Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, TEHRAN-Berdasarkan sejumlah laporan media internasional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk sementara menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Dalam 48 jam terakhir, kedua pemimpin disebut telah melakukan komunikasi intensif melalui sambungan telepon sebanyak dua kali. Pembicaraan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aksi kekerasan terhadap para demonstran di berbagai wilayah Iran.
Laporan Axios dan The New York Times, yang mengutip pejabat senior Amerika Serikat dan Israel, menyebut Netanyahu pertama kali menghubungi Trump pada Rabu dan kembali menelepon pada Kamis malam. Dalam percakapan awal, Netanyahu meminta agar Trump menunda langkah militer terhadap Iran.
Permintaan itu dimaksudkan untuk memberi waktu bagi Israel mempersiapkan sistem pertahanannya, terutama jika Iran melancarkan serangan balasan. Permohonan tersebut disebut ikut memengaruhi keputusan Trump untuk tidak segera melakukan aksi militer.
“Tidak ada yang meyakinkan saya. Saya sampai pada kesimpulan itu sendiri,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih pada Jumat.
Trump menambahkan bahwa laporan mengenai Iran yang membatalkan hukuman mati terhadap lebih dari 800 orang menjadi salah satu faktor penting dalam pertimbangannya.
Sementara itu, Direktur Mossad David Barnea dilaporkan tiba di Amerika Serikat pada Jumat untuk membahas situasi Iran. Ia dijadwalkan bertemu dengan utusan Gedung Putih Steve Witkoff di Miami, meski belum ada kepastian apakah ia juga akan menemui Trump di kediamannya di Mar-a-Lago.
Gelombang kekerasan di Iran terus menuai kecaman internasional. Sebuah lembaga hak asasi manusia yang berbasis di Norwegia melaporkan telah memverifikasi kematian 3.428 demonstran.
Namun, lembaga tersebut memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar karena pemutusan akses internet sejak 8 Januari. Media Iran International bahkan mengutip sumber yang memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 12.000 orang.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Kamis menyatakan bahwa Teheran menghentikan rencana eksekusi terhadap sekitar 800 orang setelah adanya peringatan dari Trump.
Meski demikian, para pengamat menilai Iran jarang menjatuhkan hukuman mati secara terbuka dengan alasan aksi protes. Otoritas biasanya mengubah status para demonstran menjadi “perusuh”, “pengacau”, atau “teroris” agar memungkinkan penerapan hukuman yang lebih berat.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Israel menilai bahwa meskipun situasi saat ini relatif tenang, potensi serangan Amerika Serikat masih terbuka dalam beberapa hari ke depan.
Laporan CNN menyebutkan sistem pertahanan Israel masih berada dalam kondisi kelelahan setelah konflik selama 12 hari melawan Iran pada Juni lalu, sehingga berpotensi memperumit situasi jika eskalasi kembali terjadi.***











