Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, LONDON– Simon Garfield, dalam bukunya *Just My Type: A Book About Fonts*, menyampaikan pesan mendasar: font bukan sekadar kumpulan huruf belaka. Mereka adalah entitas yang memiliki kepribadian kuat dan kekuatan luar biasa untuk membentuk persepsi serta emosi kita. Garfield menunjukkan dengan cerdas bagaimana setiap jenis huruf membawa muatan emosional dan makna tersendiri, jauh melampaui bentuk visualnya semata.
1. Menyampaikan Perasaan dan Kesan Instan
Begitu melihat sebuah font, otak kita secara instan memprosesnya dan memicu respons emosional. Perhatikan beberapa contoh:
– Times New Roman: Mengkomunikasikan formalitas, otoritas, dan tradisi. Penggunaannya yang lazim di koran dan dokumen akademik menciptakan kesan serius dan kredibel. Bayangkan undangan pernikahan menggunakan font ini nuansanya pasti sangat formal.
– Comic Sans: Sering dianggap santai, kekanak-kanakan, bahkan tidak profesional. Meski banyak dikritik, kepribadiannya yang ceria justru efektif untuk komik atau materi anak-anak. Namun, penggunaannya di CV atau presentasi bisnis jelas menimbulkan kesan keliru.
– Helvetica: Memancarkan kesederhanaan, kejelasan, dan universalitas. Aura modernitas, efisiensi, dan keandalannya menjadikannya pilihan utama perusahaan besar dan sistem transportasi publik – ia mewakili fungsionalitas dan keterbacaan tinggi.
2. Membangun dan Merusak Identitas Merek
Pemilihan font adalah fondasi identitas merek. Font yang tepat mampu memperkuat pesan, sementara yang salah dapat meruntuhkan citra secara fundamental.
– Coca-Cola: Logo klasiknya menggunakan font skrip yang mengalir, menciptakan nuansa nostalgia dan kehangatan yang selaras sempurna dengan citra mereknya.
– Rolex: Bayangkan jika jam tangan mewahnya menggunakan font graffiti. Kesan kemewahan, presisi, dan keanggunan yang dibangun puluhan tahun akan hancur seketika. Font elegan dan terstruktur yang mereka gunakan justru memperkuat citra premiumnya.
3. Memengaruhi Kredibilitas dan Tingkat Kepercayaan
Garfield mengeksplorasi bagaimana font memengaruhi sejauh mana kita mempercayai suatu informasi atau institusi.
– Font Serif (e.g., Georgia, Baskerville): Sering dianggap lebih “terpercaya” dan “akademis” karena asosiasinya dengan buku cetak dan surat kabar tradisional.
– Dokumen Resmi: Dalam ranah politik atau hukum, pemilihan font yang terlihat “murahan” atau tidak serius dapat merusak kredibilitas dan legitimasi dokumen tersebut.
4. Lebih dari Sekadar Estetika: Sebuah Keputusan Psikologis
Just My Type mengajarkan bahwa memilih font bukanlah sekadar preferensi estetika pribadi. Ini adalah keputusan strategis yang berakar pada pemahaman mendalam tentang psikologi visual dan cara manusia berinteraksi dengan teks. Setiap lekukan, ketebalan garis, dan ruang antar huruf berkontribusi pada narasi besar yang disampaikan oleh sebuah font.
Sejarah Singkat Jenis Huruf Populer
Times New Roman
Diciptakan tahun 1931 oleh Stanley Morison dan Victor Lardent untuk surat kabar *The Times* di London. Tujuannya menggantikan huruf lama yang kurang efisien dan sulit dibaca. Debutnya pada 3 Oktober 1932 di *The Times*, dan setahun kemudian tersedia secara komersial. Sebagai huruf serif, desainnya terinspirasi Plantin namun lebih padat dan berkontras tinggi untuk meningkatkan keterbacaan serta efisiensi ruang cetak.
Arial
Didesain tahun 1982 oleh Robin Nicholas dan Patricia Saunders di Monotype. Awalnya digunakan sebagai pengganti Helvetica untuk printer laser IBM, terutama karena lisensi Helvetica yang terbatas. Karakteristiknya sebagai huruf sans-serif fokus pada kompatibilitas tinggi dan efisiensi cetak, menjadikannya alternatif Helvetica yang mudah diakses.
Calibri
Diciptakan antara 2002-2004 oleh Luc(as) de Groot. Dirilis tahun 2006 bersama Windows Vista dan menjadi huruf *default* Microsoft Office 2007, menggantikan Times New Roman dan Arial. Sebagai huruf sans-serif bergaya humanist, Calibri memiliki bentuk lembut dan bulat, dirancang khusus untuk keterbacaan optimal di layar dengan memanfaatkan teknologi ClearType Microsoft.