Penulis: Yoli Andi Purnomo | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, PASURUAN-Memiliki luas sekitar 194 hektar, danau Ranu Grati di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menyimpan keanekaragaman hayati yang melimpah. Salah satunya, ikan lempuk (Gobiopterus spp.) yang merupakan ikan endemik danau di kaki pegunungan Bromo Tengger Semeru ini.
Oleh sebagian masyarakat setempat, keberadaan ikan ini yang banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk berbagai macam produk olahan. Bahkan, beberapa marketplace juga banyak menyediakan aneka produk olahan ikan yang banyak memiliki kandungan gizi ini.
Sekilas, ikan lempuk ini memiliki bentuk seperti ikan wader yang jamak dijumpai di perairan air tawar. Ukurannya kecil dengan panjang maksimal sekitar 3 sentimeter. Perbedaan paling mencolong adalah tubuhnya yang transparan.
Peneliti ikan lempuk asal Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Faqih Abdurrahman menyebut, penampakan ikan lempuk terbilang unik dibanding jenis ikan air tawar lainnya. “Tubuhnya transparan sehingga organ dalam seperti jantung, ginjal, gelembung renang, pembuluh darah dan tulang belakang terlihat dari luar,” ujarnya.
Sayangnya, sebagai endemik Ranu Grati, keberadaan ikan lempuk terus mengalami berbagai tekanan. Mulai dari penangkapan berlebih, hingga aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu ekosistem danau. Sementara dalam waktu yang sama, riset mengenai teknik budidaya ikan ini juga belum banyak dilakukan.
Faqih mengakui, nama ikan lempuk belum begitu popular di kalangan masyarakat. Itu karena persebaran ikan ini belum banyak. Alasan itu pula yang menjadikan ikan ini relatif lebih mahal ketimbang jenis ikan perairan tawar lainnya. Seperti mujair, nila, atau juga lele.
Faqih merasa tertantang meneliti ikan ini. Sebab, selain bernilai ekonomi tinggi, banyak angapan bahwa ikan ini tidak dapat hidup di tempat lain. “Padahal, bila saja ini bisa dikembangkan, sangat mungkin untuk menjadi tambahan sumber penghasilan melalui perikanan budidaya,” terangnya.
Danau Ranu Grati memang tergolong unik. Itu karena danau yang berada sekitar 16 kilometer dari pusat kota Pasuruan ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik. Karena itu, kandungan mineral dan sulphur yang cukup tinggi. Bahkan, tingginya kandungan belerang itu pula yang kerap memicu kematian ikan-ikan di danau karena upwelling.
Dalam penelitiannya, Faqih berhasil melakukan domestifikasi di kolam percobaan yang ada di Malang. Bahkan, pertumbuhan gonat dari ikan lempuk yang diuji pun menunjukkan perkembangan positif. “Itu bararti setahap lagi sudah bisa menghasilkan telur untuk bereproduksi,” lanjutnya.
Selama ini, mahalnya ikan lempuk menjadikan ikan ini banyak diburu. Karena itu, bukan tidak mungkin bila eksploitasi berlangsung terus menerus tanpa diimbangi upaya konservasi justru akan mengancam masa depan ikan ini.
Ikan ini kaya protein, baik untuk ibu hamil dan perkembangan otak anak. Digoreng hingga kriuk, tidak terlalu berminyak, dan bebas bau amis. Bisa jadi teman makan nasi atau camilan sendiri.
Penopang Ekonomi
Ikan lempuk hingga kini masih menjadi kebanggaan masyarakat di sekitar Danau Ranu Grati, Kabupaten Pasuruan.
Ikan mini berukuran 3-4 sentimeter dan berwarna transparan ini terus dicari oleh warga karena selain harga per kilogramnya cukup mahal, juga dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan.
Salah satu nelayan sekitar, Yazir (52) mengaku membuat keramba bercukuran cukup besar dan khusus didesain untuk menangkap ikan lempuk.
Caranya pun bisa terbilang unik. Sebab ia harus memasang lampu tepat di atas keramba. Tujuannya tak lain untuk memikat ikan lempuk agar mendekat ke arah cahaya.
“Saya masang lampu mulai sore sampai keesokan hari karena ikan lempuk suka dengan sinar. Tapi biasanya 2 hari sekali baru saya ambil,” ungkap Yazir sembari memann hasil tangkapannya.
Hanya saja, soal jumlah ikan lempuk yang bisa dipanen, Yazir mengaku bahwa tak setiap panen menghasilkan banyak lempuk.
“Kadang banyak, kadang cuma dapat seperempat kilo,” singkatnya.
Sementara itu, Camat Grati, Nanang Muji Laksono menegaskan bahwa banyak masyarakat sekitar Danau Ranu yang menggantungkan hidupnya sebagai pencari ikan lempuk. Sebab harga per satu kilogramnya bisa mencapai Rp 35 ribu.
“Makanya banyak yang mencarinya,” ucapnya.
Setelah dijual, setiap warga banyak yang membuat olahan serba lempuk, seperti lempuk krispi, pelas lempuk, krupuk lempuk, sambal dan olahan lainnya.
“Pokoknya kalau penasaran, langsung datang saja ke Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan,” himbaunya.***










