Menu

Mode Gelap

Nasional

Ratu Elizabeth II Selamatkan Nyawa Soebandrio dari Hukuman Mati

badge-check


					Ratu Elizabeth II Perbesar

Ratu Elizabeth II

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Ini kisah Soebandrio seorang dokter bedah yang kemudian menjadi politikus. Pada awal kemerdekaan, dia menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Sutan Sjahrir. Untuk mencari pengakuan internasional kepada Republik Indonesia, Soebandrio ditugaskan ke Inggris. Dia mengaku mendapat tugas itu dari Presiden Sukarno.

“Sebelum berangkat ke London, saya was-was. Tetapi setelah di Inggris, keberadaan saya ternyata diterima oleh pemerintah Inggris. Memang tidak ada penyambutan saat saya datang,” kata Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G30S.

Sumber lain menyebut Soebandrio ditugaskan ke Inggris oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Adam Malik dalam Mengabdi Republik Jilid II Angkatan 1945 menyebut Soebandrio sebagai tangan kanan Sutan Sjahrir –ada yang menyebut sekretaris pribadi. Mohammad Natsir meminta izin kepada Sjahrir untuk mengangkat Soebandrio sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan sewaktu Natsir menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Sutan Sjahrir I.

Namun, Sjahrir kemudian menarik Soebandrio dari kedudukannya sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan untuk ditempatkan di luar negeri.

“Demi kelangsungan diplomasinya dengan Inggris, Sutan Sjahrir mengangkat Soebandrio sebagai wakil pemerintahnya di London pada akhir tahun 1946,” kata Adam Malik. Tetapi, karena waktu itu Inggris belum mengakui kedaulatan Indonesia secara de jure, maka Soebandrio hanya diperbolehkan melakukan kegiatan di London sebagai Juru Penerang Indonesia dan diizinkan oleh Perdana Menteri Attlee membuka kantor penerangan di London.

Soebandrio memilih dua orang Inggris sebagai pembantunya. Kedua orang ini sudah dikenalnya karena pernah bertugas sebagai intelijen militer di Indonesia. “Mereka inilah Tom Atkinson dan Peter Humphries yang waktu itu sudah menyelesaikan tugas kemiliteran mereka,” kata Adam Malik.

Kantor perwakilan Indonesia yang dibuka Soebandrio kemudian menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Sebagai Duta Besar Republik Indonesia pertama untuk Inggris, Soebandrio sering menghadiri undangan acara Kerajaan Inggris, di mana dia bertemu dengan Ratu Elizabeth II yang bertakhta sejak tahun 1952.

Soebandrio bertugas di Inggris sekitar sembilan tahun. Dua tahun terakhir pada masa Ratu Elizabeth II berkuasa. Pada 1954, dia ditempatkan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet di Moskow.

Setelah selesai menjadi Duta Besar di Uni Soviet, Soebandrio menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dan sejak 1957 menjadi Menteri Luar Negeri. Dia kemudian menjadi orang kepercayaan Sukarno dengan merangkap tiga jabatan: Menteri Luar Negeri, Wakil Perdana Menteri I, dan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI).

dr Soebandrio

Sebagai Kepala BPI, Soebandrio membawa alat canggih buatan Inggris masuk ke Indonesia untuk kemajuan intelijen Indonesia. Itu terjadi sebelum dia merilis Dokumen Gillchrist yang digunakan sebagai argumen keterlibatan Amerika Serikat dan Inggris dalam menggulingkan Sukarno.

Kejayaan Soebandrio berakhir setelah peristiwa G30S. Dia diadili dan divonis mati oleh Mahmilub. Dia menjalani hukuman awal di Penjara Cimahi, Bandung. Di sini dia bertemu Letnan Kolonel Untung Sjamsuri yang juga dihukum mati.

“Sampai suatu hari di akhir 1966 Untung dijemput dari selnya oleh beberapa sipir. Diberitahukan bahwa Untung akan dieksekusi. Itulah saat-saat terakhir Untung menjalani hidupnya,” kata Soebandrio.

“Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita ketemu lagi di sana,” kata Untung sambil menunjuk ke atas.

“Terus terang, setelah Untung dieksekusi, saya benar-benar gelisah. Manusia mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah ditentukan,” kata Subandrio.

Soebandrio diberi tahu petugas bahwa dia juga akan ditembak mati pada giliran berikutnya. Namun, keajaiban datang. Dia tidak jadi dieksekusi mati. Mahmilub mengubah hukumannya menjadi seumur hidup. “Presiden AS Lyndon B. Johnson dan Ratu Inggris Elizabeth II tidak menyetujui hukuman mati bagi saya. Syukur Alhamdulillah, saya masih hidup,” kata Soebandrio.

Soebandrio merasa bersyukur karena pada awal kariernya dalam pemerintahan ditempatkan sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris. “Saat itu tidak terbayangkan oleh saya bahwa berdekatan dengan Ratu Elizabeth II kelak bisa menyelamatkan nyawa saya dari eksekusi hukuman mati yang tinggal menunggu hari,” kata Soebandrio.

Setelah menjalani penjara selama 30 tahun, Soebandrio dibebaskan pada 1995 karena alasan kesehatan. Dia meninggal dunia pada 3 Juli 2004.

Elizabeth II bersama Pangeran Philip tercatat hanya sekali mengunjungi Indonesia, tepatnya pada 1974, konon atas permintaan Ibu Tien Soeharto. Kunjungan yang berlangsung selama 15-22 Maret 1974 begitu istimewa karena ratu memenuhi undangan bertolak menggunakan kapal pesiar kerajaan dan pesawat udara.***

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ritel Keluhkan Impor Barang Telat Datang: Momentum Lebaran Hilang

6 Maret 2026 - 21:48 WIB

Jelang Lebaran, Permintaan Kredit Mobil Bekas Multifinance Makin Kencang

6 Maret 2026 - 21:40 WIB

Mal Geber Diskon 70-80%, Target Transaksi Tembus Rp 53 T

6 Maret 2026 - 21:29 WIB

Bapanas Awasi Ketat Harga Daging dan Minyak Goreng di Ramadan 1447 H

5 Maret 2026 - 15:06 WIB

Lebaran 2026: Skema One Way Tol Trans-Jawa Resmi Diberlakukan

5 Maret 2026 - 14:55 WIB

Harga Energi Melonjak, Sektor Perumahan Indonesia Tertekan

5 Maret 2026 - 14:45 WIB

Fadia Arafiq Keruk Uang APBD Pekalongan Rp 46 M, Menangkan Proyek untuk PT Miliknya Sendiri

4 Maret 2026 - 19:06 WIB

Mudik Motor Gratis Naik Kereta, Begini Cara Ikut Program MOTIS 2026

4 Maret 2026 - 14:44 WIB

48 Ribu Jemaah Umrah Indonesia Tertahan di Saudi

4 Maret 2026 - 14:26 WIB

Trending di Nasional