Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM— Tiga tahun sebelumnya, pelancong Andalusia, Ibn Jubayr mencatatkan adanya pemahaman dan penghormatan kaum Kristen dan Islam yang sangat mendalam terhadap satu sama lain atas hak dan perdagangan mereka di Palestina.
Meski sikap saling memahami dan menghormati ini dihancurkan, namun jenderal besar bangsa Kurdi, Jenderal Saladin berhasil menyatukan negara-negara Muslim yang tercerai berai lewat jihad melawan orang tidak beragama setelah Bangsa Franks mengepung jalur-jalur perdagangan di Laut Merah dan karavan-karavan haji ke Mekkah.
Pada 1187, Jenderal Saladin mengirim pasukan mata-mata berkekuatan 7.000 tentara darat yang berperilaku baik. Belakangan pasukan mata-mata itu diserang oleh Kaum Templar dan Hospitaller Knight yang sudah porak poranda.
Para tentara yang selamat menentang Raja Yerusalem karena bersedia bekerja sama dengan kaum Muslim karena mereka sendiri sudah melakukan hal itu selama 90 tahun. Mereka karena membujuk sang raja untuk keluar melawan pasukan Saladin yang sudah bersatu.
Di Horns di kawasan Hittin, pasukan Kristen terjebak tanpa air sehingga mereka pun dibunuh dan dicincang berkeping-keping.
Sekali peristiwa, Saladin memberikan kebijakan untuk mengampuni pasukan Kristen yang biasanya dilakukannya untuk menghukum pengkhianat pasukannya yang tidak setia.
Semua tahanannya dari kesatuan-kesatuan militernya sendiri dipancung oleh rekan-rekan mereka yang Muslim, yaitu kaum Sufi.
Berbeda dari pembantaiam kaum Kristen atas warga Yerusalem selama Perang Salib Pertama, Saladin melindungi tempat suci.
Pemimpin yang bertahan, Balian dari Ibelian mengancam akan menghancurkan kota suci, termasuk Dome of Rock, kecuali bila tentaranya yang bertahan itu dibiarkan hidup. Sultan Saladin menerima syarat-syarat itu.
Sultan Saladin bahkan menempatkan penjaga di tempat-tempat kebaktian umat Kristen dan menolak menyerang Gereja Holy Sepulchre sebagai aksi balas dendam terhadap kekejaman kalangan Kristen ketika mengambil alih Yerusalem.
Markas-markas pertahanan Kaum Templar, yaitu Masjid al-Aqsa, kembali menjadi tempat suci Islam setelah tembok-temboknya diperciki air mawar.
Kaum Muslim memerangi kaum Kristen agar bisa menguasai kawasan Timur Tengah selama lima abad. Mereka pun bak terus berperang hingga millennium berikutnya dan selanjutnya.
Pertanyaannya, dengan apakah mereka bisa menguasai Timur Tengah? Sampai sebegitu jauh, terror mengobarkan perang dilakukan dengan membantai manusia, memmerkosa, melakukan penyiksaan, pembakaran, membuat pihak yang kalah kelapararan, perbudakan serta menjebloskan orang ke pernjara.
Meski demikian, semua ini merupakan ancaman terbuka terhadap eksistensi manusia. Akankah delapan ratus tahun selanjutnya memperhitungkan keris-keris tersembunyi Kaum Assasin?
Akankah para pembunuh masa datang perdamaian menggunakan metode-metode terbuka yaitu lewat indoktrinasi, infiltrasi, narkoba dan penyerangan secara diam-diam.
Para Knight Templar, merupakan masyarakat rahasia suci paling berbahaya dan paling berhasil di Eropa Barat.
Metode-metode organisasi mereka diteruskan kepada generasi kaum revolusioner yang belakangan muncul. Meski demikian, mereka terlampau rahasia dan berkuasa demi kelanggengan hidup mereka sendiri.
Setelah kehilangan Yerusalem, mereka diusir dari benteng-benteng mereka yang tersisa. Terjebak antara Bangsa Mongol yang sangat menakutkan dan kaum Turki serta bangsa Mesir di bawah Sultan Baybars, mereka kehilangan benteng demi benteng.
Tidak ada lagi bantuan` effektif yang datang dari Eropa, yang secara luas memanfaatkan para ksatrianya demi berbagai pertikaian antarmereka sendiri; Kerajaan Yerusalem kemudian dihapuskan setelah tentara Perang Salib gagal. Paus sendiri ingin membawa pulang para tentara Perang Salib dari Levant supaya bisa membantunya melawan Kekaisaran Romawi Suci.
Oliver dari Templar meratap iba menghadapi itu semua: ‘Orang yang ingin memerangi bangsa Turki itu gila, karena Yesus Kristus sendiri tidak lagi memerangi mereka. Mereka menaklukkan bangsa Franks, Tartar, Armenia dan Persia. Dan, mereka akan menaklukkannya sehingga rasa sakit itu kuat membebaniku—. Mereka sadar bahwa setiap hari mereka meremehkan kami, karena Allah tidur.’
Pada 1291, Tripoli jatuh sementara Acro diserang pasukan Mesir. Setelah pengepungan yang melelahkan, yang justru menyatukan para pemimpin perang Frankis yang saling bersaing dengan kesatuan-kesatuan militer, bangsa Mameluk memporakporandakan tembok-tembok pelabuhan dekat Menara Terkutuk (Accursed Tower).
Benteng terakhir kaum Templar ini diledakkan dengan bom sehingga kota pun hancur lebur rata tanah.
Penduduknya dibantai atau dijual menjadi budak, sehingga harga seorang gadis di pasar budak Damaskus jatuh hingga menjadi 1 drachma.
Kaum Templar kehilangan fungsi sebagai polisi sepanjang jalan menuju Tanah Suci, karena tidak ada lagi Tanah Suci yang tersisa bagi polisi.
Tidak juga hingga 1917, ketika pasukan Kristen lain memasuki Yerusalem dan makam para Templar di London dimahkotai dengan berbagai karangan bunga.
Kekayaan, kesombongan dan kerahasiaan menyebabkan Kaum Knight Templar menjadi kesatuan yang bertanda khusus.
Seiring kebangkitan negara-negara bangsa yang baru, monarki Eropa tidak memberikan toleransi kepada pasukan dalam pasukan juga bangsa dalam bangsa, khususnya karena kesatuan militer itu kini melayani lebih sebagai bank internasional ketimbang pembela para peziarah.
Setelah abad ketigabelas, kaum Templar memiliki 15.000 pasukan bertombak dan 9.000 tuan tanah di seluruh penjuru Eropa, yang semuanya bebas pajak sehingga mereka aman menyimpan dan mengirimkan emas batangan.
Meski pada Abad Pertengahan, praktek pembungaan uang atau riba dilarang Gereja, kaum Templars membungakan uang mereka atau kirimkan dengan membayar kembali sejumlah uang yang lebih kecil daripada jumlah yang sebenarnya, sementara peminjam mengembalikan lebih banyak uang dibandingkan dengan piutangnya.
Kuil Paris menjadi pusat perdagangan uang dunia. Para raja Eropa selalu kekurangan uang. Mereka terus-menerus kembali kepada para bankir mereka, orang Italia dan Yahudi; lalu karena tidak mampu membayar pinjaman, mereka kemudian mengusir para kreditor mereka.
Kaum Templar khususnya sangat menderita dengan perlakuan ini. Mereka sudah kehilangan Tanah Suci, namun bagai bangsawan mereka berbangga diri sementara pada pihak lain dinamika hidup mereka yang penuh rahasia memungkinkan mereka difitnah. (Bersambung)







