Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Akibat Modifikasi, KM Feronia Tak Tahan Digempur Hukum Fisika

badge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis: Eko Wienarto | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, LOMBOK-Industri pariwisata premium Labuan Bajo kembali disuguhi tontonan ironis terbaliknya kapal wisata tradisional KM Feronia di perairan Pulau Tatawa Besar, kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Insiden yang terjadi pada Selasa sore (13/10/2026) ini kembali memperpanjang daftar hitam bagaimana warisan budaya maritim yang aslinya tangguh, dipaksa takluk oleh keserakahan komersial berkedok estetika kemewahan.

Kapal berbobot 51 Gross Tonnage (GT) yang membawa 25 penumpang wisata dan 5 awak tersebut mendadak kehilangan keseimbangan, oleng, lalu terbalik ke sisi kiri sebelum akhirnya tenggelam ke dasar laut.

Sebanyak 29 orang berhasil dievakuasi dengan selamat, namun satu orang dive master lokal bernama Veronica Beatrix Jessica (23 tahun) dilaporkan masih hilang karena diduga terjebak di dalam toilet kapal yang pintunya terkunci dari dalam saat lambung kapal mendadak terbalik.

Otoritas maritim bergegas memberikan pembelaan administratif standar pasca-insiden terjadi. Kepala Kantor KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, bersikeras bahwa secara legalitas, kapal nahas tersebut sama sekali tidak bermasalah sebelum diizinkan berlayar.

“Terkait kelayakan kapal, dokumen Feronia lengkap dan kapal tersebut telah memenuhi persyaratan kelayakan laut,” ujar Stephanus Risdiyanto memberikan konfirmasi.

Ia berdalih bahwa kegagalan kapal menghadapi perairan murni disebabkan oleh faktor alamiah, yakni pusaran air yang kuat saat puncak pasang tertinggi.

Namun, tamparan keras justru datang dari pihak penegak hukum yang melihat adanya ketidakberesan pada anatomi fisik kapal-kapal wisata modern saat ini yang dipaksa menjadi “hotel apung” berjalan.

Kasat Polairud Polres Manggarai Barat, Iptu Leonardo Marpaung, secara terbuka menyoroti kecacatan struktural kapal kayu modifikasi yang mengorbankan kestabilan demi akomodasi turis.

“Kami melihat faktor konstruksi kapal yang dinilai rawan. KM Feronia memiliki lambung yang relatif pendek dan kecil, namun memiliki bangunan kabin yang cukup tinggi. Kondisi ini membuat kapal menjadi sangat labil dan mudah oleng saat dihantam arus,” ungkap Iptu Leonardo Marpaung secara blak-blakan.

Ia juga menambahkan, “Kami tidak menutup kemungkinan adanya unsur kelalaian atau human error dari pihak nakhoda yang kurang memperhitungkan kestabilan kapal saat melintasi pusaran arus.”

Di sisi lain, nakhoda kapal yang kini terancam pemeriksaan hukum mencoba meluruskan kronologi kejadian. Sang kapten, Isran, mengaku telah mencoba memotong kecepatan dari 10 knot menjadi 8 knot saat mendeteksi adanya pusaran arus berjarak 15 meter di depannya.

Namun, struktur dek atas yang terlalu berat membuat kemudi kapal tidak lagi berdaya membelah arus.

Saat kapal mulai miring drastis, Isran mengklaim seluruh energinya habis dikuras untuk menyelamatkan para pelancong yang mayoritas tengah bersantai di dek paling atas.

“Cuaca bagus, hanya arusnya yang kencang. Kapal dihantam arus dari sebelah kiri hingga terbalik. Saya hanya fokus ke tamu, membuka life raft (rakit penolong) agar tamu naik, sudah itu saja,” cetus Isran membela diri usai menjalani pemeriksaan awal dengan pihak berwenang.

Tragedi ini menjadi bukti nyata bahwa selama Syahbandar hanya memeriksa kelengkapan di atas kertas tanpa berani menindak tegas radikalnya modifikasi lambung atas kapal, lautan Labuan Bajo akan terus menjadi “hakim fisika” yang menenggelamkan ego hotel-hotel berjalan tersebut.

Proses pencarian korban hilang saat ini masih terus diupayakan oleh Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, dengan mengerahkan tim penyelam gabungan di bawah bayang-bayang kendala pusaran arus bawah laut yang ekstrem.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Bantuan Pangan Oktober-Desember Mulai Disalurkan Via Kopdes

14 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Mentan Siapkan Rp3 T Bangun Pusat Pengembangan Bibit Ayam di Malang

13 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Pengusaha Buka Suara Soal Pembatasan Gas Industri

13 Oktober 2026 - 19:11 WIB

Restitusi Macet Jadi Ancaman UMKM

13 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Meski Putusan MA Inkrah, Pengasuh Ponpes Mahdiy Sidoarjo Resmi Laporkan Dugaan Keterangan Palsu ke Polisi

10 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Penerimaan Cukai Rokok Elektrik Tembus Rp1,7 Triliun hingga Kuartal III/2026

9 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Ramai Boikot Produk RI di Malaysia hingga Pemerintah Buka Suara

9 Oktober 2026 - 18:58 WIB

Resmi Terbit! Perpres Ojol Atur Biaya Platform Maksimal 8 Persen

8 Oktober 2026 - 20:32 WIB

Penjualan Sepeda Motor September 2026 Melonjak 15,37%, Tembus 654 Ribu Unit

8 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Trending di Nasional