Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, SUMATERA UTARA- Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menetapkan status tanggap darurat bencana banjir bandang, longsor, dan gempa bumi melalui Keputusan Gubernur Nomor 188.44/ 836/ KPTS/ 2025 pada 27 November 2025, yang berlaku hingga 10 Desember 2025 untuk mempercepat penanganan darurat, evakuasi korban, dan pemulihan infrastruktur.
Ia menekankan prioritas pada pencarian korban hilang, penyelamatan, layanan darurat, serta pembukaan akses jalan yang terputus, dengan biaya ditanggung APBD Provinsi Sumut.
Bobby menyatakan bahwa bencana ini meluas ke 12-14 kabupaten/kota, menyebabkan kerugian infrastruktur dan ekonomi besar, sehingga status darurat diperlukan untuk koordinasi cepat antarinstansi.
Ia menunda kunjungan ke Sibolga dan Tapanuli Tengah karena cuaca buruk, sambil memastikan bantuan logistik terus disalurkan meski beberapa wilayah seperti Tapteng masih terisolasi. Gubernur juga meminta kepala daerah lebih waspada terhadap cuaca ekstrem dan mengimbau warga meninggalkan zona rawan banjir-longsor.
Respons
BPBD Sumut, melalui Kadis Kominfo Erwin Hotmansyah, menyampaikan bahwa status darurat memerintahkan semua perangkat daerah bertindak segera untuk minimalkan korban tambahan, dengan fokus evakuasi dan bantuan.
Hingga 27 November, data sementara mencatat 43-48 korban tewas, 81 luka-luka, dan 88 hilang, dengan ribuan warga mengungsi di 10-12 kabupaten/kota. Pemerintah provinsi berkolaborasi dengan pusat, Polri, dan TNI untuk operasi kemanusiaan berkelanjutan.
Peristiwa ini terjadi sejak 24 November dan menimpa 11 kabupaten/kota, dengan jumlah korban tewas mencapai 43 orang dan 88 lainnya hilang hingga laporan terakhir. Sebanyak 2.851 warga terpaksa mengungsi karena banjir dan longsor yang meluas, yang juga mengakibatkan kerusakan rumah, jalan, dan fasilitas umum.
Banjir dan longsor hebat melanda kabupaten/kota termasuk Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Sibolga, Nias Selatan, dan Kota Padangsidimpuan.
Dampak cukup parah terlihat di Tapanuli Selatan dengan lebih dari 2 ribu penduduk mengungsi, dan di Mandailing Natal dengan 561 kepala keluarga terdampak.
Akses jalan di sejumlah daerah terputus total, serta jaringan listrik dan telekomunikasi juga terhenti, memperparah kondisi evakuasi dan bantuan.
Jumlah Korban
Korban tewas berjumlah 43 orang, dengan tambahan 88 orang dinyatakan hilang. Beberapa kabupaten yang mencatat korban meninggal antara lain Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Mandailing Natal. Luka-luka juga dialami puluhan warga yang kini menjalani perawatan medis.
Kerusakan meliputi ratusan unit rumah dengan berbagai tingkat kerusakan, sekolah, dan jembatan yang putus.
Luapan sungai dari banjir bandang juga merendam puluhan hektare lahan pertanian, menyebabkan kerugian besar bagi kehidupan warga yang bergantung pada pertanian. Akses evakuasi terganggu oleh cuaca ekstrem dan derasnya arus air yang datang tiba-tiba dari wilayah pegunungan.
Penyebab utama bencana adalah hujan deras selama beberapa hari yang dipicu oleh dua siklon di Selat Malaka, serta deforestasi yang merusak hutan-hutan di kawasan hulu seperti Batang Toru.
Kerusakan hutan ini diduga memperparah banjir bandang karena berkurangnya penyerapan air dan pengendalian aliran air.
Bencana ini merupakan salah satu yang terburuk di Sumatera Utara dalam beberapa dekade terakhir dan masih dalam proses evakuasi serta penanganan darurat oleh berbagai instansi termasuk Polri dengan mengerahkan lebih seribu personel untuk operasi kemanusiaan..**







