Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Internasional

Rencana Akuisisi Greenland Picu Krisis Diplomatik AS–Uni Eropa, Ada Sejumlah Kepentingan

badge-check


					Rencana Akuisisi Greenland Picu Krisis Diplomatik AS–Uni Eropa, Ada Sejumlah Kepentingan Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, GREENLAND-
Pertemuan darurat para duta besar Uni Eropa menandai meningkatnya ketegangan dalam hubungan transatlantik, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa. Kebijakan itu diambil setelah Uni Eropa menolak rencana AS untuk mengakuisisi Greenland.

Langkah Washington tersebut dinilai kontroversial karena bukan hanya menguji soliditas politik antara AS dan Eropa, tetapi juga berpotensi membuka babak baru persaingan geopolitik dan ekonomi, khususnya di kawasan Arktik yang semakin strategis.

Pertemuan Darurat Uni Eropa

Para duta besar dari 27 negara anggota Uni Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat pada Minggu, menyusul pengumuman kenaikan tarif oleh Presiden Trump terhadap sekutu Eropa.

Kebijakan ini muncul sebagai respons atas penolakan Eropa terhadap rencana akuisisi Greenland oleh Amerika Serikat, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dinilai berisiko memicu perang dagang serta meretakkan aliansi transatlantik.

Siprus selaku pemegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa memanggil pertemuan mendesak pada Sabtu malam. Sesi resmi dijadwalkan berlangsung pukul 17.00 GMT.

Presiden Dewan Eropa António Costa menyatakan dirinya tengah mengoordinasikan respons bersama dan menegaskan, “UE akan mempertahankan sikapnya dalam menegakkan hukum internasional, di mana pun hal tersebut berlaku.” Dikutip Reuters.

Alasan Strategis Amerika Serikat terhadap Greenland

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland tidak semata soal wilayah, melainkan didorong oleh kepentingan strategis global.

Pertama, dari sisi militer Arktik. Greenland berada di jalur terpendek lintasan rudal Rusia menuju Amerika Utara. AS telah lama mengoperasikan Pangkalan Udara Thule atau Pituffik Space Base sebagai bagian dari sistem peringatan dini dan pertahanan misil.

Kedua, persaingan geopolitik. Kawasan Arktik kini menjadi arena baru rivalitas global. Rusia memperkuat kehadiran militernya, sementara China masuk melalui penelitian ilmiah dan investasi. AS berupaya mencegah dominasi kedua negara tersebut.

Ketiga, potensi sumber daya alam. Greenland memiliki cadangan rare earth, uranium, minyak, gas, serta mineral strategis lain yang krusial bagi industri teknologi dan militer.

Keempat, terbukanya rute pelayaran baru. Perubahan iklim mencairkan es Arktik dan membuka jalur laut yang dapat memangkas waktu tempuh perdagangan global.

Kelima, aspek keamanan jangka panjang. Penguasaan Greenland dinilai memperkuat kendali AS atas kawasan Atlantik Utara dan Arktik, sekaligus meningkatkan postur pertahanan jangka panjang.

Pandangan Trump

Presiden Trump menegaskan bahwa akuisisi Greenland diperlukan demi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat. Ia menyebut wilayah tersebut dipenuhi aktivitas kapal Rusia dan China serta berpotensi menjadi jalur strategis serangan rudal menuju Amerika.

Menurut Trump, posisi geografis Greenland sangat vital sebagai basis pertahanan misil dan koridor laut, terutama seiring mencairnya es yang membuka akses baru.

Di luar kepentingan militer, ia juga menyoroti nilai ekonomi Greenland, khususnya kandungan mineral langka yang dibutuhkan industri pertahanan, termasuk produksi pesawat tempur F-35.

Trump menilai Denmark tidak cukup mampu melindungi Greenland, sehingga AS perlu mengambil alih demi keamanan global dan kepentingan ekonomi.

Meski sekitar 85 persen penduduk Greenland menolak aneksasi, Trump tetap menyebut rencana tersebut sebagai kebutuhan mutlak bagi keamanan dunia.

Daftar 27 Negara Anggota Uni Eropa

Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Irlandia, Italia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Malta, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, Slowakia, Slovenia, Spanyol, dan Swedia.

Posisi Greenland

Greenland merupakan wilayah otonomi dalam Kerajaan Denmark. Sejak 2009, wilayah ini memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan mengelola urusan dalam negeri, termasuk sumber daya alam, pendidikan, dan kebudayaan. Sementara itu, Denmark tetap bertanggung jawab atas pertahanan, kebijakan luar negeri, dan urusan moneter.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Chee Kit Chong WN Australia Dinyatakan Bersalah Memperbudak Lansia Indonesia

28 Mei 2026 - 21:45 WIB

Partai Kecoak Merayap ke Politik India

22 Mei 2026 - 18:17 WIB

Komputer Tak Laku, Terancam Tak Ada Orang Mau Beli Laptop

10 Mei 2026 - 19:12 WIB

Naskah Alkitab Perjanjian Baru 42 Halaman yang Hilang Ditemukan

3 Mei 2026 - 19:02 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Kabar Baik 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz

19 April 2026 - 19:52 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

Kutu Pembunuh Menyerang Korea Selatan, 422 Orang Meninggal

15 April 2026 - 19:06 WIB

Trending di Internasional