Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Cak Ris: Menjaga Identitas Bangsa Lewat Sanggul dan Kebaya

badge-check


					Cak Ris: Menjaga Identitas Bangsa Lewat Sanggul dan Kebaya Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Pendiri Paguyuban Wanita Bersanggul Indonesia, Ris Handono, yang akrab disapa Cak Ris, menegaskan komitmennya melestarikan budaya Nusantara melalui sanggul dan kebaya.

Pria asal Surabaya itu mengatakan, “Saya mendirikan komunitas wanita bersanggul Indonesia dengan tujuan melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia.”

Menurutnya, tradisi tata rambut dan busana perempuan hadir dari Sabang hingga Merauke sebagai identitas bersama bangsa Indonesia.

Gerakan tersebut sejatinya telah ia jalani hampir tujuh tahun. Namun, komunitas Wanita Bersanggul Indonesia baru dilegalkan secara organisasi sekitar tiga setengah tahun terakhir.

“Itu dilegalitaskan sekitar 3,5 tahun ini,” ujarnya. Dengan status legal, paguyuban ini semakin terstruktur dan mampu menjangkau lebih banyak perempuan yang merindukan penggunaan busana tradisional.

Perkembangannya terbilang pesat. Hingga kini, paguyuban telah hadir di puluhan daerah. “Oh, sekarang ada 28 kota di Indonesia,” kata Cak Ris

Cabang-cabang tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari kota-kota di Jawa hingga luar Pulau Jawa. Bahkan, semangat melestarikan budaya ini menembus Eropa dengan berdirinya komunitas di Belanda.

“Satu lagi di negeri Belanda, di kota Derhak itu ada satu,” ungkapnya, merujuk pada perempuan Indonesia yang menetap di sana dan rindu akan tanah air.

Cak Ris juga memberi perhatian khusus pada keterlibatan generasi muda. Ia menjelaskan bahwa anggota usia muda dihimpun dalam wadah tersendiri agar lebih nyaman berinteraksi.

“Itu kita komodir dengan nama wanita bersanggul Indonesia generasi muda,” jelasnya. Sementara itu, kelompok ibu-ibu memiliki forum berbeda agar komunikasi antargenerasi tetap selaras.

Bagi Cak Ris, sanggul dan kebaya bukan sekadar busana, melainkan simbol identitas nasional. Ia mencontohkan bagaimana kimono identik dengan Jepang dan sari dengan India.

Dengan logika yang sama, sanggul dan kebaya menjadi penanda visual bangsa Indonesia. “Identitas itu bisa dari bahasa Indonesia, bisa dari budaya bisa jadi busana,” tegasnya.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga jati diri agar tidak tergeser budaya asing. “Jadi jangan sampai identitas kita ini terganti dengan identitas bangsa lain,” ujarnya.

Cak Riz menutup dengan ajakan untuk bangga pada warisan leluhur. “Leluhur membuat kebaya, sanggul, kebaya, Dengan pemikiran yang tingkat tinggi,” dan generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga serta meneruskannya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Cara Buat WhatsApp Offline Padahal Online

20 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Lagu Ikonik Kebyar Kebyar Diciptakan saat Gombloh Kerokan

19 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Wajah Anak Tak Diekspos Mahalini Tuai Pro Kontra

18 Agustus 2026 - 21:08 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Siti Si Vampir Tayang Oktober 2026, Satine Zaneta Jadi Pemeran Utama

6 Agustus 2026 - 19:19 WIB

Lagu Terbaru No Na ‘honk!’ Buktikan Musik Indonesia Bisa Mendunia

3 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?

28 Juli 2026 - 20:09 WIB

Putri Kamboja Menciptakan Sensasi di Piala ASEAN 2026

26 Juli 2026 - 19:34 WIB

Drama di Balik Gol Juara Ferran Torres, Putus Cinta Jelang Final Piala Dunia

22 Juli 2026 - 18:31 WIB

Trending di Life Style