Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Kamu Tanya 10-50 Pertanyaan, AI Butuh Minum Segelas Air 500 Ml

badge-check


					Ilustrasi. Foto: ist Perbesar

Ilustrasi. Foto: ist

Penulis: Jacobus E. Lato   |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, CALIFORNIA  – Kecerdasan buatan atau AI kini tumbuh secepat kilat, merambah ke segala sendi kehidupan: membantu mendiagnosis penyakit, merancang teknologi baru, memprediksi cuaca, hingga melayani kebutuhan informasi setiap detik.

Namun di balik kemegahan pencapaian itu, tersimpan satu fakta yang jarang disadari: sistem raksasa ini tak bisa berjalan hanya dengan arus listrik semata.

Ia sangat bergantung pada sumber kehidupan yang paling terbatas dan hakiki: air bersih.

Berdasarkan gabungan hasil penelitian Universitas California Riverside, Badan Energi Internasional, dan laporan perusahaan teknologi terbesar hingga pertengahan tahun 2026, diperkirakan seluruh pusat data yang mengelola AI tingkat tinggi di dunia menghabiskan 2,5 hingga 4 miliar liter air bersih setiap harinya.

Angka ini sungguh luar biasa besar, setara dengan kebutuhan air minum dan rumah tangga bagi sekitar 15 hingga 20 juta orang dalam satu hari penuh.

Sebagian besar air tersebut digunakan untuk mendinginkan ribuan hingga puluhan ribu mesin server yang bekerja tanpa henti selama dua puluh empat jam.

Mesin yang panas berlebih akan rusak, sehingga sistem pendingin penguapan menjadi andalan utama, di mana air bersih akan menguap membawa pergi kalor mesin, dan sebagian besarnya tidak kembali langsung ke sumber semula.

Segelas Air

Bahkan interaksi sederhana pun memiliki dampak: satu rangkaian percakapan sepuluh hingga lima puluh pertanyaan secara tidak langsung setara dengan penggunaan sekitar 500 mililiter air, atau satu gelas penuh.

Semua air yang diambil itu berasal dari persediaan yang sama persis dengan yang dipakai manusia: sungai, danau, bendungan, dan lapisan air tanah.

Padahal di seluruh permukaan bumi ini, hanya kurang dari 0,3% air yang layak dipakai langsung. Sisanya terperangkap di gunung es atau berasa asin di samudera luas.

Angka konsumsi AI secara keseluruhan memang masih di bawah persentase pertanian dan kebutuhan rumah tangga, namun masalah utamanya terletak pada lokasi pengambilannya.

Seringkali pusat data justru didirikan di daerah yang persediaan airnya sudah mulai menipis akibat kekeringan dan perubahan iklim.

Jika laju pertumbuhan teknologi ini terus berjalan tanpa perbaikan apa pun, diperkirakan pada tahun 2030 kebutuhan airnya akan naik dua hingga tiga kali lipat lipat.

Bukan berarti air di seluruh dunia akan musnah seketika, namun krisis yang paling nyata adalah ketimpangan: persaingan memperebutkan sumber yang terbatas, di mana kadang kepentingan mesin didahulukan di atas hak dasar warga untuk minum, berkebun, dan hidup.

Itulah bahaya yang mengintai, bukan karena air habis, melainkan pengaturan dan prioritas yang keliru.

Namun pintu perbaikan masih terbuka lebar. Kesadaran kini mulai tumbuh, bermunculan teknologi pendingin tanpa menguapkan air, penggunaan air daur ulang maupun air laut yang diolah, serta komitmen mengembalikan lebih banyak air daripada yang dipakai.

Semua ini kembali pada satu pemahaman mendasar: sehebat apapun ciptaan akal manusia, semuanya tetaplah bersandar pada karunia Tuhan yang jumlahnya tetap.

Kemajuan sejati bukanlah menukar sumber kehidupan demi teknologi, melainkan menjaga keduanya agar berjalan beriringan demi kebaikan semesta.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kata ESDM Soal Penyesuaian Harga Dex Series hingga Pertamax Besok

31 Juli 2026 - 17:24 WIB

Rp124 Miliar Macet di KPRI Sejahtera, Bupati Jombang Warsubi Minta Apraisal dari Tim Independen

31 Juli 2026 - 14:54 WIB

Bupati Probolinggo dan Suami Anggota DPR RI Dituntut 6 Tahun Penjara, Wajib Kembalilan Uang Rp147 M

31 Juli 2026 - 11:41 WIB

Menelisik Akar Terorisme (43): Para Budak Pun Merantai Dirinya Sendiri

31 Juli 2026 - 09:56 WIB

Reskrim Polres Jombang Mulai Selidiki KPRI Sejahtera, Kasus Dana Rp124 Miliar Tidak Cair

30 Juli 2026 - 19:00 WIB

Pemkab Jombang Resmi Buka MPLS Sekolah Rakyat 1 Ajaran 2026/2027

30 Juli 2026 - 18:00 WIB

KAIST Korsel Temukan ‘Sakelar Genetik’ Pengubah Sel Kanker Jadi Sel Normal

30 Juli 2026 - 16:43 WIB

Zoom Meeting Wabub Salmanudin dengan OJK, Penilaian Awal TPAKD Award 2025

29 Juli 2026 - 20:44 WIB

Peringatan Harganas 33, Bupati Warsubi dan Istri Peroleh Penghargaan dari Kementrian KPPK/ BKKBN

29 Juli 2026 - 20:03 WIB

Trending di News