Penulis: Eko Wienarto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, MATARAM – Sebuah peristiwa mengerikan dan menyita perhatian terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Mataram, Selasa, 19 Mei 2026.
Gedung ruang kelas yang sedang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dikabarkan tiba-tiba rubuh, menimbulkan kepanikan luar biasa di kalangan siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.
Akibat kejadian nahas tersebut, tercatat sebanyak 4 orang siswa mengalami luka-luka dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Keempat siswa yang mengalami luka-luka itu diantaranya:
1. Rina Amelia – Luka robek di bagian lengan dan lecet-lecet di kaki.
2. Dimas Pratama – Luka memar cukup parah di punggung dan bahu.
3. Sari Wulandari – Terkena benturan di kepala dan lecet di sekujur tubuh.
4. Bayu Saputra – Luka di kaki akibat tertimpa puing material dinding.
Keempatnya langsung ditangani tim medis dan petugas pertolongan pertama yang segera dikerahkan ke lokasi.
Hingga saat ini, kondisi keempat siswa dilaporkan stabil dan tidak mengancam nyawa, namun tetap dipantau secara ketat.
Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Mataram, Drs. H. Suwandi, saat ditemui di lokasi kejadian menyampaikan keterangannya dengan nada sedih namun tegas. Beliau menjelaskan kronologi kejadian dan langkah yang sudah diambil pihak sekolah:
“Kira-kira pukul 09.15 pagi tadi, saat kegiatan belajar sedang berlangsung, tiba-tiba kami mendengar suara derak keras, disusul runtuhnya sebagian struktur dinding dan atap ruang kelas tersebut,” tutur kepala sekolah, drs Suwandi.
“Kami langsung bergegas keluar dan mengevakuasi seluruh siswa. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, namun 4 anak kami mengalami luka-luka dan segera kami bantu penanganannya. Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan akan memastikan keselamatan seluruh warga sekolah adalah prioritas utama,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan bahwa gedung tersebut sebenarnya sudah cukup tua, namun selama ini rutin diperiksa dan dianggap masih aman digunakan.
Pihaknya langsung melaporkan hal ini ke Dinas Pendidikan dan instansi terkait untuk pengecekan mendalam.
Guru yang saat itu sedang berada di dekat lokasi kejadian, Ibu Siti Aminah, S.Pd, menceritakan suasana mencekam saat peristiwa itu terjadi:
“Saya sedang mengajar di ruangan sebelah, tiba-tiba terdengar suara gaduh keras sekali, lalu teriakan anak-anak. Saya langsung lari ke luar dan melihat debu mengepul tinggi. Hati saya langsung copot, takut ada apa-apa. Untungnya reaksi anak-anak cukup cepat, mereka langsung berhamburan keluar. Namun sayang, ada 4 orang yang tertimpa puing-puing yang jatuh. Kami langsung bantu angkat dan berikan pertolongan secepat mungkin,” kenang Ibu Siti masih dengan napas tidak teratur.
Salah satu korban yang mengalami luka di lengan, Rina Amelia, menceritakan detik-detik mengerikan itu:
“Kami sedang duduk mendengarkan penjelasan guru, tiba-tiba dinding di sebelah saya bergetar lalu langsung ambruk. Saya sempat terkejut dan tidak sempat lari jauh, ada puing yang jatuh mengenai lengan saya. Rasanya sakit dan kaget sekali, tapi saya bersyukur masih bisa selamat dan teman-teman yang lain juga selamat. Kami semua sangat ketakutan,” ucap Rina sambil menahan sakit saat dibalut perban.
Sementara itu, Dimas Pratama yang mengalami luka memar di punggung juga bercerita:
“Saya duduk di bagian belakang, mendengar suara bunyi aneh. Kami sempat teriak memberi tahu teman, tapi belum sempat lari sepenuhnya, bagian atap bawah sudah jatuh,” katanya.
“Saya terjepit sedikit, tapi teman-teman langsung bantu tarik keluar. Punggung saya sakit sekali, tapi saya lega karena semua teman selamat meski ada yang luka,” ungkap Dimas.
Pihak sekolah langsung mengevakuasi seluruh siswa ke lapangan sekolah dan tempat yang lebih aman.
Kegiatan belajar mengajar pun terpaksa dihentikan sementara sampai ada kepastian keamanan struktur bangunan seluruh gedung sekolah.
Tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang juga sudah tiba di lokasi untuk meneliti penyebab pasti keruntuhan dan memeriksa bangunan lain agar hal serupa tidak terulang.
Warga sekitar dan orang tua siswa mulai berdatangan ke lokasi untuk memastikan keadaan anak-anak mereka.
Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan dan pengecekan menyeluruh, agar fasilitas pendidikan benar-benar aman dan layak digunakan sebagai tempat menuntut ilmu. **







