
Warga Palestina kembali ke rumah mereka di Khan Younis di Jalur Gaza selatan,
Terjemahan dari artikel asli: A Qatari Role in a Post-War Gaza Would Mean the Restoration of Hamas Powers
Oleh Benjamin Weinthal*
Dana yang diberikan Qatar kepada Hamas, sebuah organisasi yang ditetapkan AS sebagai organisasi teroris, merupakan prasyarat mutlak yang membuat kelompok terror itu mampu melakukan pembantaian mengerikan di Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Dengan demikian, serangan udara Israel pada 9 September 2025 terhadap para pemimpin Hamas di Qatar mengindikasikan bahwa para pemimpin Israel dan lembaga keamanan serta pertahanannya tahu bahwa Qatar mendanai aksi teror di Gaza.
Pemerintah Israel karena itu bersikeras bahwa rezim Qatar tidak boleh memiliki peran sama sekali dalam “masa setelah” perang Gaza berakhir. Sikap keras itu disampaikannya ketika menghadiri perundingan dengan Gedung Putih mengenai rencana dua puluh poin usulan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza, akhir September lalu.
Sikap keras Israel beralasan. Selama dekade terakhir menjelang pembantaian 7 Oktober 2023, rezim Qatar menggelontorkan setidaknya $2 miliar (setara Rp 32 triliun) ke kas Hamas. Dengan dana itu, Hamas membeli senjata dan membangun sistem terowongannya yang luas. Ketika perang meledak pecah, Israel berusaha menghancurkan lebih dari 490 Km terowongan teroris Hamas di Gaza.
Selama masa pemerintahan pertamanya, Trump pun menyadari ada bahaya yang ditimbulkan Qatar. Kesadaran itu pula yang mendorongnya mengatakan, “Qatar menjadi penyandang dana terorisme yang sangat penting.” Presiden Amerika itu lalu menegaskan bahwa “waktunya telah tiba untuk mendesak Qatar agar menghentikan pemberian dana … dan ideologi ekstremisnya.”
Pemerintahan Trump yang kedua lebih toleran terhadap Qatar. Washington malah menganjurkan agar Doha berperan merekonstruksi Jalur Gaza. Media Israel, Ynet, melaporkan Amerika Serikat dan Israel bahkan berkompromi dalam persoalan itu, meski kedua belah pihak tidak merinci kesepakatan mereka. Padahal, menerima kembali Qatar untuk memasuki Gaza berarti Israel justru memperkuat titik buta keamanan yang memungkinkan Hamas untuk menyerangnya.
Dukungan Qatar terhadap terorisme Hamas menjadi isu panas dalam politik Israel. Anggota Knesset dari Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya meloloskan undang-undang yang menetapkan Qatar sebagai “negara pendukung teroris.” Setelah serangan militer di Doha, Netanyahu menyatakan, “Saya katakan kepada Qatar, dan semua negara yang melindungi teroris, usir mereka atau bawa mereka ke pengadilan. Karena jika tidak, kami yang akan melakukannya.”
Pada akhir September, Nir Barkat, anggota Partai Likud dan Menteri Ekonomi dan Industri Israel pun mendukung RUU anti-Qatar yang diusulkan Knesset. Kepada surat kabar Jerman, Bild, dia menuding bahwa “Qatar adalah serigala berbulu domba” sekaligus “mesin antisemitisme terbesar di dunia.”
Serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap Hamas di Doha tidak mengubah perilaku rezim Qatar. Qatar belum mengusir para pemimpin teroris Hamas dari wilayahnya. Sebaliknya, mereka terus melanjutkan operasi soft power-nya di media untuk menghasut anti-Amerikanisme dan terorisme kaum penganut Islam radikal terhadap Israel. Pada akhir September, Jaber Salem Al Harmi, pemimpin redaksi media berita Al Sharq yang dikendalikan Pemerintah Qatar, menyebarkan video yang menggambarkan Trump sebagai iblis yang memegang garpu pembersih rumput. Menteri Pertahanan Qatar yang baru diangkat, Saoud bin Abdulrahman Al Thani, bahkan menulis twit menyatakan, “Kita semua adalah Hamas.”
Sejak Hamas melakukan pembantaian terhadap warga Israel 7 Oktober 2023, Qatar memastikan Hamas tetap bertahan sebagai sebuah gerakan. Rezim Qatar karena itu menolak mengutuk Hamas. Pasca-pembantaian satu hari yang dinilai terburuk terhadap orang Yahudi sejak Holocaust, para pemimpin Qatar malah menyalahkan Israel. “Kementerian Luar Negeri (Qatar) menganggap Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas eskalasi yang sedang berlangsung akibat pelanggaran yang terus-menerus dilakukannya terhadap hak-hak rakyat Palestina,” demikian pernyataan pemerintah Qatar pada hari yang sama.
Qatar memang berusaha menghentikan perang Hamas melawan Israel. Tetapi dalihnya beda. Dalihnya Adalah “mencegah peristiwa ini digunakan sebagai dalih untuk memicu perang asimetris baru terhadap warga sipil Palestina di Gaza.”
Penggunaan dana Qatar untuk membangun kembali Gaza dengan demikian dapat berarti material dan uang tunai disalurkan ke sisa-sisa Hamas dan Jihad Islam Palestina, dengan tujuan memungkinkan mereka membangun kembali organisasi teroris mereka.
Israel seharusnya tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan mempercayai Qatar atau, bahkan, rezim mana pun yang bertujuan memperluas ideologi Ikhwanul Muslimin.
- Benjamin Weinthal, M.Phil., adalah seorang jurnalis investigasi dan Penulis di Middle East Forum. Ia berbasis di Yerusalem dan meliput Timur Tengah untuk Fox News Digital dan Jerusalem Post. Tulisannya tersebar dalam berbagai media internasional. Tulisan ini diterjemahkan oleh Jacobus E. Lato











