Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM-– Pada tahun 1960, gerakan aksi duduk dengan teknik perlawanan diam kaum kulit hitam mencapai Selatan, Klan yang terpecah belah menyelenggarakan sebuah konvensi yang menyepakati federasi yang longgar.
Para anggota Klan di bawah Grand Dragon Georgia hadir ketika kerusuhan meledak pecah di Universitas Georgia, sebuah kampus para mahasiswa kulit hitam untuk pertama kalinya diterima sebagai mahasiswa.
Robert Shetlton, pemimpin United Klan yang tidak memiliki wilayah kekuasaan, berusaha merekrut anggota baru dari antara kalangan sopir.
Namun tidak berhasil kebencian Shelton terhadap kaum Yahudi, kaum kulit hitam, komunis dan Mahkamah Agung diindoktrinasi melalui kesehatan mental dan pembubuhan racun dalam air pun sampai ke telingka beberapa orang Amerika sayap kanan pinggiran yang fanatik.
Beragam kekuatan pembebasan menentang Klan dipimpin oleh Martin Luther King yang kharismatis dan terbunuh, mempertontonkan kepada Masyarakat standar buruk menyedihkan dari gerakan penting terakhir rasis Amerika.
United Klan menjadi sisa-sisa organisasi menyedihkan bagi Klan pertama dan kedua. Mereka berjuang mendapatkan medan pertempuran yang pelahan hilang sambil menentang kemajuan urbanisasi, industrialisasi Amerika serta kemajuan rakyat kulit hitam.
Upacara omong kosong mereka yang tidak tersentuh dunia modern, menjadi suara cegukan. Bukan lagi teriakan membahana.
Berbagai seruannya hanya membuat orang kulit putih miskin kaum kulit putih frustrasi, khususnya mereka yang tidak memiliki pendidikan memadai untuk menjaga kehormatan diri sendiri dalam masyarakat otomatis masa kita.
Nyaris lenyapnya kelompok teroris dan orde militer Kristen menyebabkan sisa-sisa kelompok mereka menjadi sekedar bahan penyulut percecokan kecil di bar-bar. (Bersambung).

















