Menu

Mode Gelap

Internasional

Rencana Akuisisi Greenland Picu Krisis Diplomatik AS–Uni Eropa, Ada Sejumlah Kepentingan

badge-check


					Rencana Akuisisi Greenland Picu Krisis Diplomatik AS–Uni Eropa, Ada Sejumlah Kepentingan Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, GREENLAND-
Pertemuan darurat para duta besar Uni Eropa menandai meningkatnya ketegangan dalam hubungan transatlantik, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa. Kebijakan itu diambil setelah Uni Eropa menolak rencana AS untuk mengakuisisi Greenland.

Langkah Washington tersebut dinilai kontroversial karena bukan hanya menguji soliditas politik antara AS dan Eropa, tetapi juga berpotensi membuka babak baru persaingan geopolitik dan ekonomi, khususnya di kawasan Arktik yang semakin strategis.

Pertemuan Darurat Uni Eropa

Para duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Minggu, menyusul pengumuman kenaikan tarif oleh Presiden Trump terhadap sekutu Eropa.

Kebijakan ini muncul sebagai respons atas penolakan Eropa terhadap rencana akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dinilai berisiko memicu perang dagang serta meretakkan aliansi transatlantik.

Siprus selaku pemegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa memanggil pertemuan mendesak pada Sabtu malam. Sesi resmi dijadwalkan berlangsung pukul 17.00 GMT.

Presiden Dewan Eropa António Costa menyatakan dirinya tengah mengoordinasikan respons bersama dan menegaskan, “UE akan mempertahankan sikapnya dalam menegakkan hukum internasional, di mana pun hal tersebut berlaku.” Dikutip Reuters.

Alasan Strategis Amerika Serikat terhadap Greenland

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland tidak semata soal wilayah, melainkan didorong oleh kepentingan strategis global.

Pertama, dari sisi militer Arktik. Greenland berada di jalur terpendek lintasan rudal Rusia menuju Amerika Utara. AS telah lama mengoperasikan Pangkalan Udara Thule atau Pituffik Space Base sebagai bagian dari sistem peringatan dini dan pertahanan misil.

Kedua, persaingan geopolitik. Kawasan Arktik kini menjadi arena baru rivalitas global. Rusia memperkuat kehadiran militernya, sementara China masuk melalui penelitian ilmiah dan investasi. AS berupaya mencegah dominasi kedua negara tersebut.

Ketiga, potensi sumber daya alam. Greenland memiliki cadangan rare earth, uranium, minyak, gas, serta mineral strategis lain yang krusial bagi industri teknologi dan militer.

Keempat, terbukanya rute pelayaran baru. Perubahan iklim mencairkan es Arktik dan membuka jalur laut yang dapat memangkas waktu tempuh perdagangan global.

Kelima, aspek keamanan jangka panjang. Penguasaan Greenland dinilai memperkuat kendali AS atas kawasan Atlantik Utara dan Arktik, sekaligus meningkatkan postur pertahanan jangka panjang.

Pandangan Trump

Presiden Trump menegaskan bahwa akuisisi Greenland diperlukan demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Ia menyebut wilayah tersebut dipenuhi aktivitas kapal Rusia dan China serta berpotensi menjadi jalur strategis serangan rudal menuju Amerika.

Menurut Trump, posisi geografis Greenland sangat vital sebagai basis pertahanan misil dan koridor laut, terutama seiring mencairnya es yang membuka akses baru.

Di luar kepentingan militer, ia juga menyoroti nilai ekonomi Greenland, khususnya kandungan mineral langka yang dibutuhkan industri pertahanan, termasuk produksi pesawat tempur F-35.

Trump menilai Denmark tidak cukup mampu melindungi Greenland, sehingga AS perlu mengambil alih demi keamanan global dan kepentingan ekonomi.

Meski sekitar 85 persen penduduk Greenland menolak aneksasi, Trump tetap menyebut rencana tersebut sebagai kebutuhan mutlak bagi keamanan dunia.

Daftar 27 Negara Anggota Uni Eropa

Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Irlandia, Italia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, Slowakia, Slovenia, Spanyol, dan Swedia.

Posisi Greenland

Greenland merupakan wilayah otonomi dalam Kerajaan Denmark. Sejak 2009, wilayah ini memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan mengelola urusan dalam negeri, termasuk sumber daya alam, pendidikan, dan kebudayaan. Sementara itu, Denmark tetap bertanggung jawab atas pertahanan, kebijakan luar negeri, dan urusan moneter.****

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Fenomena ‘Parade Planet’ Februari Mendatang

25 Januari 2026 - 20:02 WIB

Armada Besar Menuju ke Iran, Klaim Trump

23 Januari 2026 - 18:49 WIB

Dewan Perdamaian Buatan Trump: Harapan Baru atau Ancaman?

23 Januari 2026 - 06:05 WIB

Samping Trump, Presiden Prabowo Teken Piagam Board of Peace untuk Gaza

22 Januari 2026 - 22:06 WIB

Hormati Tradisi Kristen Ortodoks, Putin Mandi Air Es

21 Januari 2026 - 20:28 WIB

Diancam Trump Denmark Kirim Tentara ke Greenlad

20 Januari 2026 - 19:15 WIB

Iman Yesuit Christhoporus Bayu Risanto Namanya Diabadikan untuk Asteroid (752402) Bayurisanto

19 Januari 2026 - 22:49 WIB

Nvidia Merajai Chip AI Dunia, Pendapatan 2025 sebesar Rp 2.202 Triliun!

19 Januari 2026 - 10:12 WIB

3400 Korban Tewas di Iran, Namun AS Tunda Serangan Karena Ini

17 Januari 2026 - 13:47 WIB

Trending di Internasional