Menu

Mode Gelap

Life Style

Katanya IQ Warga RI Dekati Gorila, Benarkah?

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Perbandingan antara rata-rata IQ orang Indonesia dan gorila kembali beredar di ruang publik. Klaim ini biasanya bersumber dari satu angka lama, skor IQ Indonesia 78,5 dalam studi The Intelligence of Nations karya Richard Lynn dan David Becker.

Angka tersebut lalu disejajarkan dengan estimasi IQ gorila yang berada di rentang 70-90 berdasarkan sejumlah eksperimen kognitif pada primata besar. Dari sini, kesimpulan liar muncul. Indonesia disebut setara gorila.

Masalahnya bukan sekadar benar atau salah, melainkan pada cara membaca data dan memahami konteks global pengukuran kecerdasan.

Sebetulnya, data terbaru memberi gambaran berbeda. International IQ Test (IIT) 2024, yang menghimpun lebih dari 1,35 juta peserta di seluruh dunia melalui satu instrumen tes daring yang sama, mencatat rata-rata IQ Indonesia di angka 93,2.

Posisi Indonesia berada di peringkat ke-98 global dari sekitar 200 negara. Angka ini memang berada di bawah rata-rata dunia 100, namun secara statistik jauh dari kisaran yang lazim dilekatkan pada kecerdasan primata non-manusia.

Perbedaan ini menunjukkan skor IQ nasional sangat bergantung pada metode, cakupan sampel, dan asumsi dasar yang digunakan.

Studi Lynn-Becker banyak dikritik karena dua hal. Pertama, keterbatasan data primer. Becker mengklasifikasikan skor berdasarkan dua sumber T, hasil tes aktual; dan E, estimasi berbasis negara sekitar. Demikian seperti diberitakan cnbcindonesia.

Untuk banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, skor berasal dari estimasi lama dengan data pendidikan yang terbatas. Kedua, pendekatan teoritisnya memicu kontroversi serius. Becker secara terbuka mempromosikan gagasan predisposisi genetik rasial terhadap kecerdasan, sehingga objektivitas metodologinya sering dipertanyakan oleh komunitas akademik.

Sebaliknya, IIT menggunakan satu tes yang sama secara global. Metode ini mengurangi variasi instrumen, namun menghadirkan bias baru partisipasi berbasis internet. Artinya, responden berasal dari kelompok yang memiliki akses digital, pendidikan dasar, dan literasi teknologi. Hasilnya cenderung merepresentasikan populasi urban dan terdidik, bukan keseluruhan demografi nasional.

IQ nasional bukan potret biologis, semua terakumulasi dari ekosistem pendidikan, nutrisi, kesehatan anak, dan distribusi akses belajar.

Negara dengan sistem sekolah solid, gizi anak memadai, dan paparan literasi sejak dini hampir selalu mencatat skor IQ lebih tinggi. Ini menjelaskan dominasi Asia Timur dalam berbagai pemeringkatan global.

World Population Review 2024 mencatat China, Taiwan, Hong Kong, dan Makau berada di puncak dunia dengan rata-rata IQ 107. Jepang dan Korea Selatan menyusul di angka 106. Pola ini konsisten dengan hasil PISA OECD 2022, di mana negara-negara tersebut unggul dalam matematika, sains, dan membaca. Artinya, skor IQ berjalan seiring dengan kualitas sistem pembelajaran, bukan faktor genetik semata.

Di tingkat global, lembaga internasional tidak pernah menjadikan IQ sebagai satu-satunya indikator kecerdasan kolektif. OECD menggunakan PISA untuk mengukur kemampuan aplikatif siswa usia 15 tahun.

Menurut laporan World Population Review 2024, rata-rata IQ orang Indonesia adalah 78,49, menempatkan Indonesia di peringkat ke-129 dari 197 negara yang diuji.

Rata-rata IQ orang Indonesia berada jauh di bawah rata-rata IQ global, yang berkisar antara 85 hingga 115. Secara keseluruhan, sekitar 98 persen populasi dunia memiliki skor IQ di bawah 130, dan hanya 2 persen yang memiliki skor di atas 130.

Skor IQ ini menempatkan Indonesia di peringkat yang rendah, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam, yang memiliki rata-rata IQ di atas 89. Timor Leste adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki skor IQ yang sama dengan Indonesia, yaitu 78,49.***

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lisa BLACKPINK Syuting di Tangerang, Lalu Lintas Dialihkan

31 Januari 2026 - 18:39 WIB

Makna dan Sejarah Kue Keranjang dalam Tradisi Imlek

31 Januari 2026 - 18:24 WIB

Hoaks Soal Anak, Sarwendah dan Ruben Ambil Langkah Hukum

31 Januari 2026 - 17:36 WIB

Salah Pilih, Pasangan Ternyata Toksik, Namun Tidak Bisa Bercerai, Ini Solusinya

30 Januari 2026 - 23:14 WIB

Ressa Rizky Rossano Benar Anak Denada, Terungkap di Sidang!

30 Januari 2026 - 19:55 WIB

Gisella Anastasia Ngaku Pernah Jadi Korban Love Scamming

30 Januari 2026 - 19:38 WIB

Film ‘CAPER’ Angkat Kisah Realitas Sosial Pinjol

29 Januari 2026 - 19:39 WIB

Whip Pink, Produk Kuliner yang Disalahgunakan

29 Januari 2026 - 14:18 WIB

Onani dan Hubungan Seksual Bikin Cepat Lupa, Mitos atau Fakta

27 Januari 2026 - 23:05 WIB

Trending di Life Style