Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, AMERIKA– Operasi militer Amerika Serikat di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro langsung memicu gelombang kecaman internasional, dari Havana hingga Moskow, yang menuding Washington melakukan agresi bersenjata demi menguasai minyak negara Amerika Latin itu.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyebut aksi AS sebagai “serangan kriminal” dan “terorisme negara”, serta menyerukan respons mendesak dari komunitas internasional atas intervensi tersebut.
Dalam unggahannya di platform X, Díaz-Canel menulis: “Kuba mengecam serangan kriminal oleh AS terhadap Venezuela.” Ia menggambarkan aksi itu sebagai “terorisme negara terhadap rakyat Venezuela yang pemberani dan terhadap Amerika Kita (Our America)”, sekaligus memperingatkan bahwa kedaulatan kawasan sedang diinjak.
Díaz-Canel menyoroti bahwa “zona perdamaian” di kawasan Amerika Latin kini “diserang secara brutal”, menekankan pelanggaran kedaulatan dan eskalasi geopolitik di wilayah tersebut. Sejumlah laporan menyebut ia juga membandingkan operasi AS ini dengan genosida Israel di Gaza, sebagai sinyal solidaritas kuat Kuba terhadap Venezuela.
Presiden Chile Gabriel Boric menyatakan keprihatinan atas kekerasan militer AS, menegaskan bahwa krisis Venezuela harus diselesaikan melalui dialog dan hukum internasional, bukan intervensi asing. Rusia juga mengutuk tindakan tersebut sebagai agresi bersenjata, menyerukan dialog politik dan menegaskan solidaritas dengan Venezuela.
Sejumlah analis internasional yang dikutip berbagai media menyoroti pelanggaran kedaulatan negara oleh AS, meski belum muncul kutipan bernada sarkastis yang benar-benar viral dari pengamat terkemuka.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyampaikan pidato singkat di Mar-a-Lago, Florida, pada 3 Januari 2026, mengonfirmasi penangkapan Nicolas Maduro dan mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih pengelolaan sementara Venezuela.
Ia menyebut operasi militer tersebut “sukses” dan menggambarkannya sebagai langkah menuju transisi kekuasaan yang aman, dengan fokus utama pada sektor energi. “Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Maduro bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke AS.
Secara terbuka Trump menyatakan, “Amerika Serikat akan ‘mengelola’ negara itu sampai transisi kekuasaan yang aman, adil, dan solid dapat diatur. Kita akan menjalankan roda pemerintahan negara ini dengan benar,” sambil menyoroti pentingnya minyak Venezuela agar “kembali mengalir sebagaimana mestinya” dan “menghasilkan uang untuk negara ini.”
Trump menekankan rencana investasi miliaran dolar dari perusahaan minyak AS untuk rekonstruksi infrastruktur energi Venezuela, yang memiliki cadangan sekitar 303 miliar barel. “Ini tidak akan merugikan kita,” katanya, dengan argumentasi bahwa AS akan menguasai minyak dan menstabilkan ekonomi Venezuela pasca-rezim Maduro.
Pidato tersebut disiarkan melalui Truth Social dan konferensi pers, memicu kecaman keras dari Caracas serta berbagai negara lain.
Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak terbukti sekitar 303 miliar barel, terbesar di dunia menurut US Energy Information Administration (EIA). Dengan harga minyak terkini di kisaran 57–61 dolar AS per barel, nilai teoritis maksimum cadangan itu berada di sekitar 17–18 triliun dolar AS.
Menggunakan nilai tukar sekitar Rp16.650 per dolar AS pada awal 2026, angka tersebut setara dengan kurang lebih Rp283 kuadriliun rupiah, meski ini hanya perhitungan kasar berbasis harga pasar saat ini. Produksi harian Venezuela saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari, jauh di bawah potensinya akibat infrastruktur rusak dan sanksi berkepanjangan.
Berbagai estimasi menyebut peningkatan signifikan produksi minyak Venezuela akan membutuhkan investasi puluhan miliar dolar selama bertahun-tahun, sejalan dengan klaim Trump soal masuknya modal besar perusahaan energi AS.
Harga minyak global yang fluktuatif di kisaran 56–61 dolar AS per barel pada akhir 2025 hingga awal 2026 juga dikaitkan dengan ketegangan geopolitik imbas operasi militer AS ke Venezuela.
Data resmi dari EIA, BP Statistical Review of World Energy, dan OPEC relatif konsisten menempatkan cadangan minyak mentah terbukti Venezuela di angka sekitar 303 miliar barel pada periode 2022–2025, sekaligus mengukuhkan statusnya sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Meski demikian, nilai teoritis cadangan tersebut “hanya” sekitar 17–18 triliun dolar AS pada harga 2026, bukan angka hiperbola sebagaimana klaim viral yang beredar sebelumnya. Trump menonjolkan potensi inilah sebagai salah satu alasan utama investasi dan keterlibatan AS pasca-penangkapan Maduro. **






