Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM-Penerbangan Latam LA3367 baru saja lepas landas dari Rio de Janeiro menuju São Paulo di Brasil pada hari Kamis (20/2) ketika ditabrak burung, memaksanya untuk berbalik dan melakukan pendaratan darurat, Agencia Brasil melaporkan.
Foto-foto menunjukkan hidung jet Airbus itu hancur — dengan lubang besar — dan darah berlumuran di sekitar penyok lainnya.
Tidak ada yang terluka, tetapi penerbangan akhirnya dibatalkan — membuat CEO LATAM, Jerome Cadier marah.
“Saya melampiaskannya!” tulis CEO itu dalam posting LinkedIn yang frustrasi tentang insiden itu.
“Terjadi lagi tabrakan burung. Pesawat kembali dengan selamat, tetapi penerbangan itu jelas dibatalkan, mengganggu kehidupan semua penumpang, dan tentu saja maskapai juga,” tulis eksekutif itu.
Insiden itu terjadi beberapa hari setelah penerbangan Latam 3319 dari Bandara Fortaleza ke Bandara Internasional Guarulhos di São Paulo ditabrak burung beberapa menit setelah lepas landas pada hari Senin (17/2), Diario de Nordeste melaporkan.
Penerbangan itu juga terpaksa melakukan pendaratan darurat di bandara Fortaleza, kata media tersebut.
Timbulkan Kerusakan Fatal
FAA mencatat, sebesar 61% tabrakan burung dengan pesawat sipil terjadi selama fase pendaratan, 36% terjadi selama lepas landas, dan 3% terjadi saat penerbangan.
Menurut dosen senior operasi penerbanga di Buckinghamshire New University, Marco Chan, dikutip dari The Guardian, bahaya tabrakan dengan burung terhadap pesawat tergantung dari faktor ukuran burung, kecepatan pesawat, lokasi tabrakan, dan desain mesin.
Burung dengan berat hingga satu kilogram, kata Chan, jarang menyebabkan kerusakan fatal, tetapi dapat merusak bilah mesin atau komponen penting lainnya. Sedangkan burung yang beratnya lebih dari tiga kilogram, menimbulkan risiko tertinggi.
“Terutama jika tertelan ke dalam mesin,” kata Chan.
Chan menambahkan, burung yang lebih kecil juga bisa menyebabkan masalah yang signifikan pada kecepatan tinggi, terutama bila kawanan ini menabrak beberapa sistem.
FAA mencatat, sebesar 61% tabrakan burung dengan pesawat sipil terjadi selama fase pendaratan, 36% terjadi selama lepas landas, dan 3% terjadi saat penerbangan.
Menurut dosen senior operasi penerbanga di Buckinghamshire New University, Marco Chan, dikutip dari The Guardian, bahaya tabrakan dengan burung terhadap pesawat tergantung dari faktor ukuran burung, kecepatan pesawat, lokasi tabrakan, dan desain mesin.
Burung dengan berat hingga satu kilogram, kata Chan, jarang menyebabkan kerusakan fatal, tetapi dapat merusak bilah mesin atau komponen penting lainnya. Sedangkan burung yang beratnya lebih dari tiga kilogram, menimbulkan risiko tertinggi.
“Terutama jika tertelan ke dalam mesin,” kata Chan.
Chan menambahkan, burung yang lebih kecil juga bisa menyebabkan masalah yang signifikan pada kecepatan tinggi, terutama bila kawanan ini menabrak beberapa sistem. ***











