Penulsi: Sir Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, TEGAL– Inilah detik-detik robohnya asrama Pondok Pesantren Al Adalah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jumat dini hari, 6 Februari 2026, akibat bencana tanah bergerak yang hingga kini masih terus terjadi.
Gedung pondok pesantren (Ponpes) Al-Adalah, Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ambruk total akibat akibat bencana tanah bergerak dipicu hujan deras sejak akhir Januari 2026.
Tidak ada laporan spesifik ambruk , namun fenomena tanah bergerak masih berlangsung hingga 6 Februari, dengan bangunan ponpes seperti asrama dan fasilitas pendidikan rusak sejak 2-3 Februari.
Tanah mulai bergerak perlahan sejak Senin 2 Februari 2026 sore, dengan retakan awal di dinding perdren, memburuk tengah malam hingga Selasa 3 Februari, menyebabkan ambruk sebagian bangunan seperti asrama Putra 1 dan ruang belajar.
Pengurus ponpes, Mohamad Furqon, melaporkan pergerakan yang lambat tapi destruktif, memaksa 526 santri ke area aman sementara. Hingga 5 Februari, BNPB mencatat dampak meluas tanpa korban jiwa.
Dampak Utama
-
104-464 rumah rusak (termasuk 205 rusak berat), mempengaruhi 1.686 jiwa dari 295 KK.
-
Fasilitas rusak: 7 sekolah/ponpes (termasuk SMA Al-Adalah, Ponpes Al-Adalah), 1 musala, 1 polindes, jalan, jembatan, dan irigasi.
-
Ratusan warga dan santri mengungsi ke SDN Padasari 01 dan posko darurat.
BPBD Tegal, Provinsi Jateng, dan BNPB lakukan evakuasi, pendataan, serta kajian cepat; Gubernur Ahmad Luthfi dan Wapres Gibran inspeksi posko 6 Februari, menjanjikan rumah baru bagi korban. Fenomena masih meluas di lereng Gunung Slamet.
Bupati Tegal dan BNPB menyatakan secara eksplisit bahwa mengatakan cepat mencegah adanya korban jiwa, meski ribuan jiwa terdampak. Laporan hingga 5 Februari 2026 menegaskan tidak ada korban meninggal dunia atau luka serius akibat ambruknya gedung passantren dan rumah warga.
Saat ini raatusan warga dan 526 santri mengungsi ke posko aman. Lainnya meliputi Kerusakan464 rumah (205 rusak berat) melayani fasilitas umum.
Pengasuh Mohamad Furqon menyatakan: “Awalnya hanya retakan kecil di dinding sejak Senin sore, tapi kondisi terparah terjadi tengah malam. Tanahnya bergerak pelan, tapi dampaknya luar biasa.”
Ia juga menyebut peristiwa tanah bergerak terjadi secara perlahan namun mematikan, memaksa 500-an santri dari Asrama Putra 1 ke Asrama Putra 2 yang lebih aman.
Furqon menegaskan tidak ada santri yang terluka berkat responsivebile cepat, meski bangunan seperti asrama dan ruang belajar ambruk akibat pergerakan tanah sejak 2 Februari 2026. Pernyataan ini dikutip dari wawancara dengan media lokal pasca-kejadian. **






