Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Perang Dagang Semakin Nyata, Tiongkok Kembalikan Dua Unit Pesawat Boeing 737 MAX ke Amerika

badge-check


					Pesawat jenis Boeing 737 MAX, buatan Boeing. Instagram@boeing737fanpage Perbesar

Pesawat jenis Boeing 737 MAX, buatan Boeing. Instagram@boeing737fanpage

Penulis: Jacobus E. Lato  |   Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWWS.COM, BEIJING- Maskapai Tiongkok, khususnya Xiamen Airlines, mengembalikan pesawat Boeing 737 MAX ke Amerika Serikat sebagai dampak dari perang dagang antara China dan AS yang memanas.

Pesawat tersebut semula berada di pusat penyelesaian Boeing di Zhoushan, China, untuk pekerjaan akhir dan pengiriman ke maskapai, namun kemudian diterbangkan kembali ke fasilitas produksi Boeing di Seattle, AS.

Pengembalian ini terkait dengan kenaikan tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang menaikkan tarif impor dari China hingga 145%. Sebagai balasan, China juga memberlakukan tarif tinggi sekitar 125% untuk barang-barang asal AS, termasuk pesawat Boeing.

Tarif tinggi ini membuat biaya pengiriman pesawat menjadi sangat mahal sehingga maskapai China memilih mengembalikan pesawat daripada membayar bea masuk yang tinggi. Harga satu unit Boeing 737 MAX diperkirakan sekitar 55 juta dolar AS (sekitar Rp 930 miliar).

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Boeing maupun Xiamen Airlines mengenai siapa yang mengambil keputusan pengembalian pesawat tersebut. Namun, fenomena ini menjadi tanda terbaru dari terganggunya pengiriman pesawat akibat perang tarif yang mengakhiri status bebas bea industri kedirgantaraan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Singkatnya, pengembalian pesawat Boeing 737 MAX dari Tiongkok ke AS merupakan dampak langsung dari perang dagang dan kenaikan tarif impor yang membuat pengiriman pesawat menjadi tidak ekonomis bagi maskapai China.

Setidaknya dua unit pesawat Boeing 737 MAX telah dikembalikan dari China ke Amerika Serikat. Data pelacakan penerbangan dan laporan saksi mata menunjukkan bahwa dua pesawat yang baru selesai diproduksi dan dicat di fasilitas Boeing di Zhoushan, China, telah diterbangkan kembali ke AS sebagai dampak dari perang dagang dan penolakan maskapai-maskapai China terhadap pengiriman pesawat Boeing baru.

Salah satu pesawat yang dikembalikan tersebut adalah milik maskapai Xiamen Airlines, yang tiba di Boeing Field di Seattle pada 20 April 2025 setelah singgah untuk pengisian bahan bakar di Guam dan Hawaii dalam perjalanan pulang sejauh 5.000 mil.

Belum ada laporan resmi mengenai jumlah total pesawat yang dikembalikan, namun sumber industri menyebutkan minimal dua unit sudah dipulangkan ke AS akibat tarif impor yang tinggi dan ketegangan perdagangan antara kedua negara. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dari Matras Kamar Sempit hingga Raksasa Teknologi: Kisah Ren Zhengfei Membangun Huawei Lewat Badai Krisis

10 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Dari Inggris hingga Singapura, Penolakan Gugatan Ijazah Wapres Jadi Perhatian

7 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Christa Pike Dua Kali Diinjeksi Mati, Namun Tetap Hidup

2 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Drama Berdarah di Balik Kokpit Flydubai Tujuan Israel 

1 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Kemenpar- KJRI Dukung Rute Baru Hong Kong-Surabaya

29 September 2026 - 20:48 WIB

Kian Liar, AI Gemini Bobol 3 Perusahaan Nyata Saat Uji Coba Keamanan

21 September 2026 - 18:49 WIB

Setiap Ketukan “Prompt” AI Diam-Diam Menguras Listrik Jepang dan Air Afrika

20 September 2026 - 17:38 WIB

“Cium” Asisten Cantik di Lapangan Golf, Trump Gemparkan Netizen

17 September 2026 - 16:00 WIB

Raja Thailand Terbangkan Sendiri Pesawat Boeing 737 -800

15 September 2026 - 17:27 WIB

Trending di Internasional