Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Nasional

Founder Kusuma Agrowisata Edy Antoro: Petani di Batu Tidak Lagi Bergantung kepada Tengkulak

badge-check


					(kiri) Founder Kusuma Agrowisata Batu, Edy Antoro tengah diwawancara potcast Ladon Entertainment, telah ditonton 13.000 pemirsa. Foto: Ladon Enterntaiment Perbesar

(kiri) Founder Kusuma Agrowisata Batu, Edy Antoro tengah diwawancara potcast Ladon Entertainment, telah ditonton 13.000 pemirsa. Foto: Ladon Enterntaiment

Penulis: Anwar Hudiono   |     Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, BATU – Saat ini terjadi perubahan signifikan dalam pola kehidupan petani. Mereka tidak lagi tergantung kepada tengkulak dalam menjual hasil budidaya pertaniannya. Ini kemajuan luar biasa!

Demikian praktisi pertanian perintis agrowisata Indonesia terkemuka, Edy Antoro dalam podcast YouTube channel Ladon Entertainment Indonesia bertajuk Sam Handy 34 – Edy Antoro “Sang Arjuno Pecinta Alam” yang dirilis, Rabu, 5 November 2025. Video ini sudah ditonton 13 ribu.

Edy Antoro (EA), 67 tahun, adalah founder Kusuma Agrowisata Kota Batu. Ia merintis agrowisata tahun 1988 dengan dimulai wisata petik apel. Kemudian disusul wisata petik strawberry dan terus berkembang ke banyak usaha seperti perhotelan, real estat, industri minuman, budidaya pertanian agroponik dan banyak lagi.

Dia termasuk startup yang sukses. Dengan filosofi berbisnis dan berbuat baik EA dinilai telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan agrowisata di Indonesia, hususnya di Kota Batu.

Dia menjadi inspirasi masyarakat Batu dalam pengembangan agrowisata. Istilah populernya, ikon Kota Wisata untuk Kota Batu tak bisa dipisahkan dengan EA.

Untuk itulah Kementerian Koordinator Pembangunanan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) memberikan penghargaan Anugerah Revolusi Mental tahun 2022.

Menurut EA, petani sekarang jauh lebih maju dibanding pada jamannya. “Petani sekarang berani. Pendidikannya lebih baik sehingga akalnya lebih banyak. Kalau dulu petani itu mengandalkan otot,” katanya.

Keberanian dan kemajuan mereka ditunjukkan dengan berani menjual hasil budidaya tanpa melalui tengkulak.

“Mereka angkut sendiri ke pasar, jual sendiri. Kalau saya ke Surabaya lewat tol disalib mobil mengangkut sayur. Dan itu banyak. Mereka itu para petani. Jadi sekarang mereka petani sekaligus pengusaha. Mereka kaya-kaya, “ujar ayah 3 anak buah pernikahannya dengan Ny Susan Antoro ini.

Lepas dari tengkulak inilah yang menginspirasi EA melakukan transformasi agrowisata. Dalam buku “Republik Agro Perjalanan Hidup Edy Antoro” yang terbit tahun 2014, disebutkan, saat menjual hasil panen apelnya EA merasa ngenas karena harganya sangat murah tak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk budidaya apel. Rendahnya harga itu karena posisi tawarnya di hadapan tengkulak sangat lemah.

Akhirnya melahirkan ide menjual produknya dalam kemasan wisata petik apel. Turis datang untuk memetik apel. Dekade 1990 sampai awal tahun 2000-an jadi boming, dan wisata petik apel jadi ikonik Kota Batu.

Ternyata keuntungannya jauh lebih besar dibanding dijual secara konvensional. Adapun buah apel yang kecil-kecil sisa petik dibuat minuman sari apel yang tetap eksis hingga sekarang.

EA yakin dengan perubahan ini, kehidupan petani di masa mendatang akan semakin baik. Kebutuhan sayur yang sehat semakin meningkat.

Yang menjadi tantangan, katanya, adalah meningkatkan daya saing termasuk dengan supermarket.

Ditanya tentang budidaya apel di wilayah Kota Batu sekarang, EA mengakui sangat berat akibat perubahan iklim.

Dia contohkan, tahun 1980-an apel bisa dibudidayakan di ketinggian 450 m dpl seperti di daerah Beji. Sekarang di ketinggian 1050 m dpl seperti di kawasan Kusuma Agrowisata sangat berat. Sekarang harus di ketinggian 1.300 m dpl.

Apalagi budidaya apel itu biaya tinggi. Petani kecil cukup keberatan. Apalagi lahan-lahan mereka semakin sempit karena proses involusi pertanian akibat sistem pewarisan. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Muktamar Lesbumi NU di Tambakberas Jombang: Tengok Akar Tradisi dan Budaya sebagai Panglima

13 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kepala BGN Nanik Deyang: Saya Memang Cupu-nya Presiden

13 Juni 2026 - 13:29 WIB

Andri Mulyono Partner Lodewyk Pusung, Mark Up Rp0,5 Triliun Proyek Motor Listrik BGN

13 Juni 2026 - 12:40 WIB

Kejaksaan Agung menahan Andri Mulyono, Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT), terlibat mark up proyek pengadaan motor listrik BGN.

Massa Aksi Mahasiswi UI Bubar Tertib dari Bundaran HI, Lampu Padam Masuk Kelompok Baju Hitam

12 Juni 2026 - 21:59 WIB

Aksi massa mahasiswa U, di Bundaran HI, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026

Pelatihan Kripik Pisang dan Tahu Krispi 21 Wanita Warga Plumbon Gambang

12 Juni 2026 - 21:16 WIB

REI: Kenaikan BI Rate Jadi Pukulan Telak bagi Properti Nonsubsidi

12 Juni 2026 - 19:19 WIB

Menelisik Akar Terorisme (16): Black Death Memangsa 50 % Populasi Eropa

12 Juni 2026 - 18:45 WIB

Pemkab Jombang dan BPS Sinergi Sensus Ekonomi 2026: Dilaksanakan 15 Juni – 31 Agustus 2026

12 Juni 2026 - 16:21 WIB

Buoati Jombang, Warsubi memasang tag tanda resmi petugas pelaksana Sensus Ekonomi 2026.

Anas Burhani Ditetapkan sebagai Tanfidz PKB Jombang, Menggeser Hadi Atmaji

12 Juni 2026 - 14:33 WIB

Anas Burhani, dari Sekretaris DPC PKB Jombang, terpilih menjadi Tanfidz PKB Jombang
Trending di News