Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM– Banyak kaum kulit hitam yang bekerja dalam angkatan bersenjata selama Perang Dunia II atau dipekerjakan dengan gaji tinggi dan pekerjaan yang baik di pabrik-pabrik senjata.
Ketika konflik berakhir, Selatan dihadapkan pada gerakan kaum kulit hitam yang menuntut hal sipil dan kesamaan perlakuan. Klan lantas kembali bangkit untuk ketiga kalinya.
Sasarannya sama dengan Klan pertama; mempertahankan agar kaum kulit hitam dalam kondisi inferior. Namun kali ini, Klan yang baru kembali bangkit itu tidak bisa dimaafkan, karena orang kulit putih Selatan tidak mampu menguasai pemerintahan Negara bagian mereka.
Mereka lalu berpura-pura mengatakan bahwa pemerintah federal – dan belakangan Mahkamah Agung – menindas pemerintahan negara bagian dan mengorbankan hak-hak sipil ke dalam kerongkongan mayoritas kaum kulit putih di Selatan.
Tidak ada pasukan Utara yang mau mempertahankan sepertiga anggota Klan. Kenyataannya, di berbagai tempat terpencil yang jauh lebih brutal di Pedalaman Selatan, para sheriff lokal menggunakan kerudung Klan malam hari.
Lebih sering daripada tidak, polisi kota-kota kecil di Selatan membantu anggota Klan melancarkan aksi teror kepada kaum kulit hitam dan mengusir keluar pekerja hak-hal sipil.
Sebelum Presiden Amerika menyadari kekuatan suara kaum kulit hitam dalam Pemilu kepresidenan kemudian menyusupkan agen FBI ke dalam Klan, semua pihak yang bekerja keras membantu hak sipil di Pedalaman Selatan hanya memilki harapan yang sangat sedikit atas perlindungan hukum dan serangan di depan umum serta pembunuhan.
Ledakan ketiga Ku Klux Klan benar-benar menguntungkan.
Ringkasnya, ia menapatkan sukses awal dalam politik di Georgia, setelah salib-salib aneh dibakar di Stone Mountain lagi pada 1945 dan 50 ribu anggota Klan mencatatkan diri secara teratur sekali lagi.
Namun, ketakutan terhadap kebuasan Nazi menentang bangsa Yahudi menyebabkan sikap anti-Semit kelompok itu membaui hidung bangsa itu, khususnya ketika Klan dihubungkan dengan pendukung Nazi Bund sebelum Perang Dunia II.
Pemerintahan di berbagai negara bagian menolak mengijinkan pertemuan Klan.
Georgia bahkan sesetelah intervensi mencolok Klan dalam pemilihan gubernur, memaksa Klan negara bagian itu menyerahkan piagamnya.
Dengan demikian, sisa-sisa organisasi nasional itu dilarang di markasnya sendiri, menggeliat tidak berdaya, bagai tentakel yang terpenggal tuntas dari tubuh induknya..
Klan lokal kini memiliki musuh baru untuk diperang, FBI. Kasus kan Liindberg pada tahun 1932, memaksa FBI mengambil alih investigasi yang sudah masaah polisi Negara.
Intervensi ini ddiperbolehkan oleh Interstate Commerce Akts (Undang-undang Perdagangan Lintas Negara), yang menyebabkan transportasi manusia melewati batas Negara bagian demi tujuan melawan hokum kejahatan feral.
Pertimbanganpolitis juga mulai membujuk Presiden Amerika bahwa mereka harus maju enenentang Klan guna memuaskan suara kaum kulit hitam yang kuat di kota-kota Utara.
Para informan FBI meenyerang Klan di North Carolina dan memansjarakan 23 anggotanya. Kelemahan Klan adalah bahwa dia dipenuhi oleh orang-orang miksin yang dapat disuap.
Ketika agen-agen federal membutuhkan informasi, maka mereka membayarnya dengan harga wajar atau mengecoh orang-orang mereka sendiri dalam orde berkerudung. (Bersambung).






