Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Tanker Gamsunoro Milik Pertamina Dikontrakan ke Pihak III, lalu Disewa oleh Pertamina Sendiri

badge-check


					Kapal tanker Pertamina Gamsunoro seharga Rp 791,7 miliar, dikelola anak perusahaan PIS, dikontrakan ke pihak III, disewa sendiri oleh Pertamina untul angkut crude oil dari Saudi Arabia. Foto: ist Perbesar

Kapal tanker Pertamina Gamsunoro seharga Rp 791,7 miliar, dikelola anak perusahaan PIS, dikontrakan ke pihak III, disewa sendiri oleh Pertamina untul angkut crude oil dari Saudi Arabia. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto  | Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA— Adrian Umar adalah pelaut Indonesia yang bekerja di sebuah petusahaan kapal Brasil.

Saat itu kapalnya berpapasan dengan tanker Pertamina,  Gamsunoro  Sabtu, 18 April 2026. Ia sempat kontak dan  merekam momen kapalnya berpapasan dengan Gamsunoro di, Selat Hormuz

Ia kaget, karena ternyata kapal itu tidak ada awak kapalnya berasal dari Indonesia, seluruh dari India.

“Ini kapal Pertamina, tapi tak satu pun awaknya dari Indonesia,” kata dia. Unggahannya di medsos kemudian viral di Indonesia.

Kapal ini adalah milik Pertamina melalui Pertamina International Shipping (PIS), anak perusahaan PT Pertamina (Persero), yang bergerak di bisnis pelayaran dan logistik energi internasional.

Gamsunoro sendiri bukan kapal baru; kapal ini dibangun di Jepang dan resmi masuk ke armada Pertamina pada 2014 dengan nilai pembelian sekitar US$46,2 juta (Setara Rp791,7 miliar kurs sekarang).

Disewakan tapi Disewa Pertamina

Di saat kapal itu menjadi sorotan karena tertahan di Selat Hormuz, publik justru dibuat bingung oleh skema operasionalnya: kapal milik BUMN, tetapi beroperasi dalam rantai bisnis internasional, disewa pihak asing, dan tak menyertakan awak Indonesia.

Isu ini pertama kali ramai setelah beredar video dan pemberitaan yang menyebut seluruh awak kapal Gamsunoro bukan WNI.

Kepemilikannya, serta komposisi kru yang menuai protes pelaut nasional. Dari sini, satu pertanyaan utama mengemuka: bagaimana mungkin kapal milik Pertamina justru tidak memberi ruang bagi pelaut Indonesia?

Secara administratif, Gamsunoro adalah bagian dari armada Pertamina International Shipping (PIS), anak usaha PT Pertamina (Persero).

Kapal ini disebut dibangun di Jepang dan resmi masuk armada Pertamina pada 2014 dengan nilai pembelian sekitar US$46,2 juta.

Artinya, dari sisi kepemilikan, Gamsunoro adalah aset nasional. Namun dari sisi pengelolaan, kapal ini beroperasi dalam skema bisnis pelayaran global yang memungkinkan kapal disewa oleh pihak ketiga.

Nama pihak penyewa itu juga terungkap: Aramco Trading Company (ATC), bagian dari Saudi Aramco. Kontrak penyewaan Gamsunoro disebut berlangsung selama satu tahun, dan dijalankan melalui entitas PIS di Singapura.

Skema inilah yang menjadi kunci untuk memahami mengapa kapal milik Pertamina dapat berlayar dengan konfigurasi awak yang tidak berasal dari Indonesia.

Pertamina melalui penjelasan resminya menyebut bahwa penggunaan kru asing di kapal yang beroperasi di pasar internasional bukan hal yang ganjil.

Penjelasan itu disampaikan oleh Vega Pita, selaku Plt Humas PIS, yang menegaskan bahwa Gamsunoro memang berada dalam operasi komersial internasional dan komposisi awaknya mengikuti kebutuhan penyewa, sepanjang tetap memenuhi aturan pelayaran dan regulasi internasional.

