Penulis: Sanny | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, GRESIK – Ketua DPRD Kabupaten Gresik, M. Syahrul Munir, mengeluarkan tantangan berduel kepada sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sedang melakukan audiensi dan menyampaikan aspirasi.
Video rekaman kejadian ini kemudian tersebar luas di media sosial pada Kamis, 21 Mei 2026, dan langsung menjadi sorotan publik.
Peristiwa memanas terjadi di ruang rapat DPRD Kabupaten Gresik pada Rabu, 20 Mei 2026, siang hari.
Latar Belakang
Pertemuan tersebut dihadiri puluhan pedagang kaki lima berasal dari kawasan Semambung, Kecamatan Driyorejo.
Mereka datang ke kantor dewan untuk menuntut kejelasan terkait pembongkaran dan penggusuran lapak serta tempat usaha mereka.
Para pedagang mengaku sudah menunggu kejelasan selama lebih dari 40 hari, bahkan sempat menginap di halaman depan kantor DPRD.
Tiga poin utama yang mereka tanyakan dan minta solusinya adalah:
1. Dasar hukum dan alasan pembongkaran tempat usaha mereka.
2. Kepastian nasib dan kelanjutan mata pencaharian.
3. Jaminan tempat relokasi atau ganti rugi yang layak.
Krolonologi
Saat diskusi dan adu argumen berlangsung, suasana pertemuan menjadi memanas.
Di tengah perdebatan tersebut, Ketua DPRD M. Syahrul Munir terpancing emosi, kemudian berdiri, menunjuk ke arah para pedagang, dan mengeluarkan ucapan menantang menggunakan bahasa Jawa:
“Nek rusuh ojok ndok kene… engkok dilanjut ta wong loroh!”
(Artinya: Kalau mau rusuh atau berantam jangan di sini… nanti kita selesaikan atau berduel di luar saja!
Ayo nek wani wobg loro, ojo nok kene. Jan… (Jika berani, jangan dini) sambil berkali kali mengekan kata: kasar Jawatinuran.
Syarul berujar sambil menuding nuding kepada seseorang pria. Lalaki gondrong itu pun merangsep mendekati Syahrul, siap diajak duel.
Namun, dilerai banyak PKL yang ada disitu, Syahrul ngeloyor keluar ruang
Ucapan tersebut direkam dan beredar luas, menuai berbagai reaksi dari masyarakat.
Alih-alih meminta maaf atau mengakui kekhilafan ucapannya, politisi tersebut justru bersikap menolak kritik dan tidak merasa bersalah.
Ia berkilah bahwa dirinya adalah korban jebakan, ada pihak yang sengaja memancing emosinya, serta meminta publik untuk memahami konteks pembicaraan saat itu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut maupun klarifikasi rinci dari pihak DPRD Kabupaten Gresik terkait peristiwa dan sikap ketua dewan tersebut.**







