Menu

Mode Gelap

Life Style

Cara Mencegah Orang Bunuh Diri Tapi Tidak Beragama, Tips dari Thailand

badge-check


					Cara Mencegah Orang Bunuh Diri Tapi Tidak Beragama, Tips dari Thailand Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, BANGKOK– Regis Machdy, seorang psikolog yang kini praktik sebagai konselor kesehatan mental di Thailand, membagikan pengalaman penting dalam menghadapi klien yang mengalami pikiran bunuh diri namun tidak beragama.

Dalam video yang diunggah ke Instagram pribadinya pada 16 Juli 2025, Regis menekankan pentingnya pendekatan empatik yang tidak menghakimi dan bebas dari asumsi berbasis agama.

Regis, yang pernah mengalami depresi berat selama 10 tahun, menceritakan pengalamannya saat ditangani oleh seorang psikolog yang menyarankannya untuk berzikir seribu kali. “Yes, I did that. Dan akhirnya apa? Nggak ngaruh, saya jadi makin males ibadah,” ujarnya. Ia menilai pendekatan semacam itu tidak efektif, terutama bagi individu yang tidak memiliki latar belakang religius.

Dalam praktiknya di Thailand, Regis menangani banyak klien muda dari berbagai negara dan latar belakang, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kaya tapi tidak memiliki keyakinan agama.

Menurutnya, pendekatan psikologis yang hanya berlandaskan nilai-nilai agama tidak selalu relevan dan bisa menimbulkan jarak. “Kita nggak bisa bawa value Indonesia yang rasa paling benar, paling suci, dan hanya pakai solusi agama,” tegasnya.

Berikut delapan pendekatan yang digunakan Regis saat menghadapi klien dengan pikiran bunuh diri:

1. Dengarkan dengan empati tanpa menghakimi.
Ucapkan, “Ada apa? Ada yang bisa aku bantu? Aku di sini.” Hindari komentar seperti “Harusnya kamu bersyukur,” yang justru bisa menambah tekanan.

2. Tanyakan tentang hobi mereka.
Gali kembali hal-hal kecil yang pernah membuat mereka bersemangat. “Kadang mereka cuma butuh diingatkan, bukan dipaksa bahagia,” kata Regis.

3. Bahas tentang mimpi atau hal yang ditunggu.
Mimpi kecil seperti menonton konser, belajar masak, atau menabung untuk traveling bisa menjadi jangkar emosional yang membuat mereka bertahan.

4. Validasi perasaan lelah mereka.
Ucapan seperti “Pasti capek jadi kamu” atau “Hidup sendirian itu berat” bisa sangat berarti.

5. Tawarkan kehadiran tanpa syarat.
“Aku di sini, aku dengerin kamu, kapanpun kamu butuh cerita,” adalah bentuk dukungan yang nyata.

6. Ajak melakukan aktivitas kecil yang menenangkan.
Jalan kaki, melihat langit, atau mencium aroma terapi bisa memberi rasa nyaman dan koneksi dengan tubuh.

7. Hindari kata-kata seperti ‘harus kuat’.
Gantikan dengan, “Nggak apa-apa kamu sedih.” Regis menekankan bahwa yang menyelamatkan bukan kekuatan, tapi koneksi.

8. Pastikan apakah ada rencana konkret untuk bunuh diri.
Jika sudah masuk tahap perencanaan, maka pendekatannya harus berbeda dan memerlukan intervensi profesional segera.

Regis menutup videonya dengan mengingatkan bahwa membantu orang yang sedang berada di titik rendah tidak harus selalu dengan ‘menyelamatkan’, tapi cukup dengan hadir, mendengarkan, dan memberi ruang. “Kadang hal-hal ringan membuat kita ngerasa hidup ini tidak berat,” ujarnya.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Mengenal Kopi Rendah Asam, Lambung Lebih Nyaman

15 Mei 2026 - 19:16 WIB

Adegan Sydney Sweeney di Euphoria Picu Kritik

13 Mei 2026 - 19:07 WIB

No Na Bawa Indonesia ke THE FIRST TAKE Jepang

12 Mei 2026 - 18:36 WIB

Gejala Hantavirus: Demam hingga Sesak Napas

11 Mei 2026 - 20:39 WIB

BPOM Umumkan 11 Kosmetik Berbahaya

7 Mei 2026 - 19:59 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

Kupeluk Kamu Selamanya, Kisah Keluarga yang Menyentuh dan Menggugah Empati

24 April 2026 - 19:38 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Setelah Membuat Tato, Perempuan Alami Nyeri dan Mata Kanan Kabur

20 April 2026 - 21:12 WIB

Trending di Life Style