Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Pemujaan terhadap kepala suci bahkan lebih berdarah-darah dalam kisah romantis Welsh berjudul Peredur. Ketika menyaksikan Cawan Suci yang mengerikan diarak massa, Peredur melihat dua pemuda membawa tombak raksasa dengan tiga aliran darah mengalir sepanjang tombak itu dari pangkalnya mengucur ke lantai.
Semua penonton yang hadir menjerit sedih.
Kemudian, ‘dua pembantu wanita masuk, membawa baki besar dengan kepala seorang pria di atas nampan, berlumuran darah.
Kisah tentang perarakan Piala Suci itu sebetulnya merupakan ritus darah Bangsa Celtik, untuk mengenang kepala suci Bran, serta pemujaan kematian yang bersimbah darah dari Santo Yohanes Pembaptis.
Pada saat bersamaan, orang kafir dan Kristen pun mulai mempertanyakan keyakinan mereka.
Tombak raksasa itu sebetulnya menyimbolkan Holy Lance of Longginus, pedang raksasa Longginus, seorang tantara Romawi yang sembari berdiri di kaki salib merobek dada Yesus pada saat-sat kritis dan mengerikan sebelum wafatNya.
Sementara itu, nampan besar merepresentasikan Perjalanan Suci Perjamuan Terakhir.
Epos mengagumkan seputar serangan balasan Charlemagne menyerang bangsa Moor, The Song of Roland telah dinyanyikan pada masa Perang Salib Petama.
Epos ini memberikan wawasan kontemporer paling menarik dari temperamen para ksatria Jerman (Frankish) yang sombong, biadab, brutal.
Kisah itu membangkitkan kembali kenangan terhadap kekalahan perang Kekaisaran Romawi Suci atas kaum Ummaya di Spanyol serta penghancuran pasukan belakangnya oleh serangan Bangsa Basque di Roncesvalles yang diterjemahkan menjadi pembantaian heroik tentara Muslim dan pengorbanan seorang pahlawan serta syahid melalui pengkhianatan.
Epos legendaris ini dipadukan bersama sutra dan darah masa itu. Kisah itu merupakan pernyataan perang suci melawan Islam, ketika aksi ksatriaan agung dibatasi bagi para ksatria pada kedua belah pihak namun tidak ada belaskasihan bagi manusia yang lainnya.
Song of Roland meramalkan bencana yang akan melanda Kerajaan Yerusalem Kristen pada masa kemudian. Ramalan ini sebetulnya lahir dari pemikiran campur-aduk seputar perang salib itu sendiri yang dikecam karena oleh kebanggaan dan kelicikan para penguasa pasukannya yang sesungguhnya yang diutus bertugas menduduki Palestina.
Dalam romansa itu, pengikut Frank dianggap sebagai Umat Pilihan Allah, sedang musuh-musuh mereka dikutuk masuk neraka atau dibunuh dengan pedang kecuali jika mereka bertobat menjadi Kristen.
Ketika Charlemagne mencaplok Cordoba dan menghancurkan tembok-temboknya, sang penyair tentu saja memaknai dengan melukisakan bahwa ‘semua yang tidak beriman di kota itu telah dibantai. Atau ada yang bertobat menjadi Kristen.’
Kaisar Romawi yang Suci sendiri mengadakan persidangan pengadilan di taman agung atau surga sana, yang diciptakan oleh Raja Moorish, sementara ‘musuh Allah, yang melayani Nabi Muhammad dan Apollyon disholatkan.’
Pembantaian kaum tidak beriman yang menolak pertobatan dan dipaksa masuk Kristen diadvokasi sebagai strategi umum dalam perlawanan Eropa terhadap Islam.
Meninggal di perang suci berarti memasuki gerbang-gerbang surga bersama para malaekat pejuang sebagai penunjuk jalan. Ketika Pangeran Roland berdoa pada saat-saat terakhirnya untuk mengurangi dosanya, dia menawarkan kepada Allah cengkeh yang diharukan pada tangan kirinya sembari St. Gabriel mengambilnya.
Dan demikianlah dia wafat:
Kepadanya Allah mengirimkan malaekat dan kerubim
Bersama dengan Santo Mikhael dan Bahaya
Dan bersama mereka datang pula Santo Gabriel
Membawa roh Sang Pangeran naik menuju surga.
Seperti diperlihatkan oleh teks-teks yang penuh inspirasi ini, pembunuhan serta teror dapat diterima pada setiap tingkat perang suci awal ini.
Kematian dengan mutilasi jenasah sangat diharapkan jika seorang ksatria ditangkap dan tidak mampu membayar tebusan. Harga dari kekalahan dalam perang secara harafiah adalah kepalanya sendiri.
Dalam hukum shariat Islam Abad Pertengahan yang masih diterapkan oleh Taliban dan Saudi dicantumkan sanksi bagi pencuri atau pelaku pemerkosaan.
Pemotongan satu tangan atau kaki menjadi retribusi atas sejumlah tindakan yang dikatakan sebagai dosa. ***







