Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, TEHRAN– Operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat memasuki fase paling menentukan setelah jet tempur Israel dilaporkan menjatuhkan sedikitnya 30 bom di kediaman Ali Khamenei, sebagaimana diungkap Wall Street Journal.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari strategi terpadu kedua negara untuk melumpuhkan jajaran tertinggi Republik Islam Iran secara serentak. Sumber intelijen menyebut, pengintaian telah dilakukan dalam waktu lama guna menunggu momen ketika para pemimpin politik dan militer Iran berkumpul dalam satu waktu.
Pada Sabtu, aparat intelijen dikabarkan berhasil mengidentifikasi tiga titik pertemuan penting, termasuk lokasi keberadaan Khamenei. Momentum tersebut dinilai sangat jarang terjadi, sehingga serangan diputuskan dilakukan pada siang hari.
Sumber Amerika menyatakan Donald Trump memerintahkan serangan segera setelah menerima laporan bahwa Iran tengah menyiapkan langkah terhadap target-target Amerika.
Operasi dimulai sekitar pukul 10 pagi waktu Iran dengan gelombang rudal besar yang diikuti pengerahan jet tempur. Hingga malam hari, sekitar 200 jet tempur Israel dilaporkan menghantam hampir 500 target di berbagai wilayah.
Militer Israel menyebutnya sebagai kampanye udara paling masif dalam sejarah negara itu. Trump meyakini laporan mengenai kematian Khamenei sebagai kebenaran dan menyebut operasi tersebut sebagai momen besar bagi Amerika dan dunia.
Ia juga menyatakan, “Sebagian besar pemimpin senior Iran telah tewas. Orang-masing yang membuat semua keputusan, sebagian besar dari mereka telah tiada,” ujarnya.
Saat ditanya ABC News mengenai kondisi para petinggi Iran lainnya, Trump menambahkan, “Banyak yang tewas, ya. Tapi kita tidak tahu semuanya, tapi banyak yang tewas. Itu adalah serangan yang sangat kuat.”
Di sisi lain, televisi pemerintah Iran dikabarkan mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyusul rentetan serangan udara yang menghantam Teheran dan sejumlah kota lain pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan kompleks kediaman Khamenei hancur total akibat gempuran udara. Ia menegaskan, “Semua indikasi menunjukkan bahwa dia ini tidak lagi bersama kita.”









