Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Trump Usir Mahasiswa Asing Harvard, Nasib yang Bea Siswa?

badge-check


					Trump Usir Mahasiswa Asing Harvard, Nasib yang Bea Siswa? Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, CAMBRIDGE- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan mahasiswa asing di Universitas Harvard untuk segera pindah ke kampus lain. Jika tidak, izin tinggal mereka di AS akan dicabut.

Pemerintah AS juga melarang Harvard menerima mahasiswa asing, termasuk melalui jalur beasiswa. Kebijakan ini diumumkan Kementerian Keamanan Dalam Negeri, yang dipimpin Kristi Noem. Ia memerintahkan pencabutan sertifikasi Program Pertukaran Mahasiswa Harvard untuk tahun ajaran 2025-2026.

Dikutip dari Reuters, Noem menuding Harvard “mempromosikan kekerasan, antisemitisme, dan bekerja sama dengan Partai Komunis China”. Ia menambahkan, “Ini merupakan suatu privilese, bukan hak, bagi universitas untuk menerima mahasiswa asing dan mendapatkan keuntungan dari biaya kuliah yang lebih tinggi untuk membantu menambah dana abadi mereka yang bernilai miliaran dolar.”

Pihak Harvard mengecam keputusan itu sebagai kebijakan ilegal yang berdampak pada ribuan mahasiswa asing. Kampus tersebut menyatakan larangan ini berpotensi memicu pembalasan dari negara lain.

Langkah pemerintah ini memperuncing konflik antara pemerintahan Trump dan kampus-kampus elite Ivy League. Harvard menjadi target utama setelah menolak memberikan data visa mahasiswa yang diminta oleh Noem.

Saat ini terdapat sekitar 6.800 mahasiswa asing di Harvard, mencakup 27 persen dari total populasi mahasiswa. Pada 2022, pelajar asal China merupakan kelompok terbesar dengan 1.016 mahasiswa, disusul India, Korea Selatan, Inggris, Jerman, Australia, Singapura, dan Jepang.

Merespons larangan itu, Harvard menggugat pemerintah ke pengadilan federal. Dalam gugatannya, Harvard menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk pembalasan karena kampus menolak tuntutan pemerintah untuk mengontrol kurikulum, tata kelola, dan ideologi.

“Ini adalah langkah terbaru oleh pemerintah terkait balasan nyata kepada Harvard yang menggunakan hak-hak pada Amandemen Pertama,” bunyi gugatan seperti dilaporkan CNN.

Harvard meminta hakim memblokir perintah tersebut. Pengadilan Distrik Massachusetts kemudian menangguhkan kebijakan Trump. Dalam sidang Jumat waktu setempat, hakim Allison Burroughs menyatakan, “Pemerintahan Trump dilarang melaksanakan pencabutan sertifikasi SEVP milik penggugat.”

Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung pada 29 Mei mendatang.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pemerintah Siapkan Hadiah Rp1 Triliun bagi Pemprov dan Pemkab/ Pemkot Pendukung MBG Terbaik

29 Oktober 2026 - 14:58 WIB

Polres Jombang Ringkus 17 Pelaku Kriminal

29 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Wasev Sterad Mabes TNI Turun ke Klitih Plandaan Meninjau dan Evaluasi TMMD 130

29 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Yogya Mencekam, Sri Sultan Turun Tangan Temui Demonstran di Depan Polda Kamis Dinihari

29 Oktober 2026 - 07:35 WIB

Minyak Sawit RI Mengalir Sampai ke Israel Lewat Singapura Sejak 2023

28 Oktober 2026 - 18:52 WIB

Kunjungan Pasca Kebakaran, Bupati Warsubi Janjikan Pasar Cukir Bisa Dioperasikan sebelum Idul Fitri 2027

28 Oktober 2026 - 17:59 WIB

Pemkab Jombang Gelar Upacara Sumpah Pemuda, Ini Daftar Penghargaan Pemuda Berprestasi

28 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Truk Angkut 14 Sapi Tabrak Dua Truk, hingga Terguling di Perak Jombang

28 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Kinerja Disdikbud 2026, Wor Windari: Rerata Lama Sekolah di Jombang 9,15 Tahun Lampaui Program Nasional

28 Oktober 2026 - 12:31 WIB

Trending di News