Menu

Mode Gelap

Headline

Mendikdasmen: Deep Learning Bukan Kurikulum, Tapi Tantangan Bermunculan

badge-check


					Ilustrasi, Dok: ArtAI Perbesar

Ilustrasi, Dok: ArtAI

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berencana menyederhanakan materi ajar di tiap mata pelajaran sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan bahwa kebijakan ini berkaitan dengan rencana penerapan metode pembelajaran mendalam atau deep learning.

Penerapan deep learning memunculkan tantangan dan solusi, menurut Mu’ti, deep learning menekankan pada proses belajar yang lebih mendalam dan kontekstual. Oleh sebab itu, pengurangan materi dianggap perlu agar siswa dapat lebih fokus dan tidak terbebani,

“Sehingga karena itu maka materi pelajaran akan dikurangi,” kata Mu’ti, Minggu (13/4/2025).

Baca juga: Mode ON OFF, Dulu Dimatikan, Kini SMA IPA, IPS dan Bahasa Dihidupkan Lagi

Baca juga: Jepang Yakin Kebijakan Tarif AS Membuat Biaya Hidup Tinggi, Ini Alasannya

Baca juga: Pemerintah Imbau Migrasi ke e-SIM, Ini Perbedaan dengan SIM Card

“Karena pembelajaran mendalam itu menekankan pembelajaran yang lebih konstruktifis ini teori pelajaran konstruktifis kemudian deep learning proses, proses pembelajaran yang mendalam berpikir tingkat tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mendorong siswa untuk memahami secara lebih menyeluruh materi yang dipelajari, serta menghubungkannya dengan kehidupan nyata.

Mu’ti menegaskan bahwa saat ini penerapan deep learning masih dalam tahap persiapan. “Ini masih ongoing process (mempersiapkan penerapan Deep Learning),” kata Mu’ti.

Keberhasilan penerapan metode ini, menurutnya, sangat bergantung pada jumlah materi yang disampaikan. Jika terlalu banyak, proses mendalam sulit tercapai. Materi sebaiknya disesuaikan dengan kapasitas siswa, menekankan nilai-nilai penting dalam belajar, dan dapat diaplikasikan dalam berbagai konteks.

“Nilai harus melekat pada semua mata pembelajaran, dan nilai menjadi makna utama dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, selain aspek pengetahuan dan kemampuan, Deep Learning juga harus mengedepankan pentingnya nilai,” kata Mu’ti.

Ia juga menyoroti bahwa setiap individu memiliki cara belajar yang unik. Karena itu, deep learning mengedepankan tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful.

Prinsip mindful berarti proses belajar dilakukan secara sadar, penuh hormat, dan memberi ruang bagi siswa untuk menemukan metode belajar yang paling sesuai bagi mereka.

Selanjutnya, prinsip meaningful menekankan pentingnya pemaknaan ilmu dan manfaatnya dalam kehidupan.

“Dan ketiga, yaitu ‘joyful’ yang memiliki arti penghargaan atas raihan penemuan makna serta segala kegunaannya serta manfaatnya untuk masyarakat,” jelas dia.

Sebelumnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluruskan jika deep learning bukanlah kurikulum tetapi pendekatan pembelajaran

“Kami jelaskan ke publik Deep Learning itu apa? makhluk apa? Nah saya klarifikasi dari awal Deep Learning itu bukan kurikulum tetapi pendekatan pembelajaran,” kata Mu’ti dikutip dari akun YouTube TV Muhammadiyah, Senin, (17/2/025).

Menurut catatan redaksi implementasi deep learning dalam konteks pendidikan juga merupakan sebuah tantangan, pengurangan materi pelajaran adalah tantangan yang pertama selain itu masih ada tantangan lain, sebagai berikut

1. Butuh waktu lebih lama
Karena fokus pada pemahaman mendalam, materi tidak bisa diajarkan secara cepat. Ini bisa jadi tantangan jika waktu pembelajaran terbatas. oleh.karena itu materi pelajaran dikurangi.

2. Tergantung kualitas guru
Guru harus punya kemampuan tinggi untuk memfasilitasi pembelajaran aktif, reflektif, dan kontekstual. Tidak semua guru siap atau terlatih untuk ini, membutuhkan penguatan kompetensi guru dan uji kompetensi

3. Tidak cocok untuk semua siswa
Ada siswa yang lebih nyaman dengan struktur dan hafalan. Deep learning bisa terasa sulit atau membingungkan bagi mereka,

Sama halnya dengan dihidupkannya pilihan IPA, IPS dan bahasa, ini karena kemampuan yang berbeda di antara siswa.

4. Evaluasi lebih kompleks
Menilai proses berpikir dan pemahaman mendalam butuh pendekatan penilaian yang lebih kualitatif, bukan sekadar ujian pilihan ganda.

5. Butuh fasilitas dan lingkungan pendukung
Pembelajaran mendalam sering membutuhkan diskusi, proyek, atau eksplorasi, yang tidak selalu bisa dilakukan di semua sekolah.***

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Viral Ijazah Ahmad Sahroni Ternyata Nilai Hampir Semua 6, Siapa yang Tolol?

30 Agustus 2025 - 21:23 WIB

Kekayaan Ahmad Sahroni Rp 328,91 miliar, Rumah Seisinya Dihancurkan Massa

30 Agustus 2025 - 20:49 WIB

Kediri Mencekam, Gedung DPRD Kota dan Polres Dibakar Massa Pendemo

30 Agustus 2025 - 19:49 WIB

Wabup Jombang Kibarkan Bendera Start Garak Jalan ROJO, Diikuti 99 Regu Tempuh 18 Km

30 Agustus 2025 - 19:32 WIB

Detik-detik Sebelum Fotografer Humas DPRD Kota Makassar Meninggal Dikepung Kobaraan Api

30 Agustus 2025 - 18:50 WIB

Mojowarno Creative Fest 2025, Salmanudin: GPM Harus Tersebar di Desa-desa

30 Agustus 2025 - 18:40 WIB

Satu Minggu Demo Perlawanan Rakyat dari Tolak Fasilitas DPR, Hostum hingga Aksi Solidaritas

30 Agustus 2025 - 10:29 WIB

Besok, Hari Terakhir Program Pemutihan Pajak Kendaraan Jatim

30 Agustus 2025 - 09:45 WIB

Polres Jombang Gelar Salat Gaib dan Doa Bersama Bersama Ratusan Ojol

30 Agustus 2025 - 09:23 WIB

Trending di Nasional