Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Kesehatan Mental dan Fisik: Pandangan Dr. Ema

badge-check


					Kesehatan Mental dan Fisik: Pandangan Dr. Ema Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– dr. Ema Surya Pertiwi CCHt baru-baru ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik lewat unggahan di Instagram.

Ia menilai pengobatan medis konvensional kerap hanya menyoroti gejala fisik, tanpa menyentuh akar emosional yang sering menjadi pemicu penyakit kronis.

Menurutnya, dokter umumnya dilatih untuk mengandalkan farmakologi. “Selama ini sebagai dokter, aku diajarkan untuk memberikan obat membantu tubuh melawan penyakit,” ujarnya.

Namun, ia melihat adanya celah dalam praktik medis karena tekanan hidup—seperti masalah ekonomi, keluarga, atau trauma masa lalu—sering diabaikan.

Jika tidak diolah, emosi tersebut bisa menumpuk dan memengaruhi tubuh. “Yang tidak pernah dia proses, disimpan emosinya, itu lama-lama bisa tersimpan dalam tubuh dan menyebabkan penyakit,” jelasnya.

Emosi terpendam juga dapat memicu perilaku tidak sehat sebagai pelarian, seperti alkohol, merokok, begadang, atau menghabiskan waktu berjam-jam dengan gawai.

“Dan emosi tersebut juga bisa dilarikan ke perilaku tidak sehat seperti alkohol, merokok, begadang, scroll berjam-jam,” tambahnya.

Tanpa regulasi emosi, pengobatan medis hanya bersifat sementara karena perilaku buruk terus berulang. “Maka terus-menerus seseorang itu akan mengkonsumsi obat untuk membantu,” kata Dr. Ema.

Ia menekankan bahwa memahami cara pikiran menciptakan kebahagiaan sama pentingnya dengan memahami bagaimana pikiran bisa menimbulkan sakit.

Untuk menjaga kesehatan mental, ia mengingatkan agar setiap orang menyadari batas energi diri. “Ingat ya, aku bukan Avenger yang hadir dengan kekuatan super untuk menyelamatkan dunia,” ucapnya.

Salah satu langkah menjaga energi adalah berani membuat batasan sosial, termasuk mengabaikan komentar negatif. “Aku berhak kok menutup telinga dari omongan negatif tetangga,” tegasnya.

Dr. Ema menekankan bahwa aktivitas mental seperti menahan emosi dan berinteraksi sosial nyata-nyata menguras energi otak.

“Faktanya, untuk menahan emosi dan berpikir, otak juga membutuhkan energi,” jelasnya. Jika energi habis, seseorang akan mudah lelah, sensitif, dan sulit fokus.

Sebagai penutup, ia mengajak untuk lebih bijak mengalokasikan tenaga mental. “Jadi, daripada aku menghabiskan energi untuk hal yang sia-sia, lebih baik aku simpan untuk membahagiakan diriku sendiri dan orang yang tercinta.”.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Cara Buat WhatsApp Offline Padahal Online

20 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Lagu Ikonik Kebyar Kebyar Diciptakan saat Gombloh Kerokan

19 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Wajah Anak Tak Diekspos Mahalini Tuai Pro Kontra

18 Agustus 2026 - 21:08 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Siti Si Vampir Tayang Oktober 2026, Satine Zaneta Jadi Pemeran Utama

6 Agustus 2026 - 19:19 WIB

Lagu Terbaru No Na ‘honk!’ Buktikan Musik Indonesia Bisa Mendunia

3 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?

28 Juli 2026 - 20:09 WIB

Putri Kamboja Menciptakan Sensasi di Piala ASEAN 2026

26 Juli 2026 - 19:34 WIB

Drama di Balik Gol Juara Ferran Torres, Putus Cinta Jelang Final Piala Dunia

22 Juli 2026 - 18:31 WIB

Trending di Life Style