Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SOLO- Hujan lebat sejak Selasa malam hingga Rabu 15 April 2026, menyebabkan luapan Kali Jenes dan sungai lain, terutama di wilayah barat Solo serta kiriman air dari Boyolali. Genangan air mencapai 80-120 cm di permukiman dan jalanan, dengan Sukoharjo paling parah seperti di Grogol dan Madegondo.
Sekitar 1.081 keluarga atau 715 KK terdampak di 11 kelurahan Kota Solo, terutama Kecamatan Laweyan, dengan 109-218 warga mengungsi. Belum ada laporan korban jiwa, tapi puluhan rumah terendam hingga dada orang dewasa.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menegaskan pemahaman keliru soal kemarau masih sering terjadi di masyarakat.
Kondisi ini berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah yang sudah lebih dulu masuk kemarau sejak pertengahan April.
Menurut BMKG, karakter geografis Solo Raya membuat pola cuaca cenderung dinamis. Artinya, hujan masih mungkin turun meski kalender sudah memasuki kemarau. Situasi ini berpotensi mengecoh masyarakat yang menganggap kemarau identik dengan cuaca sepenuhnya kering.
Wali Kota Solo Respati Ardi turun langsung dini hari meninjau pengungsi dan memastikan bantuan serta dapur umum. BPBD, Basarnas, dan relawan evakuasi warga; debit air masih berpotensi naik sehingga imbauan waspada terus disampaikan.
“Dini hari ini berada di Laweyan di daerah terdampak banjir. Yang pertama saya memastikan kebutuhan warga yang terdampak terpenuhi dulu dan ini sudah mulai kita lakukan,” ujar Respati saat meninjau lokasi pukul 00.30 WIB.
Ia juga menambahkan, “Kami akan menyediakan bantuan berupa makanan untuk yang sedang kita evakuasi dan bantuan obat-obatan karena tadi ada masyarakat berkebutuhan khusus.”
Beberapa kelurahan seperti Joyosuran (Pasar Kliwon), Kedung Lumbu, Tipes (Serengan), Jebres, dan Mojosudan (Jebres) dilaporkan airnya sudah mulai surut atau dalam pendataan akhir per Rabu malam. Di Sukoharjo, 258 rumah terendam mulai surut, sementara total 1.939 KK di Solo Raya terdampak secara keseluruhan. BPBD Solo dan Jateng berjanji terus update data hari ini.
Dapur umum didirikan di Joyotakan dan Tipes oleh Dinas Sosial serta PMI, dengan bantuan logistik seperti beras, paket sembako, dan makanan siap saji sudah disalurkan. Warga mulai membersihkan rumah, meski debit Bengawan Solo sempat siaga merah kemarin. Belum ada laporan korban jiwa baru; pengungsian turun dari 109-218 orang kemarin.
BPBD Solo melaporkan bahwa banjir di wilayah Solo Raya, terutama akibat luapan Kali Jenes, merendam rumah warga hingga 80 cm dan memaksa puluhan orang mengungsi.
Menurut data BPBD Jateng yang dikutip terkait situasi Solo, hujan deras sejak 14 April 2026 pukul 22.00 WIB menyebabkan genangan parah di barat kota akibat kiriman air dari Boyolali. Evakuasi warga menjadi prioritas utama, dengan pompa air dioperasikan meski belum optimal karena debit sungai utama masih tinggi.
BPBD berkoordinasi dengan PUPR, BBWS, dan relawan untuk percepatan penanganan, sambil memastikan bantuan logistik dan pengungsian. Pagi 16 April, situasi mulai surut di beberapa titik seperti Joyosuran dan Tipes, tapi waspada banjir susulan tetap ditingkatkan. **






