Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA– General Manajer PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan, Mochammad Soleh, mendorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi PLN (ITPLN) untuk berperan aktif dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) perdana di Indonesia.
“ITS sebagai salah satu fondasi penting teknologi di Indonesia. Dengan kekuatan teknologinya yang banyak dapat dikembangkan di ITS,” ujar Soleh di Surabaya, Jumat.
Pemerintah menargetkan operasional PLTN pertama pada 2032 sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dua lokasi yang diproyeksikan menjadi tapak PLTN berada di Sumatera dan Kalimantan, masing-masing dengan kapasitas hingga 250 megawatt.
Soleh menjelaskan, setiap unit pembangkit membutuhkan sekitar 200 tenaga kerja operasional dan pendukung. Dengan dua pembangkit, kebutuhan sumber daya manusia diperkirakan mencapai ratusan orang.
“Mungkin total sampai dengan tenaga pendukungnya kita butuh sampai seribu orang yang siap mengoperasikan dan mendukung operasional PLTN-nya. Kan tidak hanya operatornya, tapi juga penyedia jasa pendukung lainnya,” katanya.
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Agus Muhamad Hatta, menilai Indonesia memiliki modal untuk mengadopsi teknologi PLTN yang telah diterapkan secara aman di sejumlah negara. Ia menyebut pengalaman global tersebut dapat menjadi rujukan penting bagi Indonesia.
Menurut Agus, pengembangan PLTN menuntut keterlibatan talenta terbaik dari berbagai bidang keilmuan. ITS, kata dia, siap mendukung melalui beragam program studi seperti teknik elektro, teknik mesin, teknik fisika, hingga Rekayasa Keselamatan Proses.
“Tentu ke depan core teknik nuklir ini juga perlu agar bagaimana riset nuklir ini yang sudah ada bisa dikembangkan, bisa diadaptasi, bahkan dimungkinkan ada temuan-temuan pembangkit nuklir yang inovatif versi Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, menekankan pentingnya sinergi antara PLN dan perguruan tinggi agar pemanfaatan PLTN sebagai bagian dari transisi energi dapat optimal. Ia menilai energi nuklir berpotensi menjadi alternatif untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
“PLTN nanti mau bangun keamanan yang baseload, istilahnya menggantikan PLT Batu Bara. Sudah andal, bersih, dan harapan kita murah, karena sumber daya bahan bakarnya ada di dalam negeri,” ujar Ahsin.***






