Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Nasional

Heboh Tes Kehamilan Siswi SMA Cianjur Setahun Dua Kali

badge-check


					Video yang memperlihatkan siswi SMA Sulthan Baruna, Cianjur, Jawa Barat, sedang menjalani tes kehamilan viral di media sosial. (Instagram/cianjurtea_) Perbesar

Video yang memperlihatkan siswi SMA Sulthan Baruna, Cianjur, Jawa Barat, sedang menjalani tes kehamilan viral di media sosial. (Instagram/cianjurtea_)

KREDONEWS.COM, CIANJUR-SMA Sulthan Baruna di Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, baru-baru ini menjadi sorotan setelah tes kehamilan yang dilakukan pada siswinya viral di media sosial.

Dalam video yang beredar, terlihat puluhan siswi tengah mengantre untuk menjalani tes urine kehamilan.

Didampingi oleh guru perempuan, mereka masuk satu per satu ke toilet untuk melakukan tes menggunakan alat deteksi kehamilan.

Hasil tes tersebut langsung dibawa oleh pihak sekolah tanpa diumumkan kepada publik.

Kepala Sekolah SMA Sulthan Baruna, Sarman, mengungkapkan bahwa tes kehamilan ini sudah menjadi bagian dari program yang dijalankan sejak dua tahun lalu.

Tes dilakukan setiap selesai libur semester, dengan tujuan untuk mencegah kenakalan remaja, khususnya setelah masa liburan.

“Program ini sudah dilaksanakan selama dua tahun dan dilakukan dua kali setiap tahunnya, yaitu setelah libur semester dan pada awal tahun ajaran baru. Kami ingin memastikan apakah ada siswi yang hamil atau tidak” jelas Sarman, dilansir dari Antara, Kamis (23/1).

Menurut Sarman, kebijakan ini mulai diterapkan setelah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil setelah libur semester tiga tahun lalu.

Kejadian tersebut membuat orang tua siswi tersebut memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya.

“Saat itu, orang tua melaporkan bahwa anaknya hamil setelah libur semester, sehingga kami merasa perlu untuk mengambil langkah preventif,” lanjutnya.

Sarman menegaskan bahwa pelaksanaan tes kehamilan dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap privasi para siswi.

“Program ini sudah dilaksanakan selama dua tahun dan dilakukan dua kali setiap tahunnya, yaitu setelah libur semester dan pada awal tahun ajaran baru. Kami ingin memastikan apakah ada siswi yang hamil atau tidak” jelas Sarman, dilansir dari Antara, Kamis (23/1).

Menurut Sarman, kebijakan ini mulai diterapkan setelah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil setelah libur semester tiga tahun lalu.

Kejadian tersebut membuat orang tua siswi tersebut memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya.

“Saat itu, orang tua melaporkan bahwa anaknya hamil setelah libur semester, sehingga kami merasa perlu untuk mengambil langkah preventif,” lanjutnya.

Sarman menegaskan bahwa pelaksanaan tes kehamilan dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap privasi para siswi.

Hasil tes tidak diumumkan kepada publik dan hanya digunakan untuk evaluasi internal sekolah.

“Prosesnya tertutup, mungkin viral karena ada salah satu guru yang merekam dan membagikan video tersebut di media sosial,” sebut Sarman.

Pihak sekolah juga menegaskan bahwa para orang tua mendukung pelaksanaan tes ini sebagai langkah untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga perilaku dan kesehatan reproduksi.

Namun, program ini mendapat kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang menilai bahwa tes kehamilan tersebut bersifat diskriminatif, karena menempatkan perempuan sebagai objek seksual.

“Kami prihatin dengan tindakan ini, karena menempatkan anak perempuan sebagai objek seksual,” ujar Ai Maryati, Komisioner KPAI, kepada detikJabar.

Ai juga menekankan bahwa jika tujuan sekolah adalah mengantisipasi pergaulan bebas, edukasi dan literasi kepada siswa seharusnya menjadi prioritas utama.

Sementara itu, Sarman menyatakan bahwa meskipun ada pro dan kontra terkait program ini, pihak sekolah tetap melanjutkannya, karena mendapat dukungan dari orang tua.

“Kami akan terus melakukan ini selama dampaknya positif,” tutupnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Meski Putusan MA Inkrah, Pengasuh Ponpes Mahdiy Sidoarjo Resmi Laporkan Dugaan Keterangan Palsu ke Polisi

10 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Penerimaan Cukai Rokok Elektrik Tembus Rp1,7 Triliun hingga Kuartal III/2026

9 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Ramai Boikot Produk RI di Malaysia hingga Pemerintah Buka Suara

9 Oktober 2026 - 18:58 WIB

Resmi Terbit! Perpres Ojol Atur Biaya Platform Maksimal 8 Persen

8 Oktober 2026 - 20:32 WIB

Penjualan Sepeda Motor September 2026 Melonjak 15,37%, Tembus 654 Ribu Unit

8 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Sembilan Hakim MK Kini Menghadapi Sidang Etik di MKMK

8 Oktober 2026 - 19:55 WIB

Waspada Impostor Content: Modus Baru Penipuan Digital yang Catut Nama Pejabat

7 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Mendag Ungkap Penyebab Harga Kedelai Mahal

6 Oktober 2026 - 21:04 WIB

Menanti Kehadiran Nusron Wahid di Meja Saksi KPK Pekan Ini

6 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Trending di Nasional