Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Rumahmu Bisa Jadi Server Dunia, Pasif Income Rp393 Juta/ Tahun

badge-check


					Ini tawaran menggiurkan dari Bos NiVedia, Jensen Huang, setiap rumah di dunia bisa jadi server. Foto: ist Perbesar

Ini tawaran menggiurkan dari Bos NiVedia, Jensen Huang, setiap rumah di dunia bisa jadi server. Foto: ist

Penukis: Jacobus R. Lato  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, AMERIKA— Sebuah konsep revolusioner sedang dikembangkan di Amerika Serikat, yang mengubah fungsi rumah tinggal sekaligus menjadi pusat data mini untuk kecerdasan buatan (AI).

Inisiatif bernama SPAN ini menawarkan pemasangan perangkat keras grafis canggih buatan NVIDIA di rumah-rumah warga, dengan imbalan fasilitas gratis dan bayaran yang sangat besar.

Berdasarkan informasi yang beredar terkait inisiatif penempatan GPU/NVIDIA di rumah warga untuk jaringan komputasi AI terdistribusi:

SPAN adalah Secure Private Artificial Intelligence Network (Jaringan Kecerdasan Buatan Pribadi yang Aman)

Makna & Filosofi Nama:

Secure Aman Data & proses komputasi dilindungi, tidak terbuka sembarangan
Private Pribadi/Distribusi Bukan satu pusat data raksasa, tapi tersebar di rumah-rumah pribadi.

Artificial Intelligence Kecerdasan Buatan Tujuan utamanya: menyediakan daya komputasi untuk AI

Network Jaringan Ribuan unit di berbagai lokasi dihubungkan menjadi satu sistem raksasa

SPAN = Jaringan Komputasi AI Terdistribusi yang Tersebar di Rumah-Rumah Pribadi dengan Sistem Keamanan Terjamin.

Secara harfiah kata “SPAN” sendiri berarti merentang, menjangkau, menyatukan jarak jauh — sangat cocok dengan konsepnya: merentangkan jaringan komputer dari rumah ke rumah, menyatukan kekuatan pemrosesan menjadi satu kesatuan raksasa.

Nama lengkap ini berdasarkan konsep dan informasi yang beredar secara publik. Belum ada rilis resmi yang menyatakan kepanjangan secara mutlak. Jika nanti ada pernyataan resmi dari penyelenggara, bisa disesuaikan.

Penawaran

Berdasarkan informasi yang beredar, program ini menempatkan unit pemrosesan grafis (GPU) di rumah pemilik hunian. Sebagai imbalan, pemilik rumah mendapatkan:

– Listrik gratis
– Internet gratis
–  Pembayaran hingga US$22.000 per tahun — setara sekitar Rp393 juta per tahun

Proyek ini sudah diterapkan pada satu rumah di Amerika Serikat, dan pengembang properti PulteGroup dikabarkan mulai mengujicobakannya pada hunian-hunian baru yang sedang dibangun.

Secara sederhana: rumah Anda menjadi server, dan Anda dibayar untuk itu.

Cara Kerjanya

Konsep dasarnya adalah memanfaatkan jaringan rumah yang tersebar untuk membentuk satu pusat data raksasa terdistribusi.

Alih-alih membangun gedung data center bertingkat, jaringan ini menempatkan perangkat komputasi di ribuan rumah.

Kekuatan gabungan dari ribuan GPU tersebut digunakan untuk kebutuhan komputasi AI yang membutuhkan daya pemrosesan sangat besar.

Program ini masih dalam tahap awal pengujian di Amerika Serikat. Belum ada informasi resmi apakah konsep ini akan masuk ke Indonesia atau negara lain.

Beberapa hal yang perlu dicermati:

  • Konsumsi daya tinggi — GPU kelas data center membutuhkan listrik besar, sehingga infrastruktur rumah harus mampu menopang beban tambahan tersebut.
  • Panas & kebisingan — Perangkat berdaya besar menghasilkan panas dan suara kipas yang bisa mengganggu kenyamanan hunian.
  • Keamanan data & privasi — Ada kekhawatiran bagaimana data yang diproses dari rumah tersebut dilindungi, serta dampak terhadap keamanan jaringan rumah itu sendiri.
  • Ketahanan jaringan listrik nasional — Jika diterapkan secara massal, beban tambahan ini bisa memengaruhi stabilitas jaringan listrik di lingkungan tersebut.

Implikasi untuk Masa Depan

Jika terbukti berhasil dan berkembang luas, konsep ini bisa mengubah wajah komputasi dunia: biaya pembangunan data center raksasa berkurang secara drastis, pemilik rumah mendapat penghasilan tetap, dan komputasi AI bisa didistribusikan ke seluruh dunia.

Namun jika tidak diatur dengan baik, risiko beban listrik, keamanan data, dan ketergantungan terhadap sistem tersebut bisa menjadi masalah baru yang besar.

Saat ini, konsep ini masih dalam tahap pengujian dan belum ada jadwal penerapan di Indonesia. Masyarakat diharapkan menunggu informasi resmi sebelum terlibat dalam program semacam ini.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ferry Irwandi & Ekspedisi KitaBisa Tiba di Flores: Salurkan Donasi Rp4 Miliar untuk Korban Gempa

19 Agustus 2026 - 21:07 WIB

RS Terapung Ksatria Airlangga Galang Dana Bantuan Korban Gempa Flores

19 Agustus 2026 - 15:16 WIB

Menelisik Akar Terorisme (49): Perang Zuku, Hingga Manusia Terakhir

19 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Sidang Daycare Little Aresha, Jaksa: Bayi Diikat, Makanan Sisa Dibubur Kembali

19 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Upacara 17 Agustusan Paling Nyeleneh: Kursi VIP di Gedung Sate untuk Petani, Nelayan, Tukang Sapu dan Rakyat Jelata

18 Agustus 2026 - 21:19 WIB

SignAloud, Sarung Tangan Sakti bagi Tunarungu/Wicara

18 Agustus 2026 - 14:36 WIB

Mobil Brio Tabrak Truk Angkut Gas Alam di Tol Sumo Terbakar, Satu Anak Tewas

18 Agustus 2026 - 09:26 WIB

KPJ Damansara Specialist Hospital 2, Rumah Sakit Layaknya Hotel

18 Agustus 2026 - 07:39 WIB

Diduga Peras Warga Terkait Judol, Dua Oknum Polisi Diamuk Warga di Gresik

17 Agustus 2026 - 16:35 WIB

Trending di News