Menu

Mode Gelap

Internasional

Misteri Kepunahan “Hobbit” dari Flores: Antara Iklim, Persaingan, dan Bencana Alam

badge-check


					Hobbit Flores Perbesar

Hobbit Flores

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Pulau Flores, Indonesia, menyimpan salah satu kisah paling menakjubkan dalam sejarah evolusi manusia. Di gua Liang Bua, para arkeolog menemukan fosil manusia mini yang kemudian dinamai Homo floresiensis.

Dengan tinggi hanya sekitar satu meter dan berat sekitar 30 kilogram, mereka segera dijuluki hobbit karena tubuh mungilnya yang mengingatkan pada tokoh fiksi karya J.R.R. Tolkien. Namun, di balik keunikan itu, tersimpan misteri besar: mengapa mereka punah?

Homo floresiensis hidup sekitar 100.000 hingga 50.000 tahun lalu. Mereka menggunakan alat batu sederhana, berburu hewan kecil, dan bahkan gajah kerdil (Stegodon florensis insularis). Kehidupan mereka berlangsung dalam ekosistem pulau yang unik, di mana ukuran tubuh kecil adalah hasil adaptasi dari fenomena island dwarfism—pengecilan ukuran tubuh akibat keterbatasan sumber daya di pulau.

Kini, tim peneliti dari University of Wollongong, berkolaborasi dengan University of Queensland dan Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengungkap alasan hilangnya para hobbit dari Flores.

Awal Kehancuran: Iklim yang Berubah
Penelitian geologi menunjukkan bahwa sekitar 76.000 tahun lalu, Flores mengalami periode kekeringan panjang. Analisis isotop dari stalagmit gua dan gigi hewan mengungkap bahwa curah hujan menurun drastis, menyebabkan vegetasi berkurang dan populasi gajah kerdil menurun. Kehilangan mangsa utama ini menjadi pukulan besar bagi Homo floresiensis, yang bergantung pada hewan tersebut sebagai sumber makanan.

Persaingan dengan Homo sapiens
Sekitar 50.000 tahun lalu, manusia modern mulai memasuki wilayah Asia Tenggara, termasuk pesisir Flores. Kehadiran Homo sapiens membawa teknologi lebih maju, kemampuan beradaptasi lebih baik, dan jumlah populasi yang lebih besar. Homo floresiensis, yang sudah tertekan oleh kondisi lingkungan, harus menghadapi persaingan langsung dalam memperebutkan sumber daya. Ada kemungkinan terjadi konflik atau marginalisasi, yang mempercepat hilangnya populasi hobbit.

Bencana Alam: Letusan Vulkanik
Seakan belum cukup, sekitar 50.000 tahun lalu terjadi letusan gunung berapi besar di Flores. Abu vulkanik menutupi wilayah luas, menghancurkan ekosistem yang tersisa. Peristiwa ini diyakini menjadi pukulan terakhir yang membuat Homo floresiensis tidak mampu bertahan.

Evolusi yang Bercabang
Kepunahan Homo floresiensis menegaskan bahwa evolusi manusia bukanlah jalur lurus menuju Homo sapiens. Sebaliknya, ia penuh cabang, dengan berbagai spesies yang bereksperimen dengan cara hidup berbeda. Homo floresiensis adalah salah satu cabang yang berakhir tragis, tetapi keberadaannya memperkaya pemahaman kita tentang keragaman manusia purba.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Terancam Hukuman 175 Tahun, Linwei Ding Mantan Ahli Google Jual Rahasia AI ke China

23 Februari 2026 - 16:55 WIB

Prabowo Respon Keputusan MA Amerika: Kami Siap dengan Segala Kemungkinan!

23 Februari 2026 - 00:47 WIB

Warga Sipil Taiwan Berlatih Gunakan Walkie Talkie, Siap Hadapi Serangan dari China

17 Februari 2026 - 19:27 WIB

Kapal Perang China Nyaris Masuk Perairan Australia

12 Februari 2026 - 14:47 WIB

Ribuan Warga Gaza Hilang, Diduga “Menguap” Akibat Senjata Suhu Ekstrem

11 Februari 2026 - 21:33 WIB

Saif Al Islami Putra Muammar Gadhaffi Tewas Dibunuh Empat Pria Bertopeng

9 Februari 2026 - 18:54 WIB

Gubernur Korea Selatan Dikecam Usai Usul Impor Perawan Vietnam

9 Februari 2026 - 14:41 WIB

Pakistan Ekspor Daging Keledai 50 Kontener/Bulan ke China, bukan Dimakan tapi untuk Obat Tradisional

1 Februari 2026 - 18:26 WIB

Harga Emas Anjlok 9,8 Persen: Harga Tertinggi US$5.594,82 Menjadi US$4.883,62/ Troy Ounce

31 Januari 2026 - 16:38 WIB

Trending di Headline