas Singapura Lumpuh

28 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Rupiah Rp18.183/US$ Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Kata BI

28 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Meriahkan Operasi Patuh Semeru 2026 Satlantas Polres Gresik Bagikan Cokelat

28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Pemkab Gresik Lakukan Seleksi Sertifikasi BNSP Pelaku Kuliner

28 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Catat, Daftar Rute dan Kota Tujuan Mudik Gratis Nataru

27 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Mendadak Menlu Singapura Vivian Balakrishnan, Kunjungi Jakarta

27 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Kemnaker Resmi Buka Pendaftaran Magang Nasional Batch 3 Angkatan II 2026

27 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Trending di Nasional