Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Bagi Umat Katolik di Gaza, Wafat Paus Berarti tidak ada lagi Telepon

badge-check

Paus Fransiskus tak lelah menelepon Gaza hingga akhir hayatnya

Bagi Umat Katolik di Gaza, Wafat Paus Berarti tidak ada lagi Telepon

Oleh: Daniel Esparza/Maria Angelica Putri Lato

Editor: Jacobus E. Lato 

Bagi mereka, dan bagi banyak orang di Gaza, Paus Fransiskus mewujudkan visi martabat bagi semua orang yang berdiam di wilayah tersebut.

Di tengah reruntuhan puing-puing Gaza yang dilanda perang, komunitas Katolik kecil itu berduka atas kehilangan yang lebih dari sekadar bom dan bangunan. “Kami seperti yatim piatu sekarang,” kata George Anton, seorang jemaat Gereja Katolik Keluarga Kudus, kepada BBC.

Bagi mereka, Paus Fransiskus bukan sekadar kepala Gereja. Ia suara dalam kegelapan, yang menelepon hampir setiap malam menanyakan apa yang mereka makan, bagaimana mereka bertahan menghadapi situasi, sekaligus menawarkan kekuatan yang berlimpah.

Telepon terakhir Paus dilakukan hanya dua hari sebelum wafatnya. Pada Sabtu Suci, Vatican News melaporkan. “Paus menelepon kami untuk terakhir kalinya pada Sabtu malam. Sesaat sebelum dimulainya Misa Malam Paskah. Ketika kami sedang berdoa Rosario. Ia memberi tahu kami bahwa ia berdoa untuk kami, memberkati kami, dan berterima kasih atas doa-doa kami baginya.”

Selama 18 bulan konflik yang tanpa henti, Paus secara pribadi memeriksa nama beberapa ratus orang Kristen yang masih tinggal di Jalur Gaza, daerah kantong yang dihuni lebih dari dua juta orang, yang sebagian besar beragama Islam.

Gereja Katolik Keluarga Kudus di Kota Gaza menjadi satu-satunya paroki Katolik. Ia menjadi tempat berlindung, rumah, komunitas yang ditopang oleh iman dan suara panggilan telepon yang tak terduga.

Pastor Paroki Keluarga Kudus berasal dari Argentina. Sama seperti Paus. Sang pastor adalah misionaris di Institut Sabda yang Menjadi Manusia, sebuah kongregasi, sebuah kelompok biarawan yang didirikan di tanah air mereka.

Pasca-wafatnya Paus, Vatikan merilis sebuah video pendek yang memperlihatkan keakraban dan kelembutan percakapan beliau dengan sang pastor yang dilakukan pada malam hari.

Dalam salah satu video, Paus bertanya kepada Pastor Gabriel Romanelli, apakah makan malam mereka. “Sisa ayam dari kemarin,” jawabnya, disambut tawa hangat Paus. Ini bukan audiensi resmi Bersama Paus. Itu sesuatu yang menyelamatkan.

“Kami memohon kepada Tuhan,” kata Pastor Romanelli, “agar memberikan kedamaian abadi kepada Paus. Kami pun berdoa agar pria dan wanita yang berkehendak baik di seluruh dunia mengindahkan seruannya yang terus-menerus dan mendesak bagi perdamaian di Gaza dan di seluruh dunia.”

Pada tanggal 22 Januari, pasca-gencatan senjata, dalam audiensi umum, Paus berkisah kepada umat beriman tentang teleponnya:

Kemarin saya menelepon paroki di Gaza. Saya meneleponnya setiap hari.  Mereka senang! Ada 600 orang di sana, yang ada di paroki dan sekolah. Dan mereka kisahkan kepada saya, “Hari ini kami makan kacang-kacangan dan daging ayam.” Makanan yang tidak biasa mereka makan saat ini. Jadi hanya beberapa sayuran, sesuatu… Mereka senang!

Apa lagi yang bisa saya lakukan untuk Anda?

Yolande Knell, Koresponden BBC Timur Tengah, menceritakan bagaimana berbagai telepon Paus itu menyentuh kehidupan manusia.

Anton, koordinator darurat di Gereja Paroki Keluarga Kudus, Gaza, tidak bisa berkata apa-apa ketika pertama kali menerima telepon. Belangkangan dia tersadar bahwa dia sudah menceritakan segala-galanya kepada Paus. Tentang rumahnya yang rusak porak poranda, tentang keluarganya dan tentang kesadarannya atas rasa aman.

