Menu

Mode Gelap

News

Lisa Andriana dan Pacarnya Sekap Kakek Kusnadi dan Kuras 1 Kg Emas dan Uang Rp 2 Miliar

badge-check


					Lisa Andriana dan Naily, diborgol bersama, sebagai tersangka kasus penyekapan kakek Kusnadi, 80, serta menguras harta bendanya. Foto: ist Perbesar

Lisa Andriana dan Naily, diborgol bersama, sebagai tersangka kasus penyekapan kakek Kusnadi, 80, serta menguras harta bendanya. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SURABAYA – Di usia yang menginjak 80 tahun, Kusnadi Chandra seharusnya menikmati masa tua dengan damai, menikmati hasil kerja keras seumur hidup, dan dikelilingi kasih sayang keluarga. Namun, kenyataan pahit justru menimpa lelaki warga Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya ini. Ia mengalami mimpi buruk yang nyata: dikurung, disiksa, dirampas kebebasannya selama hampir setahun penuh, dan yang paling menyakitkan—harta kekayaan hasil jerih payahnya puluhan tahun dikuras habis hingga menyisakan angka fantastis, mencapai lebih dari Rp2 miliar rupiah.

Yang membuat kasus ini semakin mengerikan dan menyayat hati adalah fakta bahwa dalang utama penderitaannya adalah orang yang justru dianggap keluarga dekat, yaitu Lisa Andriana (31 tahun), wanita yang menjalin hubungan asmara dengan anak kandung Kusnadi, Agus Pranoto.

Bahkan, dari hasil pengembangan penyidikan kepolisian dan keterangan langsung korban, muncul indikasi kuat bahwa anak kandung Kusnadi sendiri pun tidak lepas dari jerat keterlibatan dalam kasus kejahatan berat ini. Serta seorang perempuan bernama Naily, pembantu Lisa.

Di hadapan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, Kusnadi menceritakan segalanya dengan mata berkaca-kaca, seolah kembali merasakan rasa sakit fisik dan batin yang pernah menindihnya.

Ia menjelaskan bahwa aksi penyekapan dan pengurasan harta ini berjalan sistematis, terencana rapi, dan dilakukan dengan kejam.

Awal mula mimpi buruk itu dimulai di sebuah apartemen di kawasan Surabaya. Di tempat itu, Kusnadi dikurung selama dua setengah bulan. Pintu selalu dikunci rapat, akses keluar diputus total.

Selama dikurung, perlakuan kasar terus ia terima. Tangan dan kakinya diikat erat sepanjang hari, mulutnya sering disumbat kain agar tidak ada suara yang terdengar keluar.

Ia tidak diperlakukan selayaknya manusia, melainkan seperti barang berharga yang disembunyikan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan buang air pun, ia dipakaikan popok dan tidak diberi ruang bergerak sedikit pun.

“Setelah di Surabaya, saya dipindah ke Semarang. Di sana saya dikurung lagi selama tiga setengah bulan. Kondisinya sama, bahkan makin parah. Dipindah-pindah terus supaya tidak ada yang tahu keberadaan saya,” ungkap Kusnadi gemetar.

Setelah Semarang, ia kembali dibawa berpindah-pindah tempat, hingga total masa penyekapan berlangsung hampir satu tahun penuh.

Di siksaan fisik dan tekanan batin yang berat itu, tersembunyi motif besar lain yang ternyata menjadi akar segalanya: harta kekayaan.

Berdasarkan bukti hukum yang dikumpulkan penyidik serta pengakuan korban, selama dalam penyekapan, Kusnadi dipaksa, diancam, dan ditekan untuk menandatangani berbagai surat pernyataan, surat kuasa, hingga pemindahan aset dan dana miliknya.

“Uang saya, tabungan, rekening, aset tanah dan bangunan, semuanya dikuras habis. Hitungannya mencapai lebih dari Rp2 miliar rupiah. Saya dipaksa tanda tangan surat-surat yang saya sendiri tidak tahu isinya apa, sambil tangan saya diikat dan mulut ditutup,” ungkap Kusnadi.

