Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Teknologi Geomembran Mempercepat Produksi Garam Rakyat, Begini Penjelasannya

badge-check


					Ilustrasi hasil garam menggunakan tekonologi geomembran Perbesar

Ilustrasi hasil garam menggunakan tekonologi geomembran

Penulis : Jayadi | Editor : Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM-PAMEKASAN: Musim produksi garam tahun ini di Pamekasan, Jawa Timur, mencatat kemajuan signifikan berkat adopsi teknologi geomembran. Petani garam tradisional yang sebelumnya bergantung pada metode konvensional kini beralih ke sistem ini, menghasilkan garam dengan kualitas lebih tinggi dan jumlah produksi yang meningkat.

Teknologi geomembran tidak hanya mempercepat proses pengkristalan garam, tetapi juga memastikan produk akhir lebih bersih dan putih, membawa angin segar bagi perekonomian lokal.

Mengenal Teknologi Geomembran dalam Produksi Garam

Geomembran adalah lapisan plastik kedap air yang digunakan sebagai alas kolam produksi garam. Inovasi ini menjadi kunci utama peningkatan efisiensi dan kualitas garam rakyat. Prosesnya dimulai dengan mengalirkan air laut ke kolam penampungan awal, kemudian dilakukan penyaringan bertahap menggunakan bahan alami seperti ijuk sapu , batok kelapa, dan batu zeolit.

1. Penyaringan dengan Ijuk Sapu: Fungsinya menyaring kotoran besar dan partikel kasar dari air laut sebelum masuk ke kolam berikutnya.

2. Batok Kelapa dan Batu Zeolit sebagai Karbon Aktif: Kedua material ini berperan sebagai penyaring kimiawi. Batok kelapa menghilangkan bau tidak sedap, sementara zeolit menetralkan kandungan logam dan mineral berlebih. Hasilnya, air laut menjadi lebih jernih dan siap untuk proses penguapan.

Proses Penguapan dan Kristalisasi yang Lebih Efisien*

Setelah melalui penyaringan, air laut dialirkan ke — meja kristalisasi — yang telah dilapisi geomembran. Lapisan plastik ini mencegah kontaminasi dari tanah, sehingga garam yang dihasilkan tidak tercampur lumpur atau kotoran. Berbeda dengan metode tradisional yang mengandalkan tanah sebagai alas, geomembran membuat proses penguapan lebih optimal karena:

– Permukaan Kedap Air: Tidak ada air yang meresap ke tanah, sehingga seluruh volume air laut terfokus pada penguapan oleh sinar matahari.

– Refleksi Panas: Warna gelap geomembran menyerap panas lebih baik, mempercepat penguapan.

Keunggulan Produksi dengan Geomembran

1. Waktu Produksi Dipangkas Hingga 50%: Dengan geomembran, garam mengkristal hanya dalam — 14 hari — jauh lebih cepat dibanding metode tradisional yang memakan waktu — 30 hari —

2. Produksi Meningkat Dua Kali Lipat: Hasil panen garam mencapai 70-80 ton per hektar, sementara cara konvensional hanya menghasilkan 30-40 ton.

3. Kualitas Premium: Garam lebih putih, bersih, dan rendah kadar kalsium sulfat (gypsum) karena tidak terkontaminasi tanah.

Baca Juga
Parameter Kualitas BBM Bukan Hanya RON, Kerugian Konsumen Bisa Jauh Lebih Besar

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Adopsi geomembran tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga ramah lingkungan. Penggunaan bahan penyaring alami seperti ijuk dan batok kelapa mengurangi limbah kimia. Selain itu, geomembran dapat digunakan berulang kali selama 2-3 tahun, menekan biaya operasional jangka panjang.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski menjanjikan, sosialisasi teknologi ini masih perlu ditingkatkan. Sebagian petani enggan beralih karena biaya awal pembuatan kolam geomembran relatif tinggi (Rp15-20 juta per hektar). Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat memberikan subsidi atau pelatihan untuk memperluas implementasi inovasi ini.

Teknologi geomembran membuktikan bahwa modernisasi sektor tradisional tidak harus rumit atau mahal. Dengan kombinasi material lokal dan prinsip sains sederhana, petani garam di Pamekasan berhasil memproduksi garam berkualitas ekspor. Langkah ini patut menjadi model bagi daerah penghasil garam lainnya di Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global. ***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wapres Kunjungi Pabrik Sepeda di Sidoarjo, Dorong Penyelarasan Pendidikan dan Kebutuhan Industri

16 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Penutupan Jombang Fest, Bupati Warsubi Bagikan Penghargaan Juara dan Santunan untuk Yatim Piatu

16 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Bupati Warsubi dan Danrem 082 Tinjau Operasi 8 Gerai KDKMP di Mojoagung dan Mojowarno

16 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Tibatiba Angin Berbalik Arah, Empat Relawan Tewas Terbakar Saat Padamkan Kebakaran Hutan Bromo

16 Oktober 2026 - 14:15 WIB

OTT ke 23 KPK Ringkus Bupati Klaten, Wajar Ismoyo: Warga Masyarakat Saya Mohon Maaf

16 Oktober 2026 - 10:57 WIB

Terlibat Kasus OTT ATR/BTN Bogor, Hercules Serahkan Rp800 Juta kepada KPK

16 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Lantik Empat Wamen Baru, Kabinet Prabowo 112 Orang tapi Kabinet Dwikora Bung Karno Sebanyak132 Orang

15 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Hakim Fitrizal Lahirkan Yurisprudensi Baru: Yogi Mentawai Divonis Bersalah, tetapi Dimaafkan

15 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Menteri Sosial Ungkap Warga RI yang Kebagian HP Gratis dari Pemerintah

15 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Trending di Nasional