Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Life Style

Memuji Anak Tak Selalu Baik, Ini 5 Gaya Asuh dan Pengaruhnya pada Mental

badge-check


					Memuji Anak Tak Selalu Baik, Ini 5 Gaya Asuh dan Pengaruhnya pada Mental Perbesar

Penulis: Jayadi  |  Editor: Aditya Prayoga

SURABAYA, KREDONEWS.COM- Cara orang tua berinteraksi dengan anak setiap hari membentuk fondasi kesehatan mental mereka di masa depan. Riset psikologi menunjukkan bahwa gaya asuh memiliki dampak jangka panjang terhadap harga diri, kestabilan emosi, hingga kesuksesan anak saat dewasa.

Para ahli mengelompokkan pola pengasuhan ke dalam empat gaya utama, ditambah satu faktor penting yang kerap luput disadari orang tua: pujian berlebihan. Memahami gaya asuh bukan sekadar teori, tetapi langkah praktis untuk membangun hubungan yang sehat dan membantu anak tumbuh percaya diri.

1. Gaya Asuh Otoritatif (Demokratis): Tegas tapi Hangat

Gaya asuh ini dianggap paling ideal karena menyeimbangkan aturan dengan kasih sayang. Orang tua menetapkan standar yang jelas, namun tetap responsif terhadap kebutuhan emosional anak.

Ciri utama:

  • Kehangatan emosional melalui perhatian dan pujian yang tulus
  • Ekspektasi yang realistis dan sesuai usia
  • Komunikasi dua arah, anak diberi ruang menyampaikan pendapat

Dampak pada anak:
Anak tumbuh dengan harga diri yang sehat. Mereka merasa dicintai sekaligus mampu, percaya diri, mandiri, dan menghormati orang lain.

2. Gaya Asuh Otoriter: Keras dan Kaku

Pola ini menekankan kepatuhan mutlak dengan aturan ketat dan minim dialog. Anak dituntut patuh tanpa penjelasan.

Ciri utama:

  • Komunikasi satu arah
  • Aturan ditegakkan tanpa alasan
  • Hukuman lebih dominan daripada pujian
  • Kritik lebih sering daripada apresiasi

Dampak pada anak:
Anak cenderung memiliki harga diri rendah, takut salah, cemas, dan terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Di kemudian hari, mereka bisa menjadi perfeksionis yang tertekan atau justru memberontak.

3. Gaya Asuh Permisif: Serba Boleh

Orang tua sangat hangat dan penyayang, tetapi lemah dalam batasan dan disiplin. Mereka sering berperan sebagai teman, bukan figur otoritas.

Ciri utama:

  • Minim tuntutan dan tanggung jawab
  • Aturan longgar atau tidak konsisten
  • Anak dibiarkan mengatur dirinya sendiri sebelum siap

Dampak pada anak:
Anak bisa tampak percaya diri, namun harga dirinya rapuh. Mereka kesulitan mengendalikan diri, kurang mandiri, dan cenderung merasa berhak mendapatkan segalanya tanpa usaha.

4. Gaya Asuh Abai (Uninvolved/Neglectful): Tidak Terlibat

Ini merupakan gaya asuh paling merugikan karena minim kasih sayang dan minim aturan. Orang tua tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak.

Ciri utama:

  • Kurang perhatian pada perasaan dan aktivitas anak
  • Minim bimbingan dan arahan
  • Sering dipicu stres berat, depresi, atau kesibukan berlebih

Dampak pada anak:
Anak sering merasa tidak berharga dan tidak layak dicintai. Dampaknya bisa berupa masalah kepercayaan, kesulitan menjalin relasi, dan rendahnya kepercayaan diri hingga dewasa.

5. Bahaya Pujian Berlebihan

Pujian yang terlalu sering atau tidak realistis justru bisa berdampak negatif bagi mental anak.

Dampak yang bisa muncul:

  • Ketergantungan pada validasi orang lain
  • Takut gagal dan menghindari tantangan
  • Mudah menyerah saat menghadapi kesulitan
  • Merasa paling hebat tanpa usaha nyata
  • Tertekan untuk selalu tampil sempurna

Cara Memuji yang Membangun Mental Anak

Agar pujian berdampak positif, orang tua disarankan mengubah fokus pujian:

  • Hindari memuji bakat atau hasil semata
  • Fokus pada usaha, proses, dan sikap

Contoh:
“Ibu lihat kamu berusaha keras menyelesaikan PR ini, itu luar biasa.”
“Ayah bangga kamu mau berbagi, itu sikap yang baik.”

Pujian seperti ini membantu anak mengembangkan growth mindset, memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari belajar, dan kerja keras lebih penting daripada label pintar.

Riset menegaskan bahwa gaya asuh otoritatif memberikan fondasi terbaik bagi kesehatan mental anak. Namun, menjadi orang tua yang efektif adalah proses panjang, bukan tujuan instan.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan mulai hari ini:

  • Terapkan prinsip koneksi sebelum koreksi
  • Dengarkan anak secara aktif, meski hanya 15 menit sehari
  • Tetapkan batasan dengan nada penuh kasih
  • Jaga kesehatan mental orang tua agar mampu hadir sepenuhnya

Upaya kecil yang konsisten hari ini akan membentuk anak yang lebih percaya diri dan sehat secara emosional di masa depan.

Sumber: kidsmentalhealth.ca/how-parenting-styles-shape-your-childs-self-worth-research-based-insights/

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Fans Sepakbola Ini Disangka Produk AI Saking Cantiknya

26 Juni 2026 - 19:32 WIB

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Makanan Rusak saat Listrik Padam

24 Juni 2026 - 18:44 WIB

Facebook Dipenuhi Video Porno, Cukup Satu Kta Kunci Pencarian

24 Juni 2026 - 18:21 WIB

Presenter Piala Dunia ASAL Italia Ini Sosmednya Dibanjiri Ribuan Like

18 Juni 2026 - 19:47 WIB

Izabel Kovacic akan Panaskan Tribun Piala Dunia

17 Juni 2026 - 18:52 WIB

Fans Terseksi Piala Dunia Menurut Survei, Argentina Nomor Satu

16 Juni 2026 - 20:16 WIB

Meski Neymar Tak Bermain, Pacarnya Pamer Tubuh Seksi di Piala Dunia 2026

15 Juni 2026 - 20:01 WIB

Kecantikan Brasil Ciptakan Sensasi di Piala Dunia 2026

14 Juni 2026 - 19:28 WIB

Cara Aman Nikmati Piala Dunia 2026 Tanpa Merusak Kesehatan

12 Juni 2026 - 19:41 WIB

Trending di Life Style