Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Gelembung Buih Mirip Gumpalan Busa Beterbangan di Langit Subang Jawa Barat

badge-check


					Inilah sejumlah foto warganet yang mengabadikan sebuah fenomena yang terjadi di langit Subangg, Jawa Barat, khususnya di kawasan Kecamatan Patokbeusi,  terjadi mulai dari hari Jumat, 24 Oktober 2025, Kemunculan busa juga dilaporkan masih terjadi hingga hari Senin, 28 Oktober 2025, pasca hujan dan membuat warga setempat heboh. Foto: kolase Perbesar

Inilah sejumlah foto warganet yang mengabadikan sebuah fenomena yang terjadi di langit Subangg, Jawa Barat, khususnya di kawasan Kecamatan Patokbeusi, terjadi mulai dari hari Jumat, 24 Oktober 2025, Kemunculan busa juga dilaporkan masih terjadi hingga hari Senin, 28 Oktober 2025, pasca hujan dan membuat warga setempat heboh. Foto: kolase

Penulis: Mayang Kresnaya Mahardhika      |      Editor: Priyo Suwarno

KREDONDEWS.COM, SUBANG– Gumpalan busa hitam mirip buih itu muncul di beberapa lokasi di terutama di terutama di Kampung Kondang, Desa Tanjungrasa, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat,

Busa hitam tersebut jatuh dan beterbangan hingga memasuki area permukiman warga serta persawahan di wilayah tersebut. Beberapa titik munculnya busa ini meliputi depan warung warga, sawah, dan bahkan di dekat makam di kampung itu.

Fenomena ini menimbulkan keresahan terutama karena busa tersebut berbau asam meski tidak menyengat, dan ketika disiram air langsung hilang.

Fenomena munculnya gumpalan busa hitam mirip buih di Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, terjadi mulai dari hari Jumat, 24 Oktober 2025, dengan busa tersebut terbawa angin ke wilayah Patokbeusi.

Kemunculan busa juga dilaporkan masih terjadi hingga hari Senin, 28 Oktober 2025, pasca hujan dan membuat warga setempat heboh. BMKG mencatat kondisi cuaca saat itu pada 27 Oktober 2025 wilayah Subang berawan dengan hujan di bagian selatan.

Fenomena tersebut bukan merupakan kejadian alam melainkan terkait aktivitas permukaan bumi, diduga dari limbah pabrik di Karawang yang terbawa angin ke Subang.

Munculnya busa ini diduga berasal dari limbah pabrik di wilayah Karawang yang terbawa angin hingga ke Subang.  Pihak Dinas Lingkungan Hidup dan kepolisian terus melakukan investigasi dan monitoring di lokasi-lokasi tersebut.

Para ahli, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat, menyatakan bahwa gumpalan busa hitam seperti buih sabun yang muncul di Kecamatan Patokbeusi, Subang, pasca hujan masih dalam tahap investigasi dan analisis laboratorium.

Tim Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup telah menurunkan petugas untuk mengambil sampel dan melakukan penelusuran sumber serta kandungan zat busa tersebut, demikian pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, ST., MT.

BMKG Stasiun Bandung menyatakan bahwa fenomena ini bukan kejadian alam, seperti awan atau fenomena meteorologi, melainkan kemungkinan berasal dari aktivitas permukaan bumi, seperti proses industri atau limbah pabrik yang terbawa angin.

Sedangkan DLH Jabar belum dapat memastikan sumber dan kandungan zat busa tersebut karena hasil laboratorium dan laporan resmi dari tim PPLH masih belum keluar.

Oleh karena itu, masyarakat masih diminta bersabar menunggu hasil penelitian yang akan diumumkan setelah investigasi selesai.

Belum ada kesimpulan resmi terkait zat apa yang terkandung dalam busa hitam itu, tetapi ada dugaan bahwa busa tersebut berasal dari limbah industri pabrik di sekitar wilayah, terutama dari pabrik di daerah Karawang yang anginnya terbawa ke Subang.

Warga mencium bau menyengat khas limbah yang membuat kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi bahaya lingkungan dan kesehatan.

Para ahli menekankan agar masyarakat tidak kontak langsung dengan busa tersebut sampai hasil uji laboratorium keluar dan memberikan kepastian keamanan atau bahaya bahan tersebut. Pemerintah daerah terus memantau dan melakukan investigasi menyeluruh atas fenomena langka. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Harga Rp 1,340 Triliun, Pesawat Pembom Legendaris Boeing B‑52 Stratofortress Jatuh

17 Juni 2026 - 00:01 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Tarif Bus Trans Jatim Dipastikan Tetap

16 Juni 2026 - 20:50 WIB

Korban PHK Masih Dapat Gaji Selama 6 Bulan, Ini Syaratnya

16 Juni 2026 - 20:36 WIB

Bukan Cuma Surat, Pencuri Datangi Korban Berdamai di Depan Polisi Polsek Pungging Mojokerto

16 Juni 2026 - 17:59 WIB

Kejadian menari, tersangka pelaku pencurian Pungging Mojokerto, mereka berdamai. Suwandi, memaafkan pelaku, dan ikhlas memaafkan plekai sekaligus mencabut laporan

Gempa Magnetudo 6.7 Guncang Sulawesi Tengah, Lokasi Darat 23 Km dari Palu

16 Juni 2026 - 16:21 WIB

Gempa berkekuatan magnetudo, guncang wilayah Sulawesi Tengah, tidak menimbulkan tsunami. Beberapa laporan rumah roboh, korban berjatuhan. Foto: ist

KA Pandalungan 2 Relasi Gambir-Jember Mulai 18 Juni, Diskon 30 Persen

15 Juni 2026 - 20:32 WIB

Menelisik Akar Terorisme (19): Betapa Kejam dan Kelam Perang Daud

15 Juni 2026 - 20:19 WIB

Harga BBM Pertamina, Shell, dan BP Pekan Ketiga Juni 2026, Ini Daftar Lengkapnya

15 Juni 2026 - 20:18 WIB

Nekad Maling Motor, Dua Remaja Diringkus Polisi

15 Juni 2026 - 12:52 WIB

Trending di News