Penulis: Jacobus E. Lato. | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM– Kata mafia mungkin berasal dari kata yang sama dalam bahasa Arab, yang berarti, “tempat pengungsian”. Sejak abad kesembilan, selama Arab berkuasa di Sisilia, tanah itu dipecah-pecah menjadi ladang-ladang pertanian kecil.
Tetapi ketika bangsa Normandia menaklukkan pulau itu dua abad kemudian, para tuan tanah feodal menjarah tanah-tanah kecil itu lalu mengelolanya menjadi perkebunan; sama luasnya dengan perkebunan yang dibangun bangsa Romawi.
Perlakuan mereka terhadap para pekerjanya pun sama kejamnya seperti bangsa Romawi memperlakukan budak pertanian mereka, sehingga mendapatkan mendapatkan perlawanan dari Cicero.
Akibatnya, banyak pemilik tanah yang tidak memiliki apa-apa lari kepada mafia yang berdiam di kawasan perbukitan ketimbang menjadi budak pekerja ladang para tuan yang mencaplok ladang-ladang pertanian mereka.
Pada abad kelima belas, Spanyol menaklukan pulau itu. Pada saat itulah, Inkwisi menggunakan pengadilan bidaah untuk menyiksa dan menjarah orang kaya dan miskin.
Dengan demikian, para penjahat yang bermukim di gunung-gunung merepresentasikan satu-satunya perlawanan terhadap pemerintahan despotik itu.
Para bandit berbagai kota perbukitan yang tidak terkalahkan ketika mempertahankan kehormatan komunitas lokal mereka, menjadi pahlawan kaum tertindas.
Dengan demikian, cikal bakal Mafia yang dikenal masyarakat Sisilia sebagai “Masyarakat Terhormat”, terletak dalam berabad-abad kesalahan pemerintahan yang diderita di tangan berbagai penyerang; mulai dari bangsa Romawi, Arab, Normandia, Spanyol, Neapolitan Bourbons, dan dalam arti tertentu, bangsa Italia utara.
Meski Mafia modern hanya dapat dilacak dari abad kesembilanbelas, namun tradisi kelompok itu sebetulnya terentang kembali hingga masa-masa kekuasaan suku –suku.
Kekuatan Mafia terletak pada kenyataan bahwa ia merupakan masyarakat yang berbasis keluarga.
Disiplinnya bertumbuh kembang karena kebutuhan terhadap keadilan akibat kesalahan tindakan pihak lain yang diderita anggota keluarga dan hanya dapat diharapkan di luar pemerintah resmi. Karena itu, ketika tidak seorang pun percaya pada hukum para penyerang, maka perintah tertulis hukum keluarga akan berperan.
Disiplin keluarga berkembang dengan nama omertia atau kejantanan (manliness). Dalam banyak hal, bentuk disiplin itu sama dengan yang diterapkan oleh klan-klan Skotlandia.
Disiplin itu mencakup penolakan untuk memberikan informasi apapun kepada pihak berwewenang setelah mereka melakukan aksi kekerasan.
Dalam pandangan “keluarga” mafia, pembalasan dendam merupakan tugas keluarga, bukan tugas negara atau Allah.
Aksi kekerasan mata ganti mata dan peluru dibalas dengan peluru dalam perseteruan antarkeluarga, dapat terjadi hingga semua lelaki sebuah keluarga tewas.
Mampu menahan diri dan menerima umpatan keras menyakitkan dari musuh atau penindas namun melakukan balas dendam jika waktunya sudah tepat.
Seumur hidup menolak memaafkan atau melupakan sebuah luka serta patuh kepada pimpinan keluarga, yang keinginannya merupakan hukum dan mencintai sikap rahasia.
Soalnya, hukum resmi selalu bentrok dengan masyarakat kecil dalam sebuah masyarakat yang lebih besar.
Kode semacam ini membangkitkan penghargaan terhadap diri sendiri dan kesadaran terhadap rasa hormat dan tugas yang luar biasa dalam keluarga Mafia termasuk menimbulkan berbagai pembunuhan biadab dan sangat keji yang jarang ada tandingannya dalam masa modern. (Bersambung).

















