Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

News

Beda Perlakukan dengan Polri, KSAL Minta Utang TNI Rp 5,45 Triliun ke Pertamina agar Diputihkan

badge-check


					Terungkap bahwa TNI AL saat ini punya tunggakan utang Rp 2,25  triliun dan membayar  Rp 3,2 triliun hingga total tunggakan TNI Al kepada Pertamina mencapai Rp 5,45 triliun. KSAL minta agar utang tersebut diputihkan. Tangkap layar Youtube@berita satu Perbesar

Terungkap bahwa TNI AL saat ini punya tunggakan utang Rp 2,25 triliun dan membayar Rp 3,2 triliun hingga total tunggakan TNI Al kepada Pertamina mencapai Rp 5,45 triliun. KSAL minta agar utang tersebut diputihkan. Tangkap layar Youtube@berita satu

Penulis: Yusran Hakim   |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- TNI Angkatan Laut (TNI AL) memiliki tunggakan utang pembayaran bahan bakar minyak (BBM) kepada PT Pertamina sebesar Rp 5,45 triliun. Kepala Staf TNI AL, Laksamana Muhammad Ali, mengungkapkan bahwa utang ini terdiri dari tunggakan sebelumnya sebesar Rp 2,25 triliun dan tagihan baru sebesar Rp 3,2 triliun.

Penyataan ini muncul pada 28 April 2025, pada saat Kepala Staf TNI AL, Laksamana Muhammad Ali, menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR RI di kompleks parlemen Jakarta bahwa utang tersebut sangat mengganggu operasional TNI AL.

Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan bahwa harga BBM untuk TNI AL masih dikenakan harga industri, berbeda dengan perlakuan yang diterima Polri. Ia mengusulkan agar BBM untuk kebutuhan kapal TNI AL diberi subsidi seperti yang berlaku untuk Polri. Ali menyampaikan hal ini dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR RI pada 28 April 2025

Utang ini sangat mengganggu operasional TNI AL, karena penggunaan BBM yang besar, termasuk kebutuhan bahan bakar saat kapal dalam posisi bersandar untuk menjaga peralatan elektronik tetap hidup.

TNI AL meminta agar utang tersebut diputihkan atau dihapuskan. Selain itu, KSAL juga mengusulkan agar harga pembelian BBM untuk TNI AL tidak lagi menggunakan harga industri, melainkan dialihkan menjadi harga subsidi seperti yang diterapkan pada Polri. Ia juga berharap pengelolaan bahan bakar untuk operasional TNI dapat diatur secara terpusat oleh Kementerian Pertahanan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pihaknya sedang mengkaji permintaan TNI AL tersebut, namun belum memastikan apakah pemutihan utang akan disetujui karena perlu kajian lebih lanjut.

Singkatnya, TNI AL punya utang BBM ke Pertamina sebesar Rp 5,45 triliun dan telah mengajukan permohonan agar utang tersebut diputihkan, sementara pemerintah masih dalam proses kajian terkait permintaan ini.

Menumpuk

Selama bertahun-tahun, TNI AL menumpuk utang pembayaran bahan bakar minyak (BBM) kepada Pertamina yang terus meningkat. Pada tahun 2006, utang TNI kepada Pertamina sudah mencapai Rp 1 triliun dan terus bertambah hingga mencapai Rp 7 triliun pada 2009, serta Rp 10 triliun pada 2017.

Pada Desember 2019, Pertamina dan Kementerian Pertahanan menandatangani nota kesepahaman untuk pengadaan bahan bakar dan pelumas bagi TNI agar kebutuhan operasional dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Namun, hingga April 2025, TNI AL masih memiliki tunggakan utang BBM sebesar Rp 3,2 triliun, yang merupakan akumulasi dari tunggakan sebelumnya sebesar Rp 2,25 triliun, sehingga totalnya mencapai sekitar Rp 5,45 triliun.

Ia meminta agar tunggakan utang BBM tersebut diputihkan atau dihapuskan. Selain itu, ia mengusulkan agar harga BBM untuk TNI AL dialihkan dari harga industri menjadi harga subsidi seperti Polri, dan pengelolaan bahan bakar diatur secara terpusat oleh Kementerian Pertahanan.

Permintaan pemutihan utang ini sedang dikaji oleh pemerintah dan Pertamina, namun belum ada keputusan final terkait penghapusan utang tersebut.

Singkatnya, utang TNI AL kepada Pertamina menumpuk selama hampir dua dekade dan mencapai triliunan rupiah, hingga akhirnya pada April 2025 KSAL secara resmi meminta agar utang itu diputihkan demi kelancaran operasional TNI AL. **

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Jadi Tersangka Kasus Pembakaran Santri, Ahmad Muzzaki Ajukan Praperdilan Polres Lombok Timur

14 Juli 2026 - 19:32 WIB

Pengacara Don Ritto Buka Suara: Uang Yang Disita Polisi untuk Bangun Pelabuhan

14 Juli 2026 - 18:11 WIB

Datangi Kejaksaan Agung, Tim Penyidik Polri Serahkan Bukti Dokumentasi Administrasi Kasus Febrie Adriansyah

14 Juli 2026 - 17:09 WIB

Bupati Warsubi Terima KKN 1.225 Mahasiswa UPN, Acara Digelar di Lokasi TPA Banjardowo

14 Juli 2026 - 12:18 WIB

Bupati Gresik Pulangkan.Puluhan Anak Pekerja Migran di Malaysia

14 Juli 2026 - 10:52 WIB

Gunakan Rudal Jenis Baru, Iran Serang Sasaran Strategis AS di Kuwait, Oman, Bahrain, Arab Saudi dan Yordania

14 Juli 2026 - 10:19 WIB

Babak Baru Kasus Penipuan PPPK Pemkab Gresik, Staf Dinas PMD Jadi Tersangka

14 Juli 2026 - 09:54 WIB

DPR RI Bahas Kasus Pembakaran 3 Santri di Lombok: Tiga Hari Wajib Tentukan Status Hukum Pemilik Yayasan

14 Juli 2026 - 09:35 WIB

Rudal dan Drone Houthi Hantam Bandara Abha Arab Saudi, Tujuh Korban Luka luka

14 Juli 2026 - 08:28 WIB

Trending di News