Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Ibarat Goliat Vs Daud, Al Green Ajukan Pemakzulan Presiden Trump dalam Tempo 30 Hari

badge-check


					Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Al Green, merancang usaha pemakzulan terhadap Presiden Amerika, Donald Trump. 
Tangkap Layar Video Youtube@CNBCTelevition Perbesar

Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Al Green, merancang usaha pemakzulan terhadap Presiden Amerika, Donald Trump. Tangkap Layar Video Youtube@CNBCTelevition

Penulis: Jacobus E. Lato   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, WASHINGTON- Setelah Presiden Korea Selatan  jatuh akibat pemakzulan kini menular ke Amerika Serikat. Seorang anggota Kongres dari Partai Demokrat, Al Green, sedang mengajukan pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam waktu 30 hari.

Dalam orasinya di Washington, D.C., pada tanggal 5 April 2025, Green menegaskan bahwa Trump tidak layak menjabat sebagai presiden dan menyebutnya sebagai “Goliat” yang mengendalikan berbagai institusi penting, termasuk militer dan Departemen Kehakiman.

Green berencana membawa naskah pemakzulan tersebut dan menyatakan, “Saya ingin Anda tahu, Tuan Presiden, bahwa Daud ini akan mengejar Anda,” merujuk pada kisah Alkitab di mana Daud mengalahkan Goliat.

Ini bukanlah upaya pertama Green untuk memakzulkan Trump; sebelumnya ia telah mengajukan tiga kali upaya serupa selama masa jabatan pertama Trump dari 2016 hingga 2020, namun semua upaya tersebut gagal.

Aksi ini juga terjadi di tengah protes besar-besaran di seluruh Amerika Serikat yang menentang kebijakan Trump dan slogan populisnya “Make America Great Again.”

Ribuan demonstran berkumpul di hampir seribu lokasi, membawa poster dengan berbagai pesan penolakan terhadap kebijakan pemerintah saat ini.

Trump cenderung menganggap upaya pemakzulan sebagai serangan politik yang tidak berdasar.

Dalam pemakzulan sebelumnya, Trump telah menyatakan bahwa ia merasa tidak bersalah dan menganggap proses tersebut sebagai “perburuan penyihir” yang dilakukan oleh Partai Demokrat. Ia juga sering merespons dengan retorika yang menekankan dukungan dari basisnya di Partai Republik, serta menuduh lawan politiknya berusaha mendiskreditkan dirinya.

Mengacu pada situasi saat ini, jika mengikuti pola perilaku sebelumnya, Trump kemungkinan besar akan mengecam upaya pemakzulan ini dan menyebutnya sebagai bentuk ketidakpuasan politik dari lawan-lawan politiknya.

Presiden Korea Jatuh
Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, resmi dimakzulkan oleh Mahkamah Konstitusi pada tanggal 4 April 2025. Keputusan ini diambil dengan suara bulat 8-0, menandai pemecatan pertama seorang presiden yang sedang menjabat di Korea Selatan dalam delapan tahun terakhir.

Pemakzulan ini berakar dari tindakan Yoon yang mengumumkan darurat militer pada bulan Desember 2024, yang dianggap sebagai pelanggaran konstitusi dan hak-hak rakyat.

Setelah pemakzulan, Yoon menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukungnya, mengungkapkan penyesalan karena tidak dapat memenuhi harapan mereka.

Ia menyatakan bahwa melayani negara adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya. Keputusan pemakzulan ini juga memicu protes dari pendukung Yoon, sementara lawan-lawan politiknya merayakan keputusan tersebut sebagai langkah penting menuju pemulihan demokrasi di Korea Selatan.

Dengan pemecatan ini, Korea Selatan diharuskan untuk mengadakan pemilihan presiden baru dalam waktu 60 hari, dengan batas waktu jatuh pada 3 Juni 2025. Penjabat presiden saat ini, Han Duck-soo, diharapkan akan mengumumkan tanggal pemilihan dalam waktu dekat. **

Presiden Korea Jatuh
Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, resmi dimakzulkan oleh Mahkamah Konstitusi pada tanggal 4 April 2025. Keputusan ini diambil dengan suara bulat 8-0, menandai pemecatan pertama seorang presiden yang sedang menjabat di Korea Selatan dalam delapan tahun terakhir. Pemakzulan ini berakar dari tindakan Yoon yang mengumumkan darurat militer pada bulan Desember 2024, yang dianggap sebagai pelanggaran konstitusi dan hak-hak rakyat.

Setelah pemakzulan, Yoon menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukungnya, mengungkapkan penyesalan karena tidak dapat memenuhi harapan mereka. Ia menyatakan bahwa melayani negara adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya.

Keputusan pemakzulan ini juga memicu protes dari pendukung Yoon, sementara lawan-lawan politiknya merayakan keputusan tersebut sebagai langkah penting menuju pemulihan demokrasi di Korea Selatan.

Dengan pemecatan ini, Korea Selatan diharuskan untuk mengadakan pemilihan presiden baru dalam waktu 60 hari, dengan batas waktu jatuh pada 3 Juni 2025. Penjabat presiden saat ini, Han Duck-soo, diharapkan akan mengumumkan tanggal pemilihan dalam waktu dekat. **

**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Banyak Polemik, Pemerintah Akan Kaji Ulang Penentuan Desil

21 Agustus 2026 - 19:19 WIB

KPK Angkut Rektor dan Wakil ke Gedung Jakarta, Hasil OTT di Unsoed Purwokerto

21 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Sadis Bully Pelajar di Kebumen: Pelaku Simpan 15 Rekaman, Motif Cemburu

21 Agustus 2026 - 08:21 WIB

Ilmuwan Tiongkok Menciptakan Berlian yang Tak Bisa Dihancurkan

19 Agustus 2026 - 21:42 WIB

Ferry Irwandi & Ekspedisi KitaBisa Tiba di Flores: Salurkan Donasi Rp4 Miliar untuk Korban Gempa

19 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Rumahmu Bisa Jadi Server Dunia, Pasif Income Rp393 Juta/ Tahun

19 Agustus 2026 - 20:29 WIB

RS Terapung Ksatria Airlangga Galang Dana Bantuan Korban Gempa Flores

19 Agustus 2026 - 15:16 WIB

Menelisik Akar Terorisme (49): Perang Zuku, Hingga Manusia Terakhir

19 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Sidang Daycare Little Aresha, Jaksa: Bayi Diikat, Makanan Sisa Dibubur Kembali

19 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Trending di News