Pernyataan itu memang memberi jawaban teknis, tetapi belum tentu menjawab kegelisahan publik.

Sebab, bagi pelaut Indonesia, persoalan ini bukan hanya soal kontrak komersial.

Ada dimensi yang lebih emosional: kapal milik negara, tetapi awaknya bukan anak bangsa. Di titik ini, Gamsunoro menjadi lebih dari sekadar tanker; ia berubah menjadi simbol keterputusan antara aset nasional dan tenaga kerja nasional.

Pertanyaan lain pun muncul. Apakah kontrak Aramco memang mensyaratkan kru non-Indonesia?

Apakah ada kebijakan internal yang membuat pelaut Indonesia tersisih dari kapal-kapal internasional milik Pertamina?

Atau, apakah ini semata konsekuensi dari bisnis pelayaran global yang menempatkan efisiensi dan fleksibilitas operasional di atas identitas kebangsaan awak?

Yang jelas, fakta bahwa Gamsunoro sempat disewa Aramco dan kemudian disebut diawaki kru India menunjukkan satu hal: bisnis kapal tanker milik BUMN kini tak lagi sederhana.

Ia beroperasi di tengah jaringan kontrak, sub-kontrak, dan standar internasional yang sering kali tidak terlihat oleh publik.

Dalam jaringan itu, pemilik kapal belum tentu mengendalikan seluruh detail operasional, termasuk siapa yang bekerja di atas geladak.

Namun di balik logika bisnis tersebut, ada pertanyaan yang lebih besar dan lebih sulit diabaikan: ketika kapal milik Indonesia berlayar dengan kru asing, sejauh mana aset negara itu masih memberi manfaat langsung bagi pelaut nasional?

Kasus Gamsunoro memperlihatkan dua wajah Pertamina sekaligus. Di satu sisi, perusahaan ini berusaha bermain di panggung energi global melalui armada pelayarannya.

Di sisi lain, kebijakan operasionalnya menimbulkan jarak dengan kepentingan pelaut Indonesia yang berharap mendapat tempat lebih besar di kapal-kapal milik sendiri.

Bagi publik, jawaban teknis dari Pertamina mungkin sudah cukup untuk menjelaskan kontrak.

Tapi bagi pelaut Indonesia, pertanyaan paling mendasar masih menggantung: mengapa kapal milik Pertamina yang bernilai besar itu justru jauh dari pelaut bangsanya. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menteri Yusril Minta Ombudsman Buka Semuanya, Izinkan Wartawan Masuk ke LP Cibinong

25 September 2026 - 13:11 WIB

Komisi C Soroti Proyek Revitalisasi 128 Gedung SD/ SMP Jombang dengan Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:44 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:52 WIB

Marathon KPK Geledah Kanwil ATR/ BPN Jatim, Malang dan Rumah Milik Lampri di Pace Nganjuk

25 September 2026 - 10:46 WIB

Kantor Digeledah, Istri Dirjen ATR/ BTN Krystianti Lampri Cuti Menghilang Secara Misterius

24 September 2026 - 23:50 WIB

Oknum Diknas Minta Jatah 10% dari Dana Revitalisasi 180 Gedung SD/ SMP di Bangkalan Rp38 Miliar

24 September 2026 - 16:56 WIB

Tim Ombudsman Sidak ke LP CIbinong: Temukan Bangunan Mirip Hotel dan Deretan Mobil Mewah!

24 September 2026 - 15:32 WIB

Eri Cahyadi Melarang Sekolah Jualan Seragam, Bupati Sidoarjo Melarang Sekolah Acara ODL

24 September 2026 - 09:24 WIB

Hasil Tes DNA Jenazah yang Ditemukan adalah Surakman Awak Arupadatu 1, Posisi 380 Km di Perairan Enggano

24 September 2026 - 03:23 WIB

Trending di News