Menu

Mode Gelap

Internasional

Qatar: Sang Pembakar sekaligus Petugas Pemadam Kebakaran

badge-check

Ilustrasi by Chatgpt

Terjemahan dari artikel asli: Qatar: The Arsonist and Firefighter

Oleh Jonathan Spyer

Qatar punya peran membingungkan sekaligus rumit dalam panggung diplomatik Timur Tengah yang kini menjadi sorotan. Menghadapi itu, Israel lalu menyerang ibu kota Doha, 9 September lalu. Tujuannya, menyasar para pemimpin Hamas yang bermarkas di sana sejak 2012.

Persoalannya, Qatar berperan penting dalam negosiasi penyelesaian konflik Israel-Hamas sekarang ini. Apalagi Qatar sudah bergabung dengan negara-negara Arab lain mendesak Hamas untuk menerima kesepakatan damai yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Emirat kecil kaya gas ini memproyeksikan dirinya melalui media sebagai sekutu bagi semua pihak, dan secara unik mampu menjadi penengah antara pemerintah dan musuh-musuh pemberontak mereka karena memelihara saluran komunikasi dengan semua pihak. Citra itu memicu keraguan yang meluas ketika Israel menargetkan para pemimpin Hamas di Doha.

Mengapa Israel melakukan aksi militer di tanah negara yang terlibat dalam mediasi? Bukankah ini bertentangan dengan tujuan utama Israel yang dinyatakan hendak mengamankan pembebasan sandera Israel yang tersisa yang kini berada di tangan Hamas?

Namun, jika ditelusuri lebih lanjut strategi regional dan pola perilaku Qatar, tindakan Israel menjadi lebih mudah dipahami.

Emirat Qatar menerapkan strategi regional yang unik, berlapis-lapis, dan canggih. Sayangnya, resolusi konflik dan pembangunan damai bukanlah dasar agendanya. Sebaliknya, ia menerapkan strategi untuk mendukung gerakan-gerakan Islam radikal pemberontak di Timur Tengah.

Qatar membantu gerakan-gerakan ini untuk mencapai tujuannya. Terutama Hamas. Selain itu, ia juga membantu Ikhwanul Muslimin di Mesir, organisasi Hayat Tahrir al-Sham di Suriah dan gerakan-gerakan serupa di Libya dan Yaman Kelompok-kelompok ini memiliki sejumlah kesamaan yang jelas: Semuanya berkomitmen pada versi Islam politik Sunni. Semuanya anti-demokrasi dengan ideologinya yang anti-Barat.

Qatar juga, melalui saluran satelitnya yang berpengaruh, Al-Jazeera, mendukung tema dan organisasi Islam radikal dan nasionalis Arab. Daya tarik Al-Jazeera yang luas—jaringan ini tersedia bagi 350 juta orang di lebih dari 150 negara—dan kendali penuh atas tema dan garis editorialnya oleh negara Qatar, menjadikannya senjata soft power bagi kepentingan Doha.

Logika ini mencapai puncaknya dalam pemberontakan rakyat bernuansa radikal pada periode “Musim Semi Arab” (2010-2015), ketika antusiasme Al-Jazeera dalam mengobarkan api pemberontakan berkonsekuensi nyata. Di Tunisia, Mesir, Suriah, Libya, dan Yaman, Al-Jazeera pertama kali meliput protes kemudian berfokus pada elemen-elemen Islam radikal di antara pengunjuk rasa, menggemakan agenda Negara Qatar dan membantu elemen serta gerakan Islam radikal mencapai posisi dominan.

Seorang analis menggambarkan saluran tersebut sebagai “jaringan ideologis dan komunikasi utama” bagi Ikhwanul Muslimin pada saat itu.

Kecemerlangan dan kehalusan strategi Qatar terletak pada dukungannya terhadap gerakan-gerakan ini, sekaligus manfaat dari hubungan dekatnya dengan Barat. Selain menjadi basis kepemimpinan Hamas dan Taliban, Qatar juga tuan rumah pangkalan udara AS terbesar di Timur Tengah, di Al Udeid, tempat sekitar 10.000 personel Angkatan Udara AS ditempatkan.

Doha, pun digambarkan sebagai kombinasi atribut “pembakar dan pemadam kebakaran.” Dalam posisi ini, ia berupaya memanfaatkan dukungannya terhadap musuh-musuh Barat untuk mendapatkan pengaruh yang lebih besar dan hubungan yang lebih baik dengan Barat sendiri. Hal ini terdengar paradoks, tetapi Qatar berhasil mewujudkannya.