Ia menyebut bahwa Lisa Andriana bergerak lincah memindahkan dana dan menjual aset korban seolah-olah memiliki hak penuh, padahal Kusnadi dalam keadaan tidak berdaya dan terancam nyawanya jika menolak.

Yang lebih membuat publik dan penyidik terkejut adalah keterangan mengenai keterlibatan anak kandung Kusnadi. Dari keterangan korban serta bukti transaksi dan komunikasi yang dipegang kepolisian, terungkap indikasi kuat bahwa anak Kusnadi—pacar dari Lisa Andriana—terlibat atau setidaknya mengetahui rencana jahat tersebut.

“Anak saya ada di sana. Dia tahu saya dikurung, dia tahu hartanya dikuras. Tapi bukannya menolong, dia justru bersama Lisa. Banyak dokumen yang saya paksa tanda tangani itu juga atas arahan mereka berdua,” tegas Kusnadi dengan nada sedih dan kecewa mendalam.

Kepercayaan seorang ayah kepada anak kandungnya ternyata berbalas pengkhianatan yang menyakitkan.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, membenarkan adanya temuan bukti penggelapan harta yang nilainya mencapai miliaran rupiah serta indikasi keterlibatan anak kandung korban.

Menurutnya, kasus ini bukan sekadar penyekapan biasa, melainkan kejahatan terencana dengan motif ekonomi yang sangat besar.

“Kami sudah mengamankan tersangka utama Lisa Andriana. Terkait anak kandung korban, kami sedang dalami keterlibatannya. Dari bukti aliran dana, dokumen, dan keterangan saksi serta korban, indikasi keterlibatannya cukup kuat. Kami pastikan siapa pun yang terlibat, tidak akan luput dari proses hukum,” ujar Kombes Luthfie.

Kini, meski sudah bebas dan kembali ke rumah, Kusnadi tidak hanya kehilangan masa tua yang bahagia, tetapi juga harta benda hasil kerja keras seumur hidup yang ludes digasak pelaku.

Luka fisik mungkin sembuh, namun luka batin akibat disakiti orang terdekat dan dikhianati anak sendiri, kemungkinan besar akan melekat seumur hidup.

Kusnadi hanya berharap hukum berjalan tegas dan adil. Ia ingin pelaku, termasuk anak kandungnya jika terbukti bersalah, mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tragedi ini menjadi pelajaran pahit: bahaya bisa datang bukan hanya dari musuh, tetapi dari orang yang kita percaya dan kita sayangi.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Sejarah Terorisme (7): Jenderal Saladin Menyatukan Negara Muslim

18 Mei 2026 - 17:22 WIB

DKKI Borong 42 Medali, Merajai Kejuaraan IBKO 1st All Kyokushin Indonesia

18 Mei 2026 - 11:37 WIB

Diserbu Warga Harga LPG Rp16.000 Migor Rp 15.700, Saat Ditinjau Presiden Prabowo

17 Mei 2026 - 15:33 WIB

Warga Serbu Layanan NIB Gratis di CFD Jombang, Agus: Alhamdulillah 30 Menit Selesai

17 Mei 2026 - 14:57 WIB

Presiden Prabowo Cabut Kewenangan Polisi Dialihkan ke TNI, Analis: Kembali ke Dwi Fungsi ABRI

16 Mei 2026 - 21:30 WIB

Pelatihan Kebersihan Lingkungan Poltekes Surabaya di Plumbon Gambang, Beri Filter Air untuk 20 Pengusaha Depo Air Isi Ulang

16 Mei 2026 - 19:59 WIB

Budi Daya Unta di Indonesia, Peluang Baru Bisnis Kurban

15 Mei 2026 - 19:32 WIB

4 TKW Karawang 9 Bulan Disekap di Libya, Dedi Mulyadi: Kita Beresi Mereka Pulang ke Indonesia Hari Ini

15 Mei 2026 - 13:35 WIB

Kebakaran Lantai V Operasi Jantung RSUD Dr Soetomo, Petugas Evakuasi Puluhan Pasien Satu Meninggal Dunia

15 Mei 2026 - 10:09 WIB

Trending di News