Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, KEDIRI– Patung macan di pertigaan Desa Balong Jeruk, Kabupaten Kediri, mendadak viral dan menyedot perhatian publik. Warganet menilai bentuknya unik, bahkan menyebut mirip capybara hingga hasil kawin silang kuda nil dan zebra. Ekspresi wajah yang tak lazim serta kisah spiritual di balik pembuatannya membuat patung ini dikenal luas, termasuk hingga mancanegara.
Sosok pembuatnya adalah Mbah Suwari, seniman patung sederhana yang mengaku tak menyangka karyanya menjadi perbincangan besar. “Asal mulanya saya diutus Bapak Kepala Desa Balong Jeruk, disuruh membuat patung macan itu. Terus saya sanggup,” ujarnya mengenang awal proses pembuatan.
Mbah Suwari kemudian diminta menentukan hari baik. Pembangunan patung dimulai pada Senin Pahing, hari yang dipilih berdasarkan perhitungan adat. “Saya mulai hari Senin Pahing, mulai duduk pondasi sampai selesai 18 hari,” katanya. Selama hampir tiga pekan, ia mengerjakan patung hingga berdiri kokoh di pertigaan desa.
Dalam video yang diunggah akun Instagram Kedirijaya pada 29 Desember 2025, Mbah Suwari mengaku mengalami pengalaman tak biasa saat proses berlangsung.
“Saya mimpi didatangi Bapak Kasun Ketandan orangnya sudah meninggal,” tuturnya. Dalam mimpi tersebut, ia diminta mementaskan ludruk dengan lakon siluman macan putih, sementara patung macan disebut belum rampung dibuat.
Keesokan harinya, Kepala Desa kembali menanyakan kesiapan pembuatan patung. Mbah Suwari pun memilih hari baik yang sama. “Saya mencari hari yang baik, Senin Pahing. Pasang pondasi dibancai tumpeng, panggang ayam, baru dimulai,” katanya.
Setelah patung selesai, kabar viral mulai terdengar. Mbah Suwari mengaku heran karena selama ini ia telah membuat banyak patung di berbagai tempat tanpa sorotan serupa.
“Padahal saya buat patung di sana-sana baik-baik, tidak viral. Kok yang ini seperti viral sampai seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia menduga ada unsur sejarah dan kepercayaan di lokasi tersebut. “Bukan sembarang macan, ada danyangnya macan itu,” kata Mbah Suwari, yang meyakini hal itu turut mempercepat penyebaran cerita patung macan Balong Jeruk.
Terkait bentuk patung, Mbah Suwari menjelaskan ekspresi macan awalnya dibuat menganga. Namun, pemerintah desa meminta perubahan demi keselamatan lalu lintas.
“Ini kan dipertigaan, rawan kecelakaan. Jadi permintaan dari pemerintah desa tidak boleh mangap (mulut terbuka) harus diingkepkan (mulut tertutup),” jelasnya.
Perubahan itu justru dinilai positif. “Anak kecil tidak takut, malah senang,” katanya.
Ia juga menepis isu pembongkaran patung. “Tidak, paten. Kalau dibongkar kan sayang,” tegasnya.
Hal ini diperkuat pernyataan Kepala Desa Safi’i. “Alhamdulillah akhirnya masyarakat di Balong Jeruk menyepakati tidak jadi dibongkar, bahkan harus dilestarikan,” tegasnya.
Kepala desa juga mempersilakan warga luar kota untuk melihat Patung Macan Putih yang terletak di pertigaan Balong Jeruk RT 1 RW 1, Kecamatan Tunjang, Kabupaten Kediri.
Mbah Suwari mengaku telah lama berkarya, mulai dari patung tokoh pewayangan hingga harimau di sejumlah desa. Namun, ia tak bisa memastikan mengapa patung macan inilah yang akhirnya mendunia. “Berarti bagus itu belum tentu viral,” ujarnya polos.
Baginya, viralnya patung macan Balong Jeruk bukan semata soal bentuk, melainkan perpaduan tempat, waktu, dan cerita.
Ia berharap karyanya tetap membawa kebaikan bagi warga tanpa kehilangan makna budaya dan sejarah yang sangat melekat ***






