Menu

Mode Gelap

Life Style

Ilmuwan: Jenis Tawa Dapat Mengungkapkan Masalah Depresi

badge-check


					Tawa tak selalu bahagia Perbesar

Tawa tak selalu bahagia

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Tidak semua tawa berarti kebahagiaan. Faktanya, jenis tawa tertentu dapat menyembunyikan emosi yang mendalam dan belum terselesaikan , sebagaimana diperingatkan oleh para profesional di Universitas Complutense Madrid.

Menurut penelitian mereka, tawa gugup—jenis tawa yang muncul di saat-saat tidak nyaman, tegang, atau tanpa alasan yang jelas—bisa jadi merupakan cerminan dari kecemasan yang terpendam atau mekanisme pertahanan emosi yang tidak disadari.

Reaksi semacam ini, jauh dari sekadar cara untuk mencairkan suasana, dapat mengindikasikan bahwa seseorang sedang menghadapi stres internal yang belum dikelola dengan baik. Mengenali tanda-tanda ini adalah kunci untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tingkat emosional.

Diagnosis melalui tawa
Sebuah tim multidisiplin dari Universitas Complutense Madrid, bersama dengan Institut Penelitian Kesehatan Aragon dan Institut Ilmu Kesehatan Aragon, telah menunjukkan bahwa tawa dapat menjadi alat diagnostik pelengkap untuk kesehatan mental.

Setelah menganalisis 934 episode tawa dari 50 orang (30 orang dengan depresi dan 20 orang tanpa depresi), para ilmuwan mencapai akurasi 82,1% dalam mendeteksi gejala depresi melalui studi akustik plosif, semburan kecil udara saat kita mengucapkan “ha.”

Analisis ini didasarkan pada sepuluh variabel kunci, termasuk durasi, frekuensi, dan resonansi dari lima plosif pertama dari setiap tawa. Menurut Rafael Lahoz-Beltra, seorang peneliti di Departemen Matematika Terapan (Biomathematics) di UCM, tawa adalah “sidik jari pribadi yang berubah-ubah” yang mencerminkan kondisi mental seseorang, dan entropi (urutan sinyal akustik) akan menjadi penanda kunci untuk membedakan antara orang sehat dan pasien depresi.

Salah satu temuan paling mencolok dari studi yang dipublikasikan di jurnal Entropy adalah peran yang dimainkan oleh episode tawa kelima. Pada subjek sehat, terdapat korespondensi yang jelas antara entropi momen “ha” pertama dan kelima; kedua nilai tersebut cenderung tinggi atau rendah. Namun, pada pasien depresi, pola ini tidak berulang. Menurut para peneliti, ketidakkonsistenan ini dapat mengungkapkan perubahan mekanisme emosional yang terkait dengan ekspresi humor.

Penelitian ini menggunakan algoritma pohon keputusan yang dikembangkan oleh layanan TI UCM, yang memungkinkan klasifikasi sampel tawa secara efisien. Ke depannya, tim peneliti sedang berupaya menerapkan jaringan saraf tiruan untuk mengotomatiskan analisis , dengan tujuan menciptakan perangkat klinis yang membantu mendeteksi depresi sejak dini tanpa hanya bergantung pada penilaian subjektif.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kupeluk Kamu Selamanya, Kisah Keluarga yang Menyentuh dan Menggugah Empati

24 April 2026 - 19:38 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Setelah Membuat Tato, Perempuan Alami Nyeri dan Mata Kanan Kabur

20 April 2026 - 21:12 WIB

no na, Menyatukan Akar Lokal dan Musik Global

19 April 2026 - 20:30 WIB

Jennie Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Tahun 2026

17 April 2026 - 20:31 WIB

Manis yang Terkendali: Rekomendasi Konsumsi Gula Berdasarkan Usia

15 April 2026 - 17:23 WIB

1 Juta Akun TikTok di RI Diblokir, Menkomdigi: Ini Adalah Kemenangan

14 April 2026 - 20:31 WIB

Tantangan Maudy Ayunda Menari Roh Hewan di Film Para Perasuk

12 April 2026 - 20:17 WIB

Cokelat Tak Boleh Disimpan di Kulkas dan Freezer

7 April 2026 - 18:18 WIB

Trending di Life Style