“Paus senantiasa memberkati saya… Beliau selalu menyemangati kami untuk menjadi kuat,” kisah Anton kepada Knell. Pertanyaan yang selalu diajukannya adalah, “Apa lagi yang bisa saya lakukan untuk kalian?”

Di Gaza, kematian dan kehancuran bangunan menjadi hal yang rutin. Kontak telepon setiap hari dengan pemimpin spiritual Vatikan ini memberikan sesuatu yang luar biasa. Memberikan perasaan bahwa mereka tidak dilupakan.

Ikatan Paus Fransiskus dengan umat Kristen di Gaza yang kuat mencerminkan kepeduliannya yang mendalam terhadap Tanah Suci. Dalam kunjungannya ke Tanah Suci pada 2014, Paus tanda terjadwal berhenti di Gaza, di tembok pembatas Israel di Betlehem. Di sana Paus berdoa bagi perdamaian.

Dalam pesan Paskah terakhirnya, yang dibacakan oleh seorang ajudan, ia kembali meminta diadakannya gencatan senjata. Beliau menyebutkan situasi di Gaza sebagai “situasi kemanusiaan yang dramatis dan menyedihkan.”

Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mencatat bahwa kata-kata Paus menembus melewati ambiguitas politik. “Perang bukan sekadar senjata. Perang terkadang adalah kata-kata,” katanya, menegaskan jelasnya prinsip moral Paus Fransiskus.

Kini, saat konklaf baru akan dimulai di Roma untuk memilih pengganti Paus Fransiskus, umat Kristen Gaza berdoa bukan hanya untuk paus baru, tetapi juga untuk berlanjutnya rasa belas kasih. Mereka berharap Paus selanjutnya akan mengingat nama mereka juga. Sekaligus terus-menerus menyerukan perdamaian dengan keberanian dan kelembutan yang sama.

Di tanah tempat agama Kristen pertama kali berakar, umat Kristen yang tersisa di Gaza terus menapaki jalan iman. Membawa daun palem di antara puing-puing bangunan, menyalakan lilin untuk melawan kegelapan.

Di Gereja Ortodoks Yunani St. Porphyrius, para wanita dengan gaun warna-warni merayakan Minggu Palma dengan daya tahan hidup mereka yang luar biasa. Bagi mereka, dan bagi banyak orang di Gaza, Paus Fransiskus mewujudkan visi adanya martabat bagi semua yang tinggal di wilayah tersebut. Visi itu, sebagaimana dilaporkan oleh Jane Arraf untuk NPR, adalah warisan yang kini mereka bawa menuju masa datang. Visi tentang kehadiran, kedamaian , kedamaian, dan keyakinan radikal bahwa kehidupan manusia itu sakral.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Perluas Investasi, Warsubi Pimpin Forkopimda Jombang Kunjungan ke PT Camino dan Cheil Jedang

13 Juni 2026 - 16:21 WIB

Muktamar Lesbumi NU di Tambakberas Jombang: Tengok Akar Tradisi dan Budaya sebagai Panglima

13 Juni 2026 - 14:20 WIB

Kepala BGN Nanik Deyang: Saya Memang Cupu-nya Presiden

13 Juni 2026 - 13:29 WIB

Andri Mulyono Partner Lodewyk Pusung, Mark Up Rp0,5 Triliun Proyek Motor Listrik BGN

13 Juni 2026 - 12:40 WIB

Kejaksaan Agung menahan Andri Mulyono, Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT), terlibat mark up proyek pengadaan motor listrik BGN.

Massa Aksi Mahasiswi UI Bubar Tertib dari Bundaran HI, Lampu Padam Masuk Kelompok Baju Hitam

12 Juni 2026 - 21:59 WIB

Aksi massa mahasiswa U, di Bundaran HI, Jakarta, Jumat 12 Juni 2026

Pelatihan Kripik Pisang dan Tahu Krispi 21 Wanita Warga Plumbon Gambang

12 Juni 2026 - 21:16 WIB

Menelisik Akar Terorisme (16): Black Death Memangsa 50 % Populasi Eropa

12 Juni 2026 - 18:45 WIB

Pemkab Jombang dan BPS Sinergi Sensus Ekonomi 2026: Dilaksanakan 15 Juni – 31 Agustus 2026

12 Juni 2026 - 16:21 WIB

Buoati Jombang, Warsubi memasang tag tanda resmi petugas pelaksana Sensus Ekonomi 2026.

Anas Burhani Ditetapkan sebagai Tanfidz PKB Jombang, Menggeser Hadi Atmaji

12 Juni 2026 - 14:33 WIB

Anas Burhani, dari Sekretaris DPC PKB Jombang, terpilih menjadi Tanfidz PKB Jombang
Trending di News