Penulis: Yuven Sugiarno | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, PENANG-Warga Indonesia menjadi salah satu penyumbang devisa bagi Malaysia dari sektor kesehatan. Hal ini karena pasien rumah sakit di Negeri Jiran tersebut ramai berasal dari Indonesia.
Bank investasi Affin Hwang dan perusahaan investasi Daiwa, dalam laporan mengenai prospek sektor kesehatan Malaysia, mengungkapkan kontribusi pasien dari Indonesia sangat penting.
Alasan warga Indonesia ke rumah sakit luar negeri termasuk Malaysia adalah karena kurangnya infrastruktur dan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Alvarez & Marsal dalam penelitannya mengemukakan bahwa setiap tahun, sekitar 2 juta warga Indonesia bepergian ke luar negeri untuk pemeriksaan dan pengobatan medis, menghabiskan sekitar US$9 miliar atau Rp138,6 triliun (kurs = Rp15.400/US$).
“Indonesia tetap menjadi sumber utama pasien rumah sakit bagi Malaysia, menyumbang lebih dari setengah dari total wisatawan medis Malaysia,” ungkap laporan Affin Hwang & Daiwa, Sabtu (7/9/2024).
Devisa yang dikeluarkan warga Indonesia untuk berobat ke Malaysia tidak diketahui secara pasti. Namun, diperkirakan devisa yang hilang akibat warga Indonesia berobat ke luar negeri mencapai Rp100–180 triliun per tahun.
Apakah benar demikian? Para analis pelayanan kesehatan Malaysia tidak memandang seperti itu. Malaysia punya problem yang mirip dengan Indonesia`
Di Ambang Kehancuran

Island Hospital Penang sering dikunjungi warga RI
Sistem perawatan kesehatan Malaysia menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk rumah sakit yang penuh sesak, staf medis yang dibayar rendah, dan kekurangan sumber daya penting. Pandemi COVID-19 telah memperburuk masalah ini, sehingga menimbulkan tekanan yang sangat besar pada tenaga medis dan pasien.
Rumah sakit umum di Malaysia mengalami permintaan yang tinggi, yang menyebabkan kepadatan pasien dan waktu tunggu yang lama. Meskipun sistem perawatan kesehatan universal patut dipuji, sistem ini berjuang melawan kekurangan personel perawatan kesehatan, peralatan medis, dan perlengkapan yang terus-menerus.
Situasi ini sering kali memaksa pasien untuk mencari perawatan di fasilitas perawatan kesehatan swasta, yang mungkin tidak terjangkau bagi semua orang. Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Global Health, sistem perawatan kesehatan Malaysia menghadapi tantangan seperti masyarakat yang menua, meningkatnya penyakit tidak menular, dan sistem perawatan kesehatan umum yang tegang.
Para pekerja layanan kesehatan telah menyuarakan isu sistemik yang mereka hadapi. Seorang dokter spesialis di rumah sakit pemerintah menyatakan kekhawatiran bahwa pemerintah tidak lagi mampu menyediakan layanan kesehatan bersubsidi besar-besaran, yang menyebabkan peningkatan tekanan pada sumber daya manusia dan waktu tunggu pasien yang lebih lama.
Situasi ini sering mendorong pasien beralih ke layanan kesehatan swasta, mengurangi beban perawatan kesehatan secara keseluruhan tetapi berpotensi mengorbankan kualitas perawatan.
Sebuah artikel di Jurnal Ilmu Kedokteran Malaysia membahas tantangan dalam sistem perawatan kesehatan Malaysia, termasuk tingginya konsentrasi praktik swasta di daerah perkotaan karena permintaan dari masyarakat kaya.

Pasien kerap tertunda jadwal pengobatannya
Layanan Memburuk
Pasien juga merasakan dampak dari tantangan ini. Waktu tunggu yang lama dan fasilitas yang penuh sesak dapat menunda penerimaan perawatan yang diperlukan, yang berpotensi memperburuk hasil kesehatan.
Kesenjangan antara layanan kesehatan publik dan swasta sering kali membuat pasien berada dalam posisi yang sulit, terutama mereka yang tidak mampu membayar perawatan swasta. Sebuah laporan oleh Ipsos menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan yang terus berlanjut seperti waktu tunggu yang lama, kurangnya staf yang memadai, dan biaya perawatan yang tinggi, kepercayaan masyarakat Malaysia terhadap kualitas sistem perawatan kesehatan mereka tetap tinggi.
Untuk mengatasi tantangan ini diperlukan reformasi kebijakan yang komprehensif. Pemerintah telah didesak untuk mempertimbangkan skema asuransi dan pembiayaan guna mereformasi sistem perawatan kesehatan dan perlindungan sosial Malaysia.
Namun, kepekaan politik dapat menghambat perubahan yang signifikan, yang menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih inklusif dan pluralistik terhadap reformasi perawatan kesehatan. Sebuah laporan oleh PwC menyoroti tantangan yang dihadapi sistem perawatan kesehatan Malaysia, termasuk masyarakat yang menua, meningkatnya penyakit tidak menular, dan sistem perawatan kesehatan publik yang tegang.
Masyarakat semakin menyadari tantangan sistem perawatan kesehatan. Diskusi di platform seperti Reddit mengungkap kekhawatiran tentang keberlanjutan sistem saat ini dan kesejahteraan pekerja perawatan kesehatan. Seorang pengguna mencatat bahwa selama masa puncak COVID, pekerja medis “stres, bekerja berlebihan,” yang menyebabkan beberapa dari mereka meninggalkan profesi tersebut sepenuhnya. Wawasan tersebut menyoroti perlunya perubahan sistemik untuk mendukung penyedia dan penerima layanan kesehatan.
Sebagai kesimpulan, sistem perawatan kesehatan Malaysia berada pada titik kritis. Mengatasi kepadatan pasien, mendukung staf medis, dan memastikan sumber daya yang memadai sangat penting untuk sistem perawatan kesehatan yang lebih tangguh dan adil.***