Dalam praktiknya, pendekatan ini mengingatkan orang pada skema perlindungan tradisional. Pertama-tama ia membantu meningkatkan kapasitas aktor jahat. Sesudah itu, dia tawarkan bantuan dalam mediasi kepada sang aktor. Itulah sebabnya Qatar berperan sentral dalam kontak antara AS dan Taliban Afghanistan, yang berujung pada perjanjian Doha tahun 2020. Unsur permainan politik ini juga mendasari peran Qatar dalam mediasi antara Israel dan Hamas.

Patut dicatat bahwa negara-negara Teluk lain  mengambil pendekatan yang sangat bertolak belakang terhadap geopolitik kawasan.

Uni Emirat Arab, misalnya, memantapkan dirinya sebagai salah satu musuh paling canggih dan gigih terhadap gerakan dan tren Islam radikal (kecuali tren yang mengkhotbahkan kesetiaan kepada struktur kekuasaan yang ada).

UEA adalah penentang paling koheren dan gigih terhadap gerakan-gerakan yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin di seluruh kawasan—di Yaman, Suriah, Mesir, Libya, dan wilayah Palestina.

Pertanyaannya, apakah keuntungannya bagi Qatar ? Apa motivasinya murni utilitarian, atau adakah unsur komitmen ideologis atau agama yang tulus di baliknya?

Sebagai permulaan, Qatar menikmati pengaruh yang sangat besar hasil dari pendekatan ini. Mustahil misalnya, membayangkan Qatar berperan kunci dalam negosiasi Israel-Hamas tanpa hubungan dan dukungan Doha terhadap Hamas.

Patut dicatat juga bahwa identifikasi dan bantuan terhadap tren revolusioner di dunia Arab dan Islam, yang dalam banyak hal “memiliki simbol-simbol agama dan nasionalis yang kuat, membantu melegitimasi monarki Qatar yang sangat kaya, melindunginya dari segala kemungkinan tantangan dari dalam penduduknya sendiri.

Namun, aspek instrumental strategi Qatar seharusnya tidak mengarah pada kesimpulan bahwa motif Doha sepenuhnya sinis atau tidak punya keyakinan yang tulus. Qatar menawarkan perlindungan bagi para aktivis Ikhwanul Muslimin yang melarikan diri dari penindasan politik di Mesir dan Suriah sejak awal tahun 1950-an dan 1960-an.

Para individu ini, yang seringkali membawa keterampilan yang dibutuhkan oleh emirat tersebut, berintegrasi ke dalamnya dan membantu membentuk iklim budaya dan intelektualnya, menambahkan kecanggihan ide-ide Islam radikal yang lebih besar ke dalam atmosfer Islam ultrakonservatif yang ada di emirat tersebut. Dengan demikian berperan penting, khususnya di bidang pendidikan dan administrasi publik.

Ada elemen ketiga yang kurang terlihat dalam proyeksi kekuatan Qatar yang terletak dalam salah satu ladang gas alam terbesar dunia. Dengan memanfaatkan kekayaan luar biasa ini, Doha berinvestasi besar-besaran membangun lobi dan pengaruh di Barat.

Menurut sebuah studi terbaru, Qatar menghabiskan hampir $250 juta (setara Rp 4 Triliun) sejak 2016 untuk 88 firma lobi dan hubungan masyarakat yang terdaftar di FARA di AS. Upaya Qatar ini lintas partai. Studi tersebut mencatat bahwa “Tiga anggota kabinet dalam pemerintahan — Jaksa Agung Pam Bondi, Direktur FBI Kash Patel, dan Administrator EPA Lee Zeldin — semuanya sebelumnya pernah memegang posisi konsultan atau lobi atas nama Qatar.”

Bukti menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan kekayaan untuk mendapatkan pengaruh dalam sistem politik Barat juga terlihat di tempat lain, meskipun menelusuri jejak aktivitas tersebut tidaklah mudah. ​​Dalam kasus Israel, Yerusalem setuju pada periode pra-Oktober 2023 agar Qatar memasok $30 juta (setara 480 miliar) per bulan kepada Gaza yang dikuasai Hamas. Pada saat itu, lembaga politik dan keamanan Israel yakin bahwa Hamas telah tergoyahkan dan terutama berusaha mengkonsolidasikan kekuasaannya di Gaza.

