Menu

Mode Gelap

Nasional

UMKM Terancam Anjloknya Rupiah

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Nilai tukar rupiah terus terpuruk. Hal ini membuat sejumlah sektor ekonomi mengalami tekanan, termasuk UMKM.

Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan terus terpuruk menuju Rp 17.000 per dolar AS pada Kamis (15/1/2026) sore. Rupiah melemah 31 poin ke level Rp 16.896 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah melemah hingga 35 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 16.865 per dolar AS.

Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan jika pelemahan rupiah paling terasa bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keterbatasan skala usaha dan daya tawar membuat UMKM sulit menyesuaikan harga jual.

“UMKM yang menggunakan bahan baku impor menghadapi biaya yang relatif sulit diimbangi dengan kenaikan harga jual karena daya beli konsumen relatif terbatas dan segmentasi pasar UMKM juga relatif kecil,” ujar Yusuf kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (15/1/2025).

Selain itu, UMKM umumnya tidak memiliki instrumen lindung nilai, sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi kurs. Dia melanjutkan, sektor yang paling rentan adalah UMKM dan industri manufaktur domestik berbasis impor.

“Kedua sektor ini menghadapi kenaikan biaya tanpa dukungan pendapatan valas dan memiliki ruang penyesuaian harga yang relatif terbatas,” tambah dia.

Pelemahan rupiah berdampak berbeda pada tiap sektor ekonomi. Di sektor manufaktur, tekanan paling besar dirasakan industri yang bergantung pada bahan baku dan mesin impor seperti elektronik, otomotif, farmasi, dan kimia.

“Kenaikan biaya impor akan meningkatkan biaya produksi sehingga margin usaha berpotensi tertekan jika harga jual tidak segera dinaikkan,” kata Manilet.

Sementara itu, dampak terhadap pelaku usaha kelas menengah akan terasa secara bertahap, seiring meningkatnya harga dan tergerusnya daya beli apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Di sisi lain, industri manufaktur berorientasi ekspor atau yang memiliki kandungan lokal tinggi relatif lebih tahan terhadap tekanan nilai tukar karena pendapatan dalam dolar AS.

Pelemahan rupiah juga berdampak pada daya beli kelas menengah melalui kenaikan harga barang impor dan produk domestik dengan input impor seperti elektronik, kendaraan, obat-obatan, serta sebagian pangan dan energi.

Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, dia memperkirakan nilai tukar rupiah kembali dipengaruhi faktor musiman. Manilet memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.800 per dolar AS.

“Peningkatan konsumsi mendorong permintaan impor untuk membuat barang konsumsi, bahan baku, dan energi. Tekanan musiman Lebaran secara historis cenderung menambah pelemahan pada level yang relatif terbatas, yakni sekitar 0,9% hingga 1%,” ujarnya.

Sementara pada pertengahan 2026, dia memproyeksikan rupiah diproyeksikan berada di rentang Rp 16.500 hingga Rp 16.800 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, namun tetap dipengaruhi oleh fundamental domestik dan efektivitas kebijakan stabilisasi pemerintah.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Prabowo soal Rupiah Anjlok: Warga Desa Tak Pakai Dolar

16 Mei 2026 - 19:53 WIB

IDAI Ingatkan Malaria Monyet Mengintai Indonesia

15 Mei 2026 - 20:10 WIB

Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Rinciannya

14 Mei 2026 - 19:53 WIB

KPR 40 Tahun, Pemerintah Pastikan Fleksibilitas Pembayaran

14 Mei 2026 - 19:30 WIB

BRIN Siapkan Teknologi Canggih Tangani Rob Pantura

14 Mei 2026 - 17:54 WIB

CPO Global Melonjak, Minyak Goreng Tembus Rp19 Ribu

13 Mei 2026 - 18:49 WIB

Gas Melon Tetap Ada, CNG 3 Kg Jadi Opsi Tambahan

13 Mei 2026 - 18:29 WIB

BGN Wajibkan SPPG Tingkatkan Penerima Manfaat 3B

13 Mei 2026 - 18:17 WIB

Rata-rata Masa Tunggu Kerja Lulusan SMK Jatim Hanya 3 Bulan

12 Mei 2026 - 19:10 WIB

Trending di Nasional