Di Israel, sudah jadi rahasia umum bahwa sejumlah pejabat, setelah menyelesaikan masa jabatan mereka, mulai bekerja dengan perusahaan-perusahaan Qatar di bidang keamanan. Otoritas Israel saat ini sedang menyelidiki sejumlah mantan pejabat yang mereka curigai bekerja untuk memajukan kepentingan Qatar di Israel, setelah menjalin kontak dengan lembaga-lembaga Qatar selama masa jabatan mereka di pemerintahan.

Selain itu, berlangsung persidangan di Israel atas tiga mantan pejabat senior Biro Perdana Menteri yang dituduh melakukan berbagai pelanggaran terkait pekerjaan lobi mereka untuk Qatar, yang dilakukan bersamaan saat mereka dipekerjakan di posisi tertinggi dalam pembuatan kebijakan Israel.

Meski demikian, masih diselidiki kini, sejauh mana hubungan erat antara pejabat dan mantan pejabat Israel dengan Qatar yang membuat Qatar mampu menyebarkan pesan-pesan tertentu di kalangan elit dan publik Israel serta sejauh mana hal ini mungkin, sengaja maupun tidak sengaja, telah membantu menciptakan asumsi yang keliru dan tidak berdasar mengenai Hamas yang memungkinkan terjadinya pembantaian 7 Oktober 2023. Namun, realitas hubungan Qatar yang tak terhitung jumlahnya dengan kalangan elit Israel tampaknya tak terbantahkan.

Semua ini menyimpulkan bahwa Qatar dalam beberapa tahun terakhir telah membangun kekuatan dan pengaruhnya sendiri dengan mendukung organisasi-organisasi radikal yang melakukan kekerasan, mengobarkan ketidakstabilan melalui propaganda, memanfaatkan praktik-praktik ini untuk memengaruhi masyarakat dan negara-negara yang terdampak negatif, dan tampaknya merusak sistem politik demokratis dari dalam.

Serangan Israel pada 9 September di Doha tidak mengakhiri praktik-praktik tersebut. Bahkan mungkin tidak akan mengakhiri pengaruh jahat Qatar dalam dunia pembuat kebijakan Israel. Namun, serangan itu mungkin merupakan tindakan pertama setidaknya untuk sesaat oleh negara yang berpihak pada Barat yang mengakui peran Qatar, dan memilih untuk menolak asumsi-asumsi yang Qatar inginkan diterima oleh dunia demokratis. Dari sudut pandang ini, tindakan Qatar patut disambut baik. Semoga tindakan lebih lanjut akan menyusul, dan bukan hanya oleh Israel.***

 

  • Jonathan Spyer mengawasi konten Forum dan merupakan editor Middle East Quarterly. Sebagai jurnalis, melaporkan berita untuk Janes Intelligence Review, menulis kolom untuk Jerusalem Post, dan merupakan kontributor untuk Wall Street Journal dan The Australian. Ia sering melaporkan berita dari Suriah dan Irak. Ia meraih gelar Sarjana Seni (B.A.) Gelar Doktor diperolehnya dari London School of Economics.
Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Penculikan dan Pembunuhan Igor Kamarov, Polda Bali Tetapkan Enam Tersangka WNA yang Telah Melarikan Diri

3 Maret 2026 - 16:38 WIB

Departemen Perang AS Memutuskan Serang Iran Gunakan AI

3 Maret 2026 - 16:34 WIB

Dua Kapal Tanker Pertamina Terdampar di Teluk Persia

3 Maret 2026 - 16:03 WIB

Kanselir Jerman Friedrich Merz Geleng-geleng Kepala Saksikan Demo Robot Kungfu Buatan China

3 Maret 2026 - 15:27 WIB

Drone Iran Terjang Kilang Ras Tanura Arab Saudi Terbakar, Harga Minyak Naik 10 %

2 Maret 2026 - 22:32 WIB

Polisi Australia Pelaku Pelecehan Anak Dihukum 20 Tahun Penjara di Timor-Leste

2 Maret 2026 - 16:26 WIB

Tiongkok Sukses Transplantasi Paru-paru Babi ke Manusia

2 Maret 2026 - 15:57 WIB

Pasca Kematian Khamenei, Hindari Krisis Kepemimpinan, Iran Aktifkan Dewan Transisi Kekuasaan

1 Maret 2026 - 22:20 WIB

Jusuf Kalla Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran

1 Maret 2026 - 16:45 WIB

Trending di